Tampilkan postingan dengan label Pernikahanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahanku. Tampilkan semua postingan

Update Status

Saya pribadi menggunakan jasa sosial media, terutama Facebook, untuk berkomunikasi dengan suami jika beliau kebetulan sedang berada diluar Indonesia. Saya memang nggak mewajibkan beliau memberi kabar kepada saya setiap saat karena saya tahu betul bagaimana pekerjaannya. Beliau biasanya mengupdate kegiatannya melalui tulisan atau foto sehingga saya bisa memantaunya darisana. Meskipun saya akui komunikasi akan tersendat jika menggunakan pola seperti ini. Bagaimanapun juga komunikasi tatap muka akan jauh lebih berkualitas dibandingan melalui layar monitor.

Aturan update status nggak berlaku jika suami berada didalam negeri. Meskipun saya nggak mewajibkan sistem "wajib lapor" tapi saya ingin jadi orang pertama yang tahu kegiatannya, ya minimal kedua lah setelah ibu mertua hehe. Saya bisa marah kalau seharian nggak kasih kabar tapi malah aktif update status di sosial media. Suka kaget begitu lama nggak kasih kabar eh tahu-tahu sudah di bandara, misalnya. Duh, rasanya jadi kurang spesial begitu.

Sebetulnya saya pun bukan tipikal "laporan" tapi ya karena tahu rasanya nggak dikabarin itu nggak enak jadi saya usahakan untuk memberi tahunya terlebih dulu. Misal, "aku otw pulang", "aku maksi sama mas xxx dulu.." atau "udah dibandara, take off bentar lagi, pake AirAsia" begitupun sudah cukup buat saya.

Enaknya jaman sekarang itu komunikasi begitu gampang dijangkau. Nggak bisa plan A ya pakai plan B, atau masih tersisa sampai plan Z. Tinggal disesuaikan saja dengan kenyamanan kita dan pasangan, jarak, efisiensi dan juga biaya.

Semarang, 5 Desember 2015

Seiring Senada

Semenjak aku pertama menerimamu menjadi orang yang paling kukasihi, aku menaruh harap  akan menjadi orang yang paling kau kasihi.

Menjadi orang yang pertama kali kau lihat begitu pagi datang dan terakhir kau lihat menjelang tidur.

Menjadi orang yang pertama mendengar semua ceritamu, ceritaku.

Menjadi satu-satunya rumah bagimu, bagiku.

Semarang, menjelang Senin medio November.

Melihatmu, melihatku akan mengingatkan pada kebaikan, bahwa jalan ini masih panjang. Dan, tentu aku ingin menjadi ladang amal bagimu.

Memeluk Anak dan Pasangan

Saya dibesarkan di keluarga yang tidak terbiasa saling memeluk. Ndak biasa mengekspresikan rasa sayang dengan cara seperti itu, bukan cuma rasa sayang, saat kami, anak-anaknya sedih, marah kami cenderung memendamnya sendiri dan memilih mengekspresikan dengan cara masing-masing. Saya cuma baca di buku atau artikel bahwa berpelukan itu hangat, punya efek menenangkan hati, tapi saya betul nggak tahu seperti apa rasanya..

Maka dari itu, semenjak saya menikah 3 tahun lalu, saya penginnya mulai membiasakan diri untuk memeluk suami setiap pagi sebelum mulai beraktivitas. Pokoknya pagi itu harus bisa meluk walaupun sebentar. Efeknya cukup baik. Saya memulai aktivitas dengan hati yang hangat, perasaan yang lega dan lebih positif. Rasanya ada yang kurang kalau lupa berpelukan. :D

Setelah Aliyya. anak pertama lahir, berumur beberapa bulan dan sudah bisa belajar duduk di pinggir kasur, saya mencoba belajar memeluknya, sampai sekarang usianya 2,7 tahun, saya berusaha untuk memeluknya setidaknya sehari sekali. Saat berpelukan, tidak lupa disisipkan doa juga untuknya.

Memasuki usia 2 tahun, Aliyya agak sering tantrum, apalagi setelah Aisha, adiknya lahir akhir Oktober lalu. Sering sekali Aliyya mencari perhatian orang rumah dengan cara berteriak sehingga Aisha nggak bisa nyenyak tidur, setelah itu Aliyya nangis dengan suara yang mungkin terdengar sampai ujung gang. Membiarkannya sampai tenang lalu memeluk dan mengelus punggungnya.

Pelukan juga menjadi keharusan jika suami hendak pergi ke kota atau negeri seberang. Mengantar kepergiannya. Memeluknya pelan sembari membisikkan do'a. :)

Semarang. Medio November 2015.

Ini dia : Duniaku yang baru :)

Pakdhe Win, Ibu, Abi, Nida, Mamah, Ayah ( 18 Juni 2011 )

Akhirnya, setelah 3 tahun, saya dan Abi menjalani hubungan jarak jauh Jakarta - Semarang, kami bisa menikah juga. Merencanakan hal rumit ini melalui media telepon, BBM, facebook, blog, juga twitter. Jarak antara lamaran hingga pernikahan memang terbilang agak lama, karena gedung resepsi yang letaknya dekat dengan rumah sudah full-booked sampai 6 bulan kedepan. Bisa dibilang pernikahan jaman sekarang bukan lagi menentukan hari baik, tapi menentukan dan mensinkronkan gedung yang bisa dipakai, katering, dan lain-lain. Yeaah, akhirnya.. Alhamdulillah karena sudah menjadi halal untuk Abi. (^^)

Setelah menikah, apa yang akan saya lakukan? Jujur saja, rasanya saya seperti ada di dunia lain. Gegar budaya, mungkin mirip-mirip seperti itulah istilahnya. Biasanya, saya mah suka cuek mau ngapa-ngapain, eh sekarang ada satu orang yang harus saya istimewakan sebelum saya mengistimewakan diri sendiri. Secuek-cueknya saya, tetap saja, Abi harus prioritas nomor satu.

Masalah pekerjaan. Abi masih harus menyelesaikan pekerjaannya di Jakarta, dan saya juga masih harus ada di Jepara. Saya belum bisa memutuskan untuk resign. Karena, memang nggak bisa dipungkiri, tanggung jawabnya sudah berbeda, saya nggak mau membiarkan Abi sendirian mencari rezeki untuk keluarga baru kami. Memang, Allah sudah menjamin rezeki bagi hambanya, apalagi yang sudah menikah, Allah nggak akan membiarkan kami terlantar. Dan, pernikahan ini membawa saya ke alam yang lebih realistis. Ada beberapa pos pendanaan yang harus saya penuhi untuk membantu Abi. :)

Ada beberapa hal lagi yang baru saya sadari setelah menikah, (tanpa mengesampingkan Allah sebagai sesuatu yang abadi), diantaranya :
  1. Perasaan cinta yang mulai bertunas untuk kemudian tumbuh tanpa akhir.
  2. Ada tempat untuk bersandar dan berbagi 7 days/24 hours.
  3. Ada keluarga baru yang siap menerima kedatanganmu.
  4. ...sisanya nanti sejalan dengan waktu ya :)
Museum Nasional Indonesia, Jakarta ( 28 Juni 2011 )

Hmm, memang menikah itu membahagiakan, tapi jangan terlalu berjaga pada momen yang bahagia saja. Karena, jika suatu saat terjatuh, akan terasa sekali sakitnya. Belajar dari masalah yang kemarin, itu bikin saya kuat. Dan, diatas semuanya, jangan terlalu bersandar sama sesama manusia, karena manusia itu relatif dan yang pasti itu cuma Allah. (^^)

Oiya, hari ini miladnya Abi ke 29 tahun. Semoga Abi sehat selalu, dimudahkan mencari rizki yang halal dan berkah, dijauhkan dari hal-hal yang buruk, dan selalu diberikan kesempatan untuk terus berbuat kebaikan. Love you, Abi :-*

Love Life















Suka geli kalau liat foto yang nggak disengaja ini :) after 3 years, finally... NB : Foto kiri diambil di Gd.Landmark Lt.12 tanggal 06 Agustus 2010. Foto kanan diambil di daerah Monas, Jakarta baru-baru ini. *Lol

Pernikahan Part 1

Mulai kerasa betapa rumitnya merencanakan suatu pernikahan. Semuanya pengin ikut turun tangan dan masing-masing kepala punya pendapatnya sendiri. Saya yang muda dan yang mau menikah cuma bisa diem saja. Ikut manggut-manggut kalau yang direncanakan sama tetua itu sesuai, tapi kalau yang dimau sama tetua itu berbeda sama keinginan saya, terus gimana donggg??

Saya sama calon suami harus berhubungan jarak jauh, Jakarta dan Jepara. Meeting point kami ada di Semarang. Keluarga besar calon suami ada di Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Sedangkan keluarga besar saya ada di Tasikmalaya, Jawa Barat. Nah lhoo?? Kapan bisa ketemunya kalau jarak masing-masing itu saling berjauhan? Terpaksalah semua rencana itu ditangani lewat telepon.

Sejauh ini saya belum berekspektasi yang tinggi sekali dengan rencana pernikahan ini. Tapi yang jelas saya senang sekali.. :-) Setelah hampir 3 tahun dan

Finally, I found my way home..