Festival Gong Tugu Muda

Asyiiik.. Akhirnya Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) sedikit lebih ramai dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. TBRS yang terletak di Jl.Sriwijaya ini jadi semacam basecampnya para seniman Semarang. Kali ini, menyambut tahun baru 2010, terhitung mulai 29-31 Desember 2009 ada acara Festival Gong Tugu Muda di pelataran depan TBRS. Nah, di pelataran utama ada panggung yang lumayan tinggi juga besar. Kemarin malam disitu ditampilkan pagelaran musik keroncong *mendayu-dayu*. Tapi sayang banget yang nonton cuma segelintiran saja, kursi yang disediakan dibawah tenda jadi kosong-kosong.

* Jadi tambah jatuh cinta sama budaya Jawa..

Sering-sering aja ada cara begini. Saya suka banget soalnya ^_^ Semarang terhitung jarang ngadain kegiatan berbau seni, kalah dibandingin sama Solo, Jogja, bahkan kota kecil seperti Tasikmalaya.. *HIKS*



Nah, dibelakang panggung besar itu ada gedung Ki Narto Sabdo. Di gedung inilah rutin diadakan pagelarang wayang wong (wayang orang) yang masih setia sampai sekarang walaupun nafasnya kembang kempis karena semakin jarang orang yang mau nonton kesenian tradisional macam ini. Malam itu ada pentas Gambang Semarang. Gambang Semarang yang diciptakan oleh Oen Yuk Siang, seorang seniman Semarang pada awal masa kemerdekaan ini memang salah satu khasnya Semarang. Ada seperangkat gamelan disitu yang dimainkan oleh para waraga (yang rata-rata sudah berusia lanjut) dan seorang sinden dengan dandanan lengkap, mulailah tembang-tembang Semarangan dimainkan juga disertai tarian. Semarang memang memiliki kebudayaan khas pesisir, yaitu asimilasi dari budaya Jawa, Melayu, juga Tionghoa. Corak itu nampak jelas dari kebudayaannya, seperti kuliner, bahasa, pakaian, maupun keseniannya.

Pilih Jadi Idealis atau Apatis?

Terimakasih untuk tayangan KickAndy episode Soe Hok Gie , Jumat 18 Desember 2009. Karena dari sanalah saya baru tergerak untuk tahu siapa itu Soe Hok Gie (SHG)? Jauh sebelumnya memang sudah pernah mendengar nama itu, tahun 2005 kan sempat dibuat film GIE. Saya juga nonton tapi belum terlalu ngeh sama inti ceritanya yang serius.

Setelah itu baru saya mencari buku yang dilaunching Desember 2009 ini : Soe Hok Gie..Sekali Lagi : Buku, Pesta, Cinta di Alam Bangsanya. Tapi nggak ketemu dimana-mana, sampai akhirnya harus inden dulu di Gramedia Java, Semarang.

Inspiratif
Terlepas dari berbagai opini tentang sosok yang satu ini, saya menilai SHG sebagai inspirasi segala zaman. Situasi saat ini tidak jauh beda dengan situasi angkatan 60-an. Cukup relevan bagi saya bila SHG dijadikan acuan bagi kita, kaum muda untuk menetapkan pilihan. Idealis atau apatis? Menurut saya tidak melulu politik yang dijadikan lahan bagi kita untuk menegakan aspirasi. Buku SHG..Sekali Lagi ini membuka mata tentang berbagai sisi humanis SHG. Selain seorang penulis, pembaca, pengamat, oposan, demonstran, pencinta alam, rupanya SHG juga seorang pencinta hewan peliharaan seperti anjing, kucing, dan monyet. Monyet yang dia pelihara dia dapatkan dari membeli monyet tetangganya yang tidak mampu. Kucing dan anjing peliharaannya diambil dari jalanan.

Pengingat
Saya jadi merasa malu, status saya yang mahasiswa ini sudah saya pergunakan untuk membantu masyarakat atau belum? Dalam usianya yang belia, SHG sudah mampu berbuat banyak, baik melalui aksi nyata maupun dalam bentuk tulisan yang mengkritisi situasi perpolitikan saat itu yang berimbas nyata pada kesejahteraan masyarakat tahun 50-60an. Kondisi mahasiswa era 2000an tentu jauh berbeda dengan era mahasiswa tahun 50-60-70-80-90an. Meskipun sisa-sisa perjuangan itu masih ada, namun sepertinya sudah bergeser dari awal yang ada. Bagi SHG, berkepribadian itu penting. Hitam atau putih. Tidak ada wilayah abu-abu. Sikapnya yang seperti itu yang membuat saya merasa malu. Dalam usia yang beranjak dewasa dan sudah merampungkan studinya, saya belum mampu bergerak dan melakukan perubahan yang nyata. Walau sebenarnya mimpi itu ada, namun saya belum mampu mewujudkannya. Lalu untuk apa sebenarnya saya kuliah? Dimana, konon biaya kuliah mahasiswa universitas negeri disubsidi dari pajak-pajak yang dibayar oleh masyarakat kita, sehingga biaya kuliah tidak terlalu mencekik. Tapi apa yang sudah kita berikan pada mereka?

Ah, saya merasa beruntung sudah membaca buku ini. Sehingga saya mampu bercermin pada sosok SHG yang dilingkupi kekurangan juga kelebihannya. Apapun namanya, kumpulan tulisan itu membuat saya tertohok..

Highly recommended to read :-)

Perilaku Manusia dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan

(Sumber : National Geographic Indonesia Edisi Khusus Detak Bumi dan Green Living Guide)


Barangkali tidak adil jika saya menempatkan manusia dengan segala kesempurnaannya sebagai pelaku utama rusaknya lingkungan disekitar kita. Namun, karena kesempurnaan yang dimilikinya manusia melakukan apa saja untuk memuaskan hasrat mereka tanpa mengindahkan kerugian pada pihak kedua, ketiga, dan seterusnya. Mereka melupakan bahwa ada siklus yang berputar dan saling bergantung satu sama lain.

Manusia mengubah wajah bumi melebihi spesies manapun dalam sejarah dunia, dan laju tersebut semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dunia, perkembangan teknologi, kebutuhan pangan yang melonjak tinggi, serta penggunaan moda transportasi yang berkembang pesat. Dan sayangnya, dibalik itu semua, terkadang kita melupakan bahwa ada makhluk-makhluk lain yang terabaikan.

Ekspansi dan Keserakahan
Keberadaan jalan raya, jalan bebas hambatan, jalan layang, jalur kereta api memang membantu menyebarkan pengaruh manusia lebih jauh, memperluas jangkauan manusia, dan memudahkan perniagaan serta mempersingkat perjalanan. Namun timbal baliknya adalah mendorong perambahan disekitar kota, membawa perburuan, pembalakan, dan pertanian ke hutan yang semula tidak terjangkau tangan manusia. Infrakstruktur yang berkembang pesat itu bisa pula menghancurkan habitat, meningkatkan polusi, dan mempercepat ekspansi perkotaan ke daerah pedesaan.

Hutan dibuka menjadi lahan pertanian, dengan hampir 35% lahan di bumi yang bebas es sudah dikuasai untuk lahan tanaman pangan dan padang rumput, sebagian lahan pertanian yang baru itu didapatkan manusia dengan jalan membuka hutan. Membuka hutan berarti merampas hak hidup ekosistem didalamnya. Jutaan hektar lahan gambut di Indonesia hancur setiap tahunnya akibat dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. ”Setiap tahunnya populasi orang utan menurun dengan cepat karena menjadi korban secara langsung dari kebakaran hutan, menjadi target perburuan, atau karena hutan sebagai habitat mereka telah rusak akibat keserakahan manusia.” (Newsletter GREENPEACE Edisi 3 Tahun 2008.)

Kerusakan hutan akibat terus-menerus dikonversi untuk perluasan lahan kelapa sawit di beberapa titik hutan di Sumatera, Kalimantan, dan Papua telah mendorong terjadinya perubahan iklim dan menggiring keberadaan habitat orang utan dan satwa lainnya menuju kepunahan. Tidak hanya perampasan hak hidup orang utan, namun juga masyarakat yang berdiam dan menggantungkan hidupnya pada hutan, seperti suku Anak Dalam di Jambi. Karena kapitalisme telah menunjukkan wataknya, secara agresif hutan-hutan di Indonesia berubah dengan cepat dikuasai oleh swasta, termasuk para pemilik perkebunan kelapa sawit.

Hutan yang direnggut dengan cara dibakar jelas berdampak besar pada kualitas udara yang manusia hirup. Asap dan gas rumah kaca dari hutan-hutan yang terbakar bergabung dengan asap kendaraan, polusi pabrik, dan pembangkit listrik telah mengubah atmosfer kita, mengacaukan sistem musim yang ada, serta membunuh jutaan manusia akibat berbagai jenis penyakit yang ditimbulkan akibat efek polusi.

Keberadaan Sampah Plastik
Kantong plastik masih menjadi pilihan utama sebagian besar dari manusia untuk mengemas belanjaan. Padahal kantong plastik yang berbahan dasar minyak bumi tidak bisa terurai oleh alam dan berbahaya bagi lingkungan dan kehidupan satwa liar.

Kantong plastik murah dengan berbagai warna memang punya banyak manfaat dan keberadaannya pun berlimpah. Sekitar 500 miliar sampai 1 triliun kantong plastik dipakai diseluruh dunia setiap tahunnya. Namun, sebagian besar hanya sekali pakai dan kemudian dibuang ke berbagai tempat, seperti tempat sampah, sungai, laut, dipendam dalam tanah, bahkan dibakar. Jutaan plastik yang dibuang ke laut menyumbat lingkungan dan membunuh satwa seperti penyu dan anjing laut!!. Plastik yang dibuang ke sungai menjadi salah satu penyebab utama banjir yang terjadi di berbagai kota di Indonesia, contoh kota Jakarta. Plastik menyumbat saluran sungai, gorong-gorong got hingga air hujan meluap ke jalanan. Plastik yang dibakar menghasilkan zat kimia yang berbahaya bila terhirup oleh manusia.

Walaupun plastik bisa didaur ulang, namun tidak seluruh kantong plastik bisa diolah kembali dipabrik. Kantong plastik bekas yang hanyut di sungai atau laut kerap membahayakan hewan serta tidak terurai dengan baik di alam. Kurangi penggunaannya dengan memakai kantong plastik berulang kali. Cara yang paling tepat ialah mengganti kantong plastik dengan kantong kain saat berbelanja. (NGI, Edisi Green Living Guide)

Setelah Krisis Berakhir

Kini saya menjelang 22 tahun. Bodohnya, saya baru saja menyadari bahwa semenjak remaja hingga beranjak dewasa ternyata saya mengalami krisis hubungan antara ibu dan anak gadisnya. Krisis yang lazim dialami para Ibu dengan anak gadisnya yang beranjak remaja ini akibat tidak terbangunnya komunikasi dua arah yang baik, antara Ibu dengan puterinya. Tidak adanya dorongan untuk saling mengerti satu sama lain. Karena laiknya anak remaja yang masih mendasarkan sikap pada ego, pada saat remaja saya pun mempunyai sifat keras kepala dan ingin menang sendiri. Sayangnya hubungan yang tidak sehat itu terjalin selama bertahun-tahun.

Dan situasi buruk itu membaik dengan sendirinya. Saya tidak berusaha mencari tahu krisis apakah yang saya alami. Namun, buku selfhelp yang saya baca membuat saya sadar, ada yang salah dengan pola komunikasi antara saya dengan mamah. Dulu jika sedang marah karena tidak suka dengan sesuatu, saya tidak akan pernah mengungkapkannya. Hanya dipendam dalam hati. Dan semuanya tergambar dengan jelas dari raut wajah. Kini, beranjak dewasa, saya dan mamah lebih sering berdua di dapur, mengobrol sambil mengupas kentang, mengiris bawang, atau mengupas rambutan sambil tertawa-tawa. Kedekatan itu juga karena sayalah yang lebih sering bersama mamah dirumah dan mengantar mamah kemanapun mamah minta, misal ke arisan bulanan ibu-ibu Pasundan.




Rindu



Hari ini saya rindu bau lembab air laut, suasana khas hutan bakau juga buah-buahnya yang menjuntai, dan kasarnya butiran pasir juga pecahan batu karang. (Pantai Teluk Awur - Jepara)

Kakek Tercinta Sepanjang Masa

Aki Tanuwinata adalah kakek saya dari pihak mamah. Aki (sebutan bagi kakek dalam bahasa Sunda) adalah seorang pensiunan kepala sekolah. Aki berbadan kurus dan tinggi serta rambut yang seluruhnya sudah memutih sejak usia muda. Menurut cerita para Uwa (Oom atau Tante dalam bahasa Sunda), Aki juga memiliki ilmu kanuragan yang digunakan untuk melindungi diri dan keluarga pada jaman penjajah dahulu kala. Hobi beliau bercocok tanam di kebun, dan memelihara ikan. Aki menikah dan hidup sederhana dengan Ene' (nenek) yang terhitung masih memiliki pertalian darah dan ketujuh orang anaknya, sering pula sanak saudara menitipkan anak mereka untuk dididik oleh Aki dan Ene'. Mereka berdua mendidik keras anak-anaknya dalam nuansa religius yang ketat. Setahu saya, ketujuh anak Aki sukses dibidang masing-masing dan tetap dalam kesahajaan seperti ajaran Aki dulu.

Saya tidak terlalu mengenal pribadi Aki secara langsung, saya tidak ingat pernah ditimang dan didongengi sebelum tidur. Kisah hidup Aki lebih banyak saya ketahui dari Mamah dan saudara yang lain yang pernah bersentuhan dengan sisi hidup Aki. Memasuki tahun 2000, Aki mulai sering sakit-sakitan, hingga terus terbaring diranjang tanpa dipan, sengaja memudahkan Aki merangkak ke kamar mandi untuk menunaikan hajat juga berwudhu.

Aki seorang yang shaleh. Meski hanya bisa terbaring diranjang karena kaki yang sudah lemah, bukan keluh kesah yang terdengar. Gumaman kecil itu digantikan oleh bacaan Al-Quran. Dibacanya kitab itu hingga berulang kali khatam. Jika waktu shalat fardhu tiba, beliau merangkak ke kamar mandi untuk berwudhu, atau jika sudah tak kuat maka lebih sering bertayamum. Jika lebaran tiba, sering kuping saya dibisikinya agar jangan lupa shalat 5 waktu dan membaca Al-Quran. Itu pesan terakhir Aki yang masih kerap saya ingat sebelum Aki wafat dalam usia 93 (kurang lebih) pada tahun 2003. Menurut kabar dari orang yang menandu jenazah Aki, jenazah Aki sangat ringan serta berbau wangi. Juga kami sering bermimpi melihat Aki dalam busana serba putih didepan rumahnya yang asri juga megah. Insyaallah Aki bahagia. Wallahu'alam

Aki memang sudah 6 tahun berpulang namun cerita-cerita kecil tentang beliau masih kami dengar. Jika waktu senggang, saya juga mamah sering membicarakan Aki semasa hidup. Kadang kami tersedu karena rindu, kadang kami tertawa mengenang perilaku Aki yang lucu. Semisal, Mamah yang kerap digendong Aki dipunggung saat hujan dengan berpayung daun pisang atau Aki yang dengan sengaja menaruh makhluk halus untuk menjaga rumah dan makhluk itu dilihat orang sampai terkencing dicelana dan pingsan..

Aki bukan hanya idola sepanjang masa tapi juga tokoh panutan dalam segala hal. Saya sangat merindukan Aki. Semenjak Aki wafat belum pernah saya didatanginya dalam mimpi. Tapi beberapa hari menjelang sidang Tugas Akhir saya 9 Desember 2009 yang lalu, Aki datang!! Saya bertemu Aki disebuah tempat mirip pasar. Ada Aki disana, sedang duduk diundakan tangga dan dikerumuni banyak orang. Saya tidak bisa menyelinap diantara orang-orang disekitar Aki. Tapi tiba-tiba Aki merangkul, memeluk, dan mengusap kepala saya. Seolah memberikan restu akan usaha yang sudah saya lakukan demi merampungkan penelitian ini. Keesokan harinya saya merasa mimpi semalam seperti nyata. Dengan bungah saya ceritakan itu kepada mamah, dan saudara-saudara yang lain. Insyaallah Aki merestui, begitu kata mereka.

Meski Aki sudah tiada dan Uwa Samsul sebagai pengganti Aki dalam keluarga besar kami pun sudah berpulang, keluarga kami masih terus bertahan. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang masing-masing individu miliki, rasa kekeluargaan kami terus menguat dengan rutin berkirim kabar meski berbatas jarak.


Setelah Tiga Tahun

Akhirnya sampai juga saya pada tahap ini. Tahap yang sempat membuat saya hampir putus asa dan pundung dibuatnya. Saya bukan orang yang teliti, dan itulah masalahnya..

Sesudah kuliah kerja praktek saya rampung April 2009 lalu, lantas Mei 2009 saya langsung ambil dosen pembimbing Tugas Akhir (TA). Alhamdulillah banget dapet dosen ini, Bu Taufik, namanya. Bu Taufik ini sudah jadi idola saya dari semester 3 waktu saya dapet mata kuliah Komunikasi Massa (psst.. dapet nilai A untuk matakuliah ini, hehe)

Mei, Juni, Juli, Agustus,... November. Akhirnyaa..ikhtiar saya terbayar sudah. Setelah dibantu beberapa teman dikampus, berkas persyaratan sidang selesai dikumpulkan. Perkiraan sih sidang saya dijadwalkan 2 pekan mendatang. tapi ternyata tadi siang saya dapet sms dari teman, NIDA = 9 DESEMBER jam 10.00 - 12.00

Masih panjang jalannya. Meskipun nantinya Allah yang menentukan tapi saya sudah merancang mimpi apa yang ingin saya jalankan. Kalau ada rezeki dan umur tentu masih pengen bisa kuliah lagi dengan bidang studi yang sama namun di kota yang berbeda. amin


Emak Ingin Naik Haji

"Ayoo.. yang belum nonton? Jangan sampe ketinggalan nonton EINH yaaa..??? Dijamin keimanan kita untuk berhaji insyaallah bertambah kuat!"

Saya nonton film ini di E-Plaza, Semarang. Satu teater isinya cuma 9 orang dan duduknya pisah jauh-jauh. Berasa milik sendiri. Karena disitu saya ngga ngerasa tanggung buat nangis atau ketawa.

Tiba-tiba.... saya rindu Tanah Suci :-(

Saya suka cerpen ini karena setelah dibukukan bersama cerita pendek lainnya, royalti buku ini akan digunakan untuk menghajikan mereka yang ingin ke Tanah Suci namun tidak ada biaya.

Subhanallah!! Tanpa pikir panjang saya pun membeli buku ini, karena dengan jaminan nama mbak Asma Nadia sebagai penulis, semua ceritanya pasti bermakna dan menyegarkan jiwa.


Setelah membacanya saya tau bahwa pilihan saya benar!


Versi cerpen tidak jauh berbeda dengan versi filmnya. Hanya ada penambahan beberapa adegan dan juga tokoh. Kalo di versi cerpen, cerita berhenti setelah Zein tertabrak mobil karena saking gembiranya setelah tau bahwa salah satu nomor undian yang berhadiah umroh adalah nomor undian milik Zein.


Kalo versi film. Setelah Zein tertabrak, Zein dilarikan ke rumah sakit oleh si Penabrak (tokoh politikus yang bertengkar dengan istrinya didalam mobil, sebelum akhirnya menabrak Zein. Istri si politikus itu meninggal akibat tabrakan itu). Karena anak sulung pak Haji yang berkali-kali umroh dan naik haji sudah bernazar jika dia dan bayi yang dikandungnya selamat maka dia akan memberangkatkan haji Emak dan Zein.


Happy Ending...!!!

Ceritanya memang sederhana karena diangkat dari realitas kebanyakan masyarakat Indonesia. Film yang sederhana ini hadir berbarengan dengan film kiamat 2012 juga beberapa film panas sampah khas Indonesia. Emak Ingin Naik Haji (EINH) jadi semacam pemuas dahaga buat kita yang bosan nonton film monoton seperti itu. Agak disayangkan juga karena saat saya menonton EINH, penontonnya cuma segelintir. Kontras dengan antrian 2012 yang mengular. Bahkan full booked sampe besok.


Two thums up buat mbak Asma Nadia juga semuanya yang terlibat dalam pembuatan cerpen ini sampe diangkat ke layar lebar. Film "sehat" inilah yang kita butuhkan saat ini.


ps : semoga cerpen-cerpen mbak Asma Nadia lainnya juga bisa diangkat ke layar lebar :-) Amin

ADA YANG BISA BANTU SAYA?

Mungkin ada yang tau nama bapak penjual gorden keliling di kabupaten Bandung yang juga seorang pecinta buku dan punya perpustakaan sederhana di desanya? Profil beliau beberapa kali pernah ditayangkan di televisi, tapi itupun sudah beberapa tahun silam. Sekarang saya sedang butuh informasi tentang beliau. Penting.

ps : syukur-syukur kalau ada yang bisa ngasih tau alamatnya juga :-)

Teman..Arghh..Teman

Seumuran saya ini, baru beberapa kali saya punya yang namanya SAHABAT. Kapital semua jadi artinya orang yang termasuk dalam catatan saya itu punya artian amat penting.

Saya bisa dibilang judes sama orang, apalagi yang baru kenal. Tapi yang judes mah cuma muka doang sebenernya mah? soalnya dalam hati, saya selalu pengen nyapa duluan. hehe..

Temen mah banyak tapi yang bisa dijadiin SAHABAT itu cuma beberapa. Kadang juga putus ditengah jalan. Definisi SAHABAT buat Nida :
  1. Satu selera, minimal satu deh yang sama, supaya enak kalo ngobrol biar ngga garing.
  2. Bisa diajak susah bareng, misal kalo pas ngga punya uang bisa dicurhatin sepuas hati
  3. Ga gengsian, contohnya mau diajak naik bis kota atau kereta ekonomi :p
  4. Ada saat masing-masing butuh
  5. Ga suka ngomongin dibelakang
  6. Apa adanya, he/she'll be being him/herself around here
  7. Saling menyemangati, bukan saling ngejatuhin
  8. Penolong
  9. Satu yang penting! Ga sms atau telpon kalo cuma pas butuh doang. Ini yang ngga banget.!!!
  10. Walaupun udah pisah jarak tapi tetep keep contact, ngejaga silaturahim :-)

Belajar Dari Penjual Roti dan Kerupuk

Akhir-akhir ini saya suka boros dalam pengeluaran yang emang ngga sebanding sama pemasukan. Pengeluaran itu pun kadang saya rasa suka sia-sia, misal buat makan atau beli hal yang ngga penting. Ujung-ujungnya yang ada rasa nyesel karena kenapa uang itu ngga saya tabung atau dipake buat sesuatu yang berguna. *Sedih*

Tadi siang sekitar jam dua siang *panas bangeett...*, pas perjalanan pulang dari kampus menuju rumah. Saya liat kakek penjual roti lagi nuntun sepeda rotinya di pinggir Jl.Ngesrep, Tembalang. Si kakek jalannya sambil nunduk, dilehernya terlilit handuk kecil.

Sampe rumah, mamah cerita habis beli kerupuk di tukang kerupuk yang suka lewat depan rumah. Kata mamah, tukang kerupuk ini masih muda, cocok jadi anak sekolahan, dan kalo terawat dengan baik pasti cakep. Hanya karena kondisi ekonomi dia jadi terlihat lebih tua dari umur yang sebenarnya. Tukang kerupuk ini pasti nengok kerumah saya saban kali dia melintas. Mamah yang ngga tega akhirnya maksain beli beberapa plastik kerupuk, sambil nawarin si mas minum segelas air es. *cuaca jam satu siang. Pasti kebayang panasnya kayak apa??* Si mas ini keliatan haus banget, kata mamah. Dia juga bawa botol aqua buat wadah minum, tapi airnya udah habis. Mamah sempetin nanya-nanya sama si mas kerupuk. Dia ternyata ngekost di Salatiga *what??? Salatiga itu lumayan jauh buat ditempuh dengan cara jalan kaki!!* Udah gitu jualannya juga susah, karena jarang laku. T.T

Ya Allah. Sedih banget liat mereka yang susah cari uang buat sekedar bertahan hidup. Saya malah kadang ngga mikir ngeluarin uang, padahal saya belum kerja. Hiks *Boros*

Marley and Me


Dari sekian buku yang saya punya, buku ini adalah salah satu yang paling berkesan. Saya suka setiap buku yang ber-kaver hewan.

Pertama kali saya liat di Gramedia, saya langsung jatuh cinta! Harus beli! Tapi nabung dulu karena uang yang saya bawa waktu itu belum mencukupi. Beberapa bulan kemudian saya balik lagi ke toko buku itu. Yaaaah..bukunya udah ngga ada. Sedih!

Sampe akhirnya saya liat buku ini lagi di toko buku yang sama dan kebetulan saya bawa uang lebih sedikit. Buku inipun berpindah tangan. Alhamdulillah..

Marley and Me. Judul sebuah buku yang kemudian difilmkan dan diangkat dari kisah nyata penulisnya. John dan Jennifer Grogan, sepasang suami-istri yang mengadopsi anjing kecil yang super aktif hingga sering merusak perabot rumah. Menjelang tuanya, Marley, sang anjing harus dieuthanasia (suntik mati) oleh pemiliknya karena tidak tega dengan keadaan Marley yang kepayahan.

Nangis baca buku ini.
Sampe pengen punya anjing. Karena ngga punya anjing, saya jadi semakin sayang sama kucing-kucing dirumah. Buku ini ngajarin kita supaya menghargai hewan. Bukan hanya sebagai hewan, tapi juga sebagai sahabat dan saudara.

Plastik atau Kaleng

Satu pak minuman bersoda isi enam yang terbuat dari kaleng alumunium mampu menampung cairan yang hampir sama jumlahnya (2,3 liter) dengan sebuah botol minuman bersoda ukuran dua liter. Namun, dalam hubungan terhadap lingkungan, dampak yang dihasilkan keduanya tak sama. Yang manakah yang harus dipilih?


Botol Plastik
  1. Bahan dasar : plastik polietilena tereftalat (PET) #1, dibentuk dari dari minyak tanah dan gas alam.
  2. Energi yang terpakai dalam proses pembuatan : setara dengan jumlah energi yang digunakan untuk menyalakan bohlam 50 watt selama 16 jam.
  3. Kesehatan : PET #1 adalah salah satu jenis plastik yang paling aman, namun penelitian membuktikan bahwa antimoni logam berat (mengakibatkan diare) bisa menembus plastik dan mencemari cairan didalamnya selama lebih dari enam bulan.
  4. Pembuangan : Menurut Institut Container Recycling Institute (CRI), hanya 23% botol plastik yang terdaur ulang. Plastik juga hanya dapa didaur ulang beberapa kali saja.
  5. Dampak umum terhadap lingkungan : Selain terbuat dari sumber daya alam tak terbarukan, botol plastik seringkali terbuang ke sungai, aliran air, dan lautan, membahayakan ikan, burung, dan makhluk hidup lain. Proses pembuatan plastik adalah salah satu sumber polusi industri paling besar, menghasilkan sulfur oksida dan nitro oksida, memicu terjadinya hujan asam dan pemanasan global.


Kaleng Alumunium
  1. Bahan dasar : Secara kasar, 60% kaleng soda terbuat dari alumunium yang baru (bijih besi bauksit yang ditambangkan), sedangkan 40% sisanya terbuat dari alumunium daur ulang.
  2. Energi yang terpakai dalam proses pembuatannya : Setara dengan jumlah energi yang digunakan untuk menyalakan sebuah bohlam 50 watt selama 42 jam.
  3. Kesehatan : Walaupun kadar yang terkandung dalam minuman bersoda jarang terdeteksi, kaleng alumunium memiliki lapisan inferior yang mengandung senyawa kimia bisfenol A yang dapat mengganggu hormon.
  4. Pembuangan : Alumunium dengan mudah dan tak terbatas dapat selalu didaur ulang, dan lebih sering dilakukan dibandingkan plastik. Menurut CRI, tingkat pendaur ulangannya di AS mencapai hingga 52%.
  5. Dampak umum terhadap lingkungan : Penambangan bauksit dapat menimbulkan kerusakan yang amat parah, membinasakan pemandangan, mencemari air, dan produksi alumunium mentah menghabiskan energi yang paling banyak dibandingkan pembuatan logam jenis lainnya. Lebih dari setengah energi yang digunakan berasal dari pembangkit listrik tenaga air, yang dihasilkan dari pembendungan sungai dan aliran air yang mengganggu habitat perairan. Sumber energi terbesar berikutnya berasal dari pembangkit tenaga batu bara yang merupakan salah satu penyumbang terbesar terhadap muculnya pemanasan global.
Sumber : National Geographic Indonesia edisi Green Living

Enterpreneur, Bukan Sekedar Mata Pencaharian

Dalam rangka memperingati Dies Natalis Universitas Diponegoro ke 52, Fakultas Psikologi UNDIP mengadakan seminar dan workshop kewirausahaan ”How Dare You To Be Out Of The Box” pada Sabtu (3/10) lalu.

Acara yang digelar di ruang 108 gedung Prof.Soedarto, Tembalang ini diisi oleh Anne Avantie (fashion designer asal Semarang), dr.Daniel Nugroho Setiabudhi (CEO Bandeng Juwana), drg.Grace.W.Susanto (CEO Klub Merby), Kristian Hardianto (Pengusaha Perbankan), dan sebagai moderator workshop, Dyah Pitaloka (Pakar Komunikasi Strategis FISIP UNDIP).

Mulai berpikir beda atau out of the box. Sisi itulah yang ingin ditonjolkan pada seminar dan workshop kali ini. Dekan Fakultas Psikologi, Drs.Karyono, Msi mengatakan, ”Pembicara kita adalah orang-orang yang keluar dari jalurnya, seperti dokter kok jualan bandeng? Kan aneh? Maka jadilah lebih kreatif, lebih positif”.

Berbicara mengenai enterpreneurship, siapapun bisa belajar. Enterpreneur bukan sekedar mata pencaharian, namun juga pengembangan sikap. Banyak mahasiswa kini melirik untuk berwirausaha, selain untuk mendapat penghasilan tambahan, juga sebagai pembelajaran mental agar siap menghadapi masa setelah lulus nantinya.

Dyah Pitaloka mengatakan, salah kaprah yang banyak terjadi dikalangan mahasiswa saat berwirausaha adalah bagaimana supaya barang atau jasa mereka cepat laku.

Berwirausaha juga tidak harus bermodal besar, ”Niat dan jangan pernah anggap remeh bisnis kita meskipun skalanya masih kecil. Buat everything is perfect,” tambah dosen jurusan Ilmu Komunikasi ini.

Jangan Sekali-kali Berpisah Dengan Semangat

Anne Avantie yang lekat dengan konde dan bunga kamboja ini salah satunya. Kendati hanya lulusan SMA, namun itu tidak membuatnya patah arang untuk mengembangkan talenta yang dia miliki. Berkali-kali gagal membuatnya sempat menggugat Tuhan hingga pada tahun 1997 namanya mulai dikenal masyarakat sebagai perancang busana sampai saat ini.

”Buat saya tidak ada kalimat kesempatan itu tidak datang dua kali, yang benar adalah semua kesempatan itu emas, dengan kesempatan-kesempatan emas saya itulah saya mampu menumpas belukar kesulitan,” tutur ibu tiga orang anak ini.

Lainnya, dr. Daniel Nugroho Setiabudhi sebagai pelopor bandeng presto yang kini menjadi salah satu ikon kuliner Semarang. Perang batin antara menjadi dokter dan panggilan hati membuatnya sering rela tidak dibayar pasien. Berjualan bandeng duri lunak pada 1981 menjadi usaha sampingan keluarga, hingga saat ini berkembang menjadi Bandeng Juwana Group.

drg. Grace.W.Susanto memilih usaha mengawali jasa penitipan anak hingga klub menggambar dari sepetak lorong di toko buku ”Merbabu” milik kakeknya. Sedangkan Kristian Hardianto mengawali kariernya sebagai office boy dan salesman, hingga kini mampu membangun belasan perusahaan dibidang perbankan.

Dimuat di www.fisip.undip.ac.id


Maafkan Saya :

........Mengampuni menjadikan kita mampu berhadapan dengan masa silam dan melepaskan kita dari beban yang tidak bisa dibatalkan. Berjanji mengizinkan kita menghadapi masa depan dan menata dengan lebih baik langkah-langkah yang tidak bisa diprediksi.

*ini kutipan dari mas Triyono Lukmantoro, salah satu dosen saya di komunikasi FISIP UNDIP.

Vegetarian Dalam Islam

Sumber : www.rumaysho.com

Mengurangi lemak dengan tidak memakan daging hewan mungkin memang dibutuhkan untuk beberapa orang yang terkena penyakit kolesterol tinggi. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang benar-benar mengaku sebagai vegetarian sehingga mereka menghilangkan menu daging hewan secara total dari pola makan mereka? Mereka berdalih karena rasa kasihan terhadap para hewan, tidak tega dengan perlakuan para penyembelih hewan dan yang semacamnya. Yang lebih parah lagi, pada akhirnya mereka menolak berbagai bahan makanan yang berasal dari hewan, baik itu susu, telur, keju dan yang semacamnya. Sebabnya? Karena untuk pemerahan susu dikatakan hewan diperlakukan semena-mena, telur itu adalah cikal bakal anak hewan yang patut untuk hidup, atau kalimat-kalimat semacamnya. Dengan usaha keras mereka mempertahankan status vegetarian dengan menonton film yang memang dibuat untuk memperkuat ‘keimanan’ mereka akan apa yang mereka lakukan. Mudah-mudahan ukhti muslimah tidak ada yang ingin ikut-ikutan dengan apa yang mereka lakukan. Mengapa? Coba simak penjelasannya secara syari’at.

Dalam sebuah kaedah fikih, semua yang merupakan masalah adat, seperti makan, minum, pakaian, maka semuanya adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya. Berbeda dengan masalah ibadah yang pada dasarnya semua ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. Oleh karena itulah kita tidak bisa sembarangan dalam melakukan ibadah, karena kita harus mengetahui bahwa hal tersebut benar diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kembali ke masalah makanan, seperti dikatakan tadi, pada dasarnya, memakan suatu makanan seluruhnya adalah halal sampai ada dalil syar’i yang menjelaskan bahwa makanan itu haram. Misalnya, kita diharamkan untuk memakan tikus, kodok, binatang yang bertaring atau binatang yang bercakar yang cakarnya itu digunakan untuk memangsa.

Lalu, bagaimana dengan ayam, sapi, kambing dan yang lainnya yang tidak ada dalil yang menjelaskan bahwa itu adalah haram. Tentu saja jawabannya itu adalah boleh untuk dimakan. Dan tidaklah mereka diciptakan itu melainkan sebagai nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk hamba-Nya yang membutuhkan energi dalam melakukan aktifitas untuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5]: 88)

Jika hewan yang disembelih saja boleh untuk dimakan, maka terlebih lagi susu atau telur yang dihasilkan oleh hewan tersebut. Bahkan susu juga termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An Nahl [16]: 66)

Sebab Lain Terlarangnya Menjadi Seorang Vegetarian

Walau telah jelas dalil-dalil tentang tidak haramnya binatang ternak, ada baiknya kita juga mengetahui alasan lain mengapa menjadi seorang vegetarian juga termasuk hal besar yang terlarang dalam agama.

1. Dapat dihukumi keluar dari Islam (kafir)

Hal ini dikarenakan seorang vegetarian telah mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, seorang vegetarian telah membuat hukum baru yang bertentangan dengan syari’at. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَذَا فَإِنْ شَهِدُوا فَلا تَشْهَدْ مَعَهُمْ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَالَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ وَهُمْ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Katakanlah: “Bawalah ke mari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini.” Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa hafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Rabb mereka. (QS. Al-An’am 6:150)

Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan tafsir ayat ini, bahwa ada dua kemungkinan ketika seseorang diminta untuk mendatangkan dalil/alasan ketika mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan.

Kemungkinan pertama adalah mereka tidak dapat mendatangkan dalil. Hal ini menunjukkan batilnya apa yang mereka serukan.

Kemungkinan kedua bahwa mereka mendatangkan alasan yang merupakan kedustaan. Tentu saja persaksian mereka ini tidak diterima. Dan ini bukanlah termasuk perkara dimana sah seorang yang adil untuk bersaksi dengannya. Oleh karena itulah Allah memerintahkan kita untuk tidak mengikuti persaksian mereka. (Taisirul Karimirrohman)

2. Membuat perkara baru (bid’ah) dalam agama

Hal ini terutama jika pengkhususan memakan makanan hanya dari yang berupa sayuran tersebut disandarkan kepada agama. Atau dengan kata lain menjadikannya sebagai sebuah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Menyerupai Orang Kafir

Tahukah ukhti muslimah, bahwa banyak sekali hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan kita untuk menyelisihi orang kafir? Sampai-sampai ada seorang Yahudi yang mengatakan,

“Apa yang diinginkan laki-laki ini? Tidak ada satupun urusan kita kecuali ia pasti menyelisihi kita di dalamnya.” (HR. Muslim)

Ukhti muslimah juga tentu telah mengetahui, bahwa para biksu Budha adalah orang yang sangat teguh untuk tidak memakan daging. Mereka hanya mau makan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Maka yang benar, seharusnya sebagai muslimah kita tidak ikut-ikutan menjadi seorang vegetarian, bahkan berusaha menyelisihi para biksu (orang-orang kafir) tersebut.

4. Mengingkari nikmat Allah

Daging, susu, telur atau hasil makanan lain yang didapatkan merupakan kenikmatan yang Allah berikan pada hamba-Nya.

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5]: 88)

5. Mengingkari hukum yang Allah tetapkan

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitahukan cara untuk dapat memakan daging dari binatang ternak dengan cara menyembelihnya. Dan tidaklah apa yang Allah perintahkan melainkan sebuah kebaikan. Maka adalah suatu kesalahan ketika seorang vegetarian tidak memakan daging karena rasa kasihan melihat binatang ternak ketika disembelih menggelepar-gelepar, mengejang dan meregangkan otot, bahkan menyatakan itu tidak berperikemanusiaan (atau tidak berperikebinatangan?). Sekali lagi perlu kita ingatkan, bahwa tidaklah apa yang Allah perintahkan dan tentukan merupakan kebaikan walaupun mungkin kita belum mengetahui hikmahnya.

Alhamdulillah, tentang menyembelih hewan terdapat terdapat hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Schultz & Dr. Hazim yang keduanya adalah Animal Scientists dari Hanover University – Jerman, yang menunjukkan bahwa hewan yang disembelih tidak merasakan rasa sakit. Hal ini dikarenakan pisau tajam yang mengiris leher ‘tidaklah menyentuh’ saraf rasa sakit. Sehingga reaksi menggelepar, meregang otot dan lainnya hanyalah ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (saat darah mengalir keluar dengan deras). Dan bukan ekspresi rasa sakit! (Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P).

Berbeda dengan apa yang orang-orang kafir lakukan dimana mereka mematikan hewan dengan cara dipukul terlebih dahulu dengan alat pemingsan (Captive Bolt Pistols) baru kemudian disembelih. Alasan mereka adalah agar hewan tersebut tidak kesakitan ketika disembelih dan daging tetap bagus karena hewan jatuh dengan pelan. Apalah artinya logika manusia dibandingkan dengan Allah yang Maha Mengetahui. Ternyata dari hasil penelitian tersebut, hewan yang dimatikan dengan cara tersebut segera merasakan rasa sakit setelah dipingsankan bahkan hasil dagingnya tidak sehat untuk konsumen.

Demikianlah syari’at menjelaskan tentang makanan yang berasal dari binatang ternak. Janganlah tertipu dengan akal kita yang menilai sesuatu hanya berdasarkan penglihatan lahir dan perasaan semata. Sudah kehilangan kenikmatan dunia berupa makanan lezat, merugi pula di akhirat karena berbuat dosa. Na’udzu billah min dzalik.

*Hmm.. jadi veggy juga harus ada dasar hukumnya apa. Karena Allah sungguh telah mengatur semuanya dengan Maha Sempurna.

Warak Ngendok Khas Semarangan

Ini juga termasuk budaya khas Semarangan. Warak Ngendok namanya. Saya baru pertama kali ikutan nonton kirabnya menjelang Ramadhan tahun 2009 ini, itupun karena penasaran. (^_^)*

Warak Ngendok merupakan mainan berwujud makhluk berkaki empat menyerupai singa atau macan dengan ukuran badan lebih kecil. Tubuhnya dihiasi kertas warna-warni, dikakinya diberi roda supaya mudah ditarik, dan dibawahnya juga ditaruh bola-bola yang menyerupai telur.

Warak ngendok juga selalu dikaitkan dengan perayaan dugderan, yaitu suatu festival keramaian di Semarang yang diadakan untuk memeriahkan awal bulan Ramadhan, sekaligus sebagai upaya dakwah karena selalu diadakan didekat masjid, namun karena bertambah padatnya lalu-lintas, maka sekarang lokasi dugderan tidak selalu didekat masjid lagi.

Tahun ini kirab warak ngendok dimulai dari balai kota di Jl.Pemuda dan berakhir di masjid agung Jawa Tengah (MAJT). Kesan saya terhadap kirab ini tidak ada yang istimewa kecuali usaha pelestarian budaya khas Semarangan saja. Karena kita, selaku penonton hanya disuguhi lambaian tangan para pejabat kemudian menyusul mobil-mobil yang mengangkut warak ngendok dengan berbagai macam hiasan. Sayang sekali yah? Hiburan budaya macam ini cuma kayak gitu, udah gitu jarang pula diadain. Fiuuuhh..

Padahal Semarang itu kota yang lumayan tenang buat ngehabisin waktu. Kalau nggak mau keramaian, kemacetan lalu-lintas, bingung liat mall yang bertebaran. Semarang-lah kotanya. Sepi dari hiburan dan aktivitas. hehe.. tapi itu bukan masalah koq? Buat yang udah pernah hidup di Semarang terus pergi merantau pasti pengen pulang lagi :-)


Kata Siapa Budaya Kita Milik Bersama?


Berulang kali media menayangkan berita mengenai pengklaiman budaya asli Indonesia oleh Malaysia. Sebut saja lagu rasa sayange, angklung Sunda, batik, tari pendhet, bunga rafflesia, keris, dan sebagainya. Sebagian budaya yang diklaim itu malah digunakan oleh Malaysia sebagai iklan pariwisata untuk ditayangkan ke seluruh dunia melalui saluran Discovery Channel. Siapa yang tidak marah budaya yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu tiba-tiba diklaim negara tetangga sebagai miliknya?

Singkat saja. Ini bukan murni kesalahan Malaysia. Kita mengaku salah. Kesalahan besar juga dibuat oleh pihak Indonesia. Karena menurut salah satu sumber berita di TVOne, Indonesia cenderung lamban dalam mengurusi budaya-budayanya. Hanya dua warisan budaya kita yang baru tercatat di UNESCO, yaitu keris dan wayang. Pemerintah telah menghimbau tiap provinsi melalui gubernur supaya melaporkan kebudayaannya masing-masing untuk diinventaris dan diurus hak patennya. Namun hingga saat ini baru tiga provinsi saja yang melaporkan, yaitu Bali, D.I. Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Barat.

Coba kalau kita lebih TEGAS mengurus budaya kita? Apakah akan seperti ini hasilnya?

* Tulisan ini hanya opini singkat setelah menyaksikan acara Bang One di TVOne (6/9) petang.

Heee.. saya boong tau!

Mana mungkin saya bisa berhenti nulis. Bisa gilaa kali..!!
Tiap hari saya harus nulis apa aja, mau itu tulisan serius, beralinea-alinea tugas dari Mbak Nurul, atau mau tulisan yang santai kayak gini. Ngga tau hal ihwalnya kecanduan nulis yang pasti awalnya dari jaman SD. Waktu itu sih belum ngerti apa-apa, belum jamannya komputer wong PC aja masih segede-gede gaban..
:scream:Hahaha...

Kalo saya bilang mau rehat nulis dulu sementara waktu itu mah cuma emosi sesaat aja. Habisnya gimana ngga emosi sesaat kalo jatah waktu yang awalnya buat ngerjain Tugas Akhir ternyata kesita buat nulis apa aja (baca : puisi). Korupsi banget deh pokoknya. >.< Tapi saya sekarang udah ngga bisa lagi nulis lama-lama pake pena. Udah kaku tangannya, tugas si Pena diambil alih oleh keyboard Lappy tercinta :-) lebih asyik tanpa harus ngehapus pake setipan atau tipex. Praktis juga bisa dimana aja.

Parahnya kalo ide-ide udah mulai bertebaran, saya kesulitan kalo pake lappy soalnya harus barengan sama adik cowok saya yang jam pemakaian lappynya udah tinggi soalnya dia anak jurusan jaringan komputer, jadinya sebagai kakak yang baik saya harus ngalah T.T Nah, kalo udah gitu ngga ada Lappy maka tissu atau kertas nota pun jadi, saya selalu sedia pena minimal satu ditas kemanapun saya pergi. Atau kalo udah paling kepepet ya pake HP :-) yang penting kosa kata yang udah lahir tadi ngga hilang gitu aja, maklum kan munculnya dadakan.

:puppyeyes:(Hiks..kenapa ide lahirnya dimana aja yah?)

Julukan penulis puisi yang sering disandangkan beberapa teman pun rasanya belumpantas saya sandang, saya ini masih kacangan, karbitan kemarin lusa. Ikut lomba berkali-kali belum juga lolos, belum pernah ikut antologi, belum pernah dimuat di media massa (cetak atau elektronik, kecuali blog saya..hehe). Tapi semua itu saya syukuri karena saya belum patah semangat buat terus berkarya, mau itu bagus atau setengah bagus , saya menghargainya sebagai sebuah karya pemikiran. Dikumpulkan jadi satu supaya dikemudian hari nanti bisa berguna. Amin

Jurnalis Sospol Undip


" Kamu pasti bisa, kembangkan tulisanmu mulai dari hal yang kamu kuasai, misalkan CSR (Corporate Social Responsibility)"

Mimpi itu dimulai dari bawah. Bersama kawan satu tim dengan bimbingan Mbak Nurul, kita sama-sama ngembangin website FISIP UNDIP supaya lebih berisi. Website ini awalnya hanya dikelola beberapa dosen, seiring bertambahnya pekerjaan, maka website inipun mulai sedikit terabaikan dan beritanya pun kurang update. Sedangkan prinsip jurnalisme online selalu memungkinkan setiap saat untuk selalu siap update dimana saja asalkan ada koneksi internet. Maka dibawah Surat Keputusan dari Dekan FISIP UNDIP, dibentuklah tim website yang terdiri dari Nida Fauzia (DIII Ilmu Komunikasi), Gendis Ayu (S1 Ilmu Pemerintahan), dan Dewanto Samodro (S1 Ilmu Komunikasi).

Berita
Setiap hari harus selalu ada yang baru. Apapun yang menyangkut embel-embel FISIP UNDIP bisa diberitakan. Redaksi juga menerima artikel ataupun release dari kegiatan kemahasiswaan. Namun hal tersebut masih satu arah, artinya mahasiswa FISIP belum "ngeh" dengan keberadaan kami sebagai media, sehingga kami-lah yang harus proaktif mencari berita kesana kemari. Sedikit berat namun ini keberuntungan pengalaman yang tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama, hingga harus digunakan sebaik mungkin sebagai bekal jika dikemudian hari nanti berkesempatan menjadi jurnalis yang sebenarnya. Glekkk..??!

Menyenangkan
Bisa menulis setiap hari dan belajar hal yang baru setiap kali harus meliput. Karena saya masih junior, maka saya harus menyiapkan bahan-bahan yang akan saya tulis menjadi berita. Membacanya terlebih dahulu agar tidak mati gaya,,hehe :p dan ternyata banyak hal yang menarik, teori-teori komunikasi yang belum pernah saya pelajari sebelumnya. Semuanya menarik, namun nampaknya saya harus menambah kada keberanian saya untuk menginterview dosen-dosen saya deh.. ^_^

Hmmm... kalo kata Mbak Nurul saya bisa, pasti saya bisa. Semanggaaattt... ^o^/

Long Distance Love, Not Relationship


REVIEW BUKU :

Long Distance Love. Imazahra, dkk. Penerbit : PT. Lingkar Pena Kreativa, Jakarta. Cetakan pertama Maret 2009.

Untuk apa menikah juga harus berpisah, bukan hanya antar kota, antar provinsi, tapi juga antar benua. Tidak sehari, seminggu, atau sebulan, tapi bertahun-tahun. Bahkan ada yang mencapai 22 tahun hidup terpisah.

Kisah-kisah serupa yang diwartakan Imazahra, dkk dengan apik. Semua cerita jadi favorit saya karena tiap cerita punya kekuatan tersendiri, yang seakan memaksa saya juga agar dapat bersikap sama seperti mereka, yang beda hanya saya belum menikah. Bagaimana mereka harus hidup dalam himpitan jarak yang merentang begitu jauh, namun harus tetap berkomunikasi lewat cara apapun demi menetas rindu (yang katanya hingga ke ubun-ubun..entahlah?saya belum pernah merasakannya :p). Hubungan yang tak murah karena membengkaknya biaya telepon dan internet, atau kadang "dibelain" terbang juga ke negara atau kota tempat suami berada. Hmm..apakah seperti itu?

Sekilas, buku ini mungkin agak cengeng. Judulnya saja LOVE. Termehek-mehek sekalii.. tapi cobalah membacanya. Bukan hanya bagi yang sedang mengalami kisah serupa, tapi juga yang ingin belajar bagaimana mempertahankan idealisme, cita-cita, keluarga, cinta, pendidikan, harga diri, agama, prinsip, dan banyak lagi macamnya dalam waktu yang hampir bersamaan. Beberapa penulis mengisahkan pengalamannya antara menikah dan menerima beasiswa ke Belanda, Inggris, Jerman, Jepang. Toh mereka tidak bermasalah dengan itu semua. Mungkin membutuhkan waktu yang agak lama, tapi dengan izin Allah semuanya dapat teratasi, tentunya dengan dasar pengertian, kepercayaan, kesetiaan, hormat yang tinggi.

ps : dari buku ini saya belajar untuk menerima, memberi, menghormati DIA yang ada di ibu kota. Untuk kedatangannya tiap dua bulan :-) Maaf kalo saya rada bawel.. :p

Mangrove Replant 2009 berbeda!!


Berbeda dengan Mangrove Replant (MR) sebelumnya, MR kali ini mempunyai konsep yang lain dari biasanya. Jika tahun-tahun sebelumnya MR dikondisikan sebagai penyuluhan, maka kali ini adalah pelatihan. Dengan jumlah peserta yang terbatas diharapkan ilmu yang disampaikan para trainer akan lebih mudah untuk diserap. Peserta MR kali ini lebih beragam, terdiri dari instansi pemerintahan Dinas Kelautan & Perikanan provinsi Kalimantan Timur dan Manokwari, Papua. Selain itu ada juga mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia, antara lain : Universitas Padjajaran (UNPAD), Universitas Bina Nusantara (UBINUS), Universitas Jendral Soedirman (UNSOED), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Malang (UNM), dan Universitas Muhammadiyah Mataram (UMM) juga SMA Semesta Semarang.

Mengusung konsep yang berbeda sebanding dengan dana yang harus dikeluarkan untuk mengikuti acara ini. Harga untuk pelajar sebesar Rp. 150.000, untuk mahasiswa sebesar Rp. 170.000, dan umum sebesar Rp. 200.000. Harga ini terbilang cukup mahal dibanding MR tahun-tahun sebelumnya. Namun harga yang harus dibayar ini sebanding dengan apa yang peserta dapatkan. Pelayanan yang diberikan panitia cukup memuaskan peserta, baik dari segi materi acara yang berisi dan variatif, konsumsi, dan ketepatan jadwal acara.

Materi acara yang paling menarik adalah saat pelatihan pembuatan bahan makanan berbahan dasar buah mangrove. Acara ini selain dihadiri oleh peserta dan panitia, juga dihadiri oleh ibu-ibu PKK yang bertempat tinggal di sekitar desa Teluk Awur. Dengan trainer ibu Lulut dari PKK Rungkut, Surabaya dan dua dosen teknologi pangan Universitas 17 Agustus (UNTAG) Semarang, acara menjadi semakin menarik. Peserta yang masih awam dengan makanan berbahan dasar buah mangrove nampak antusias ketika trainer memberikan sample sirup, jenang bogem, bolu, kerupuk, dan cake untuk dicoba. Tak hanya bahan makanan, ibu Lulut juga mempraktekkan pembuatan sabun cair berbahan dasar Sonneratia Alba, selain itu juga beliau menghimbau kepada para ibu-ibu rumah tangga yang hadir untuk dapat berkarya dengan mendayagunakan bahan-bahan alam yang ada disekitar lingkungan karena dapat meningkatkan taraf ekonomi keluarga.

Kepedulian dan kekritisan para peserta terhadap lingkungan terlihat saat sesi Mangrove Training. Acara yang diisi oleh tiga trainer KeSEMaT ini walaupun berlangsung hingga tengah malam, namun peserta yang dibagi menjadi tiga blok, barat, timur, dan tengah ini masih sanggup memaparkan permasalahan kondisi lingkungan yang ada didaerah masing-masing.

Keesokan hari, peserta bersama panitia menuju bedeng persemaian untuk mengambil bibit-bibit mangrove yang telah ditanam saat Mangrove Cultivation (MC) Maret 2009 lalu. Bibit ini digunakan untuk menyulam tanaman mangrove yang mati di lokasi penanaman sebelah selatan asrama. Jika tahun-tahun sebelumnya desa Teluk Awur menjadi lokasi utama kegiatan maka tidak untuk MR tahun ini. Desa Tanggul Tlare yang berjarak 20 menit dari desa Teluk Awur menjadi tempat terakhir kegiatan MR. Peserta beserta panitia bersama-sama menanami area bekas tambak yang sudah tidak produktif. Masing-masing peserta dibekali lima bibit dan ajir (batang bambu untuk penyangga bibit). Siang yang terik tidak menghalangi gerak para peserta dan meski harus berkubang lumpur setinggi dada orang dewasa, antusias peserta tidaklah berkurang.

Salam Mangrover!!

*Nida Fauzia Supriatna ( Peserta MR 2008, MangRes 2008, MC 2009, dan MR 2009)

Shalat Yang Menyelamatkan


Ada satu cerita dari korban selamat bom Ritz Carlton - JW.Marriot kemarin di harian JawaPos pagi ini. Yang selamat adalah sekuriti dari Hotel JW.Marriot, ini kali kedua dia selamat dari ledakan bom, setelah yang pertama pada tahun 2003 lalu di hotel yang sama. Dia selamat karena pada saat ledakan sedang melaksanakan shalat dhuha (Subhanallah!). Rupanya sebelum kejadian, seorang kawannya menyarankannya untuk menunaikan shalat sunnah yang terberkahi tersebut. Dan atas kehendak Allah pula, dia terselamatkan. Yang kedua, bukan soal bom lagi.

Sekitar satu tahun yang lalu, ada kebakaran di suatu daerah di Semarang. Daerah ini merupakan kawasan padat penduduk yang rumahnya saling berdempetan. Seperti yang Allah firmankan dalam Al-Quran, bahwa bencana akan datang saat sepertiga malam atau menjelang subuh, kebakaran itu pun terjadi pada saat sepertiga malam. Dimana jam tersebut adalah saat orang sedang tertidur lelap.
Namun tidak halnya bagi seorang kakek. Saat orang lain tertidur dia sedang asyik bertafakur, bersujud, menikmati waktu akhir malam dengan menunaikan shalat tahajud. Dalam shalatnya Ia berdoa agar dihindarkan dari marabahaya, shalatnya terusik saat didengarnya ada suara gaduh diluar rumah dan hawa terasa panas. Saat pintu rumah dibuka, dilihatnya orang-orang ramai memadamkan api. Ternyata terjadi kebakaran. Namun apa yang mengherankan? Rumah disebelah kanan-kiri si kakek sudah hangus terbakar, sedangkan rumahnya masih tegak berdiri, api tak menjilatnya sama sekali. (Subhanallah!Allahu Akbar!)

Saat seorang kawan berpulang ke Rahmatullah pada 17 Mei lalu, saya merenungkannya. Betapa tidak? Kematiannya membawa pesan bagi siapapun yang mau mengambil ibrah darinya. Dia meninggal pukul 10.00 pagi, saya mempertanyakan, Apakah almarhum sempat shalat sunnah dhuha sebelumnya? Apakah almarhum sempat membaca doa sebelum meninggalkan rumah dan saat berkendara?

Betapa tidak?

Jika saja mau menyempatkan diri disela waktu kita yang sempit untuk menunaikan 2 rakaat shalat dhuha dipagi hari sebelum beraktifitas, semoga Allah berkenan menjaga kita hingga sore hari.

Betapa tidak?

Jika saja mau membaca doa sebelum bepergian, semoga Allah meridhai langkah-langkah dan memberikan keselamatan bagi kita.

Wallahu alam.

Facebook Sebagai Media Kampanye Pilpres 2009

*Sumber gambar : mikekono.files.wordpress.com

Pasangan SBY-Boediono menjadi capres-cawapres paling diminati oleh para Facebook-ers rupanya. Ini terbukti dengan hasil polling Pilpres 2009 di Facebook, pasangan tersebut lebih unggul ketimbang dua pasangan lainnya. ”Penggunaan Facebook sebagai media kampanye sah-sah saja digunakan karena pemakai Facebook juga pemilih potensial, walaupun suara yang masuk belum dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya”. papar Djoko Setyabudi, pengajar Komunikasi Pemasaran FISIP Undip saat ditemui, Jumat (12/6).

Menurut Djoko, dukungan bagi pasangan capres-cawapres melalui support group di Facebook bisa saja tidak diberikan secara jujur oleh pemilih, karena ada dorongan suasana hati dan dilakukan secara spontan. “Masih mungkin pilihan mereka akan berubah setelah mengikuti perkembangan Pilpres selanjutnya.” tambahnya.

Meskipun pasangan nomor urut dua tersebut meraih suara unggul dibandingkan kandidat lainnya, menurut Djoko hal tersebut tidak bisa dijadikan patokan resmi. Karena Pilpres 2009 baru akan diadakan awal Juli mendatang, sehingga masih dimungkinkan adanya perkembangan suara. ”Lebih baik jika kita mendengarkan hasil polling lainnya dan biasanya polling yang sesuai adalah polling menjelang Pemilu Presiden 2009 nanti.” papar Djoko.


*Ditulis oleh Nida. Dan dimuat juga di www.fisip.undip.ac.id

"Cinta Yang Hakiki Tidak Menyesatkan..."

Cinta tidak dilarang, namun akan ada saatnya nanti bagi cinta berkembang. Cinta harus mempunyai arah dan tujuan yang pasti, cinta yang positif akan mendorong diri senantiasa berbuat baik untuk masa depan dan cinta yang hakiki tidak akan menyesatkan. Forum Keluarga Mahasiswa Muslim (FKMM) Rohis FISIP Undip pada Minggu (7/6) mengadakan bedah buku ”Karena Cinta Harus Memilih” di ruang B.101 FISIP Undip. Menghadirkan Ustadz Burhan Sodiq, sang penulis buku dan Endang Sri Indarwati, dosen Fakultas Psikologi Undip.

Wajar ketika manusia, apalagi seusia remaja dan dewasa mengalami fase jatuh cinta. Karena itu sudah menjadi fitrahnya. Namun cinta yang tumbuh itu harus dibingkai dalam aturan syariat yang syar’i agar tidak jatuh kedalam kemaksiatan dan perbuatan negatif. Media massa, terutama televisi setidaknya ikut andil dalam proses pendewasaan remaja saat ini. ”Program-program yang ditayangkan turut mempengaruhi perilaku dan pemahaman sehari-hari. Misalnya saja, istilah pacaran, dalam perjalanannya istilah ini kemudian menjurus pada taraf penjajakan hingga eksploitasi,’ ujar Iin, panggilan akrab Endang. ”Ketika satu hubungan tidak digunakan secara positif maka akan jadi bumerang bagi diri kita sendiri,” tambahnya.

Lantas bagaimana ketika cinta menyapa disaat masa studi belum usai? ”Banyak menempa diri dengan mengkaji agama Islam, bergaul dengan komunitas yang positif, dan jangan sekali-kali menganggap bahwa cinta harus diwujudkan dengan pacaran,” jelas Iin dan diamini oleh Ustadz Sodiq. ”Kita harus fokus pada studi yang kita tempuh dan kuncinya adalah menguasai diri juga fokus, jangan disambi dengan kegiatan yang tidak bermanfaat. Karena akan ada masanya bagi kita jatuh cinta. Allah tidak akan menyiakan hamba-Nya,” kata Ustadz Sodiq.

Lantas bagaimanakah cinta yang dihalalkan dan insyaallah bernilai keberkahan didalamnya? Jawabnya adalah pernikahan. Ada opsi seperti ini : Mencintai orang yang kita nikahi itu wajib hukumnya, dan menikahi orang yang kita cintai itu opsional.

Jangan biarkan masa depan kita hancur hanya karena meletakkan cinta di koridor yang salah. Semoga Allah selalu senantiasa menjaga kita dari apa-apa yang batil dan tidak bermanfaat. Afwan sebelumnya jika ada yang kurang berkenan, saya pun sedang berusaha menata hati dari koridor yang bukan seharusnya. Semoga Allah selalu menjaga. Amin :-)


*menuju perjalanan yang diridhoi oleh-Nya*

Berujung Hamdalah-kah (juga)?

Membaca buku kecil tapi berbeban dunia akhirat itu membuat saya semakin merasa bersalah. Bukan apa muatan buku itu hingga saya merasa demikian. Karena apa yang dituliskan benar adanya. Dan kesalahan ada pada diri saya. Alih-alih belajar sambil berikhtiar, saya malah jadi kepikiran. Jalan apa yang harus saya tempuh? Karena buku itu mensyaratkan sesuatu yang saya sudah bisa penuhi. Ah, entahlah. Saya akan terus menamatkan buku itu hingga seri terakhirnya. Apapun ilmu yang saya dapat biarlah menjadi bekal saya meraih ridho-NYA.

Semarang, Mula Juni 2009

Humas RS OMNI mati kutu

Yaaa..ketemu masalah yang real setelah berkutat dengan teorinya saja. Selama ini dalam perkuliahan, dosen di jurusan mengajarkan step-step menangani issue, membuat kebijakan publik yang populis, hingga ke hal yang remeh tapi krusial.


Kali ini masalah humas RS OMNI yang langsung main tangkap, main penjara segala hanya karena keluhan dari seorang konsumen jasa mereka (pembredelan opinikah ini?). Halooo...wajar bukan jika ada seorang konsumen yang merasa kurang puas maka dia akan menuliskan keluhannya di media massa? Setiap hari bisa kita temui di berbagai media massa, baik cetak, elektronik yang memuat berbagai keluhan. Toh jalan keluar (biasanya) dari perusahaan atau nstitusi yang bersangkutan akan memberikan jawabannya dengan baik-baik. Atau bahkan memberikan gift sebagai tanda terima kasih atas keluhan yang disampaikan. Bisa diartikan keluhan itu sebagai kritik supaya institusi, perusahaan yang bersangkutan supaya meningkatkan kualitas mereka dikemudian hari. Itu semua juga untuk kepentingan perusahaan atau institusi mereka nantinya. Jika Humas RS OMNI mengetahui step-step yang benar maka dia akan membuat semacam riset atas issue ini dan berpikir jangka panjang.

Publik itu penting lho?

Konsumen adalah raja yang harus dilayani. Lihat saja nasib RS OMNI (terutama humasnya) jika tidak menangani krisis kepercayaan publik ini dengan baik. Masalahnya, berita ini menggelinding, meluas sampai capres yang mau berkampanye itu turun tangan dan bersimpati. Media massa, baik cetak, elektronik nasional mengulasnya, bahkan menjadi headline mereka.

Mengembalikan kepercayaan publik bukan hal yang mudah!


Kekerasan Terhadap Wanita Pada Tayangan Animasi Anak

Wanita dan perempuan merupakan terminologi yang serupa. Namun, dalam implementasinya ada beberapa pihak yang hanya menggunakan istilah wanita maupun istilah perempuan saja. Seperti Dr. Sunarto, penulis buku “Televisi, Kekerasan dan Perempuan” yang menggunakan istilah wanita saja. ”Karena saya orang Jawa maka alasan ideologis saya tentang makna wanita adalah wani ditata. Namun menurut saya bukan hanya itu saja pemaknaan wanita, wanita bisa diistilahkan juga wani nata. Sedangkan para aktivis gender lebih sering menggunakan terminologi perempuan ketimbang wanita. Hal ini dikarenakan adanya trauma pada masa orde baru yang memunculkan makna peyoratif pada wanita”. terangnya.

Diskusi sekaligus peluncuran buku ”Televisi, Kekerasan dan Perempuan” yang diadakan oleh Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro pada (3/6) di Ruang sidang utama gedung Pascasarjana Lt.1, menghadirkan Prof. Agnes Widanti, SH, CN (Dosen Unika Soegijapranata Semarang), Prahastiwi Utari, Ph.d (Dosen Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNS Solo), Dr. Turnomo Rahardjo (Dosen program Magister Ilmu Komunikasi program Pascasarjana Undip) dan Dr. Sunarto (Dosen program Magister Ilmu Komunikasi program Pascasarjana Undip) sebagai pembicara dengan dimoderatori oleh Dr. Hedi Pujosantoso, Msi (Dosen program Magister Ilmu Komunikasi program Pascasarjana Undip) ini membahas permasalahan kekerasan pada perempuan dalam media anak dengan lebih komprehensif.

”Mengapa mengambil text anak-anak? Karena belum banyak penelitian tentang ini, televisi merupakan media yang sangat strategis untuk membentuk ideologi anak. Salah satu topik yang sering diulas dalam gender adalah kekerasan pada wanita secara aktual. Tiap tahun pasti ada kenaikan yang berarti, meskipun masih banyak yang belum ter-cover oleh media”. jelas Soenarto.

”Kenaikan jumlah kekerasan pada wanita berarti meningkatnya kesadaran dan berani melaporkan diri, selama ini kekerasan dalam rumahtangga (KDRT) sering dikaitkan dengan permasalahan kultural, tidak hanya aktual tapi juga simbolikal dan tingkatnya masif”. ujar penulis buku ”Analisis Wacana Ideologi Gender Anak-Anak” ini.

”Sedangkan saat ini kekerasan simbolikal pada wanita melalui media massa dewasa sudah jamak, berupa : limitasi peran sosial dan menjadikan wanita sebagai objek seksual”. tambahnya. Wanita belum diberi banyak opsi untuk menentukan jalannya dan tidak diwakili secara proporsional di media, misalkan saja, kebanyakan narasumber berita adalah kaum laki-laki karena merekalah yang biasanya duduk dalam jabatan formal.

Menurut Turnomo Rahardjo, buku yang ditulis oleh rekannya tersebut menginspirasi akan pentingnya pendidikan androgini dalam keluarga, sekaligus memberikan kontribusi perlunya gerakan yang lebih intensif untuk melakukan counter hegemony terhadap media yang bias gender. ”Karena saat ini kekerasan aktual maupun simbolikal berlangsung diberbagai ”ruang” seperti : KDRT, didaerah konflik, dijalan raya, media massa hingga forum keagamaan” tambahnya.

”Media massa kerap menampilkan wanita melalui pesan-pesan yang innocent pleasure, dan menawarkan citra wanita yang unreal, unthruthful dan distorted”. sambung Turnomo.

Lebih lanjut, Dr. Sunarto menambahkan bahwa hasil penelitian yang dilakukannya menemukan bahwa ada kekerasan simbolik pada wanita dalam film anak-anak. Kekerasan personal, seperti psikologis (diejek, dihina, didiskriminasi, dipaksa, dan sebagainya), seksual (direndahkan seksualitasnya, disentuh, dan sebagainya), dan fungsional (dipaksa, dihalangi dalam melakukan sesuatu, dan sebagainya). ”Banyak film anak-anak yang mengandung unsur kekerasan, misalnya Doraemon, Crayon Shinchan dan Tom and Jerry” kata Soenarto.

Saran yang dapat saya berikan antara lain : stasiun televisi perlu melakukan swasensor lebih cermat terhadap tayangan animasi anak-anak yang bermuatan kekerasan personal secara umum maupun khusus terhadap wanita. Selain itu perlu dilakukan kajian-kajian lebih lanjut terhadap berbagai program televisi untuk anak-anak yang ditengarai mengandung kekerasan simbolik. Yang tak kalah pentingnya, dalam rangka menciptakan sistem sosial egalitarian sebagaimana menjadi cita-cita bersama, perlu diciptakan, ditingkatkan, diperkuat dan diberdayakan sturktur personal, institusional dan sosial melalui advokasi penyadaran gender secara kontinu dan konsisten.

Sumber : bahan materi diskusi ”Televisi, Kekerasan dan Perempuan”.

Ditulis oleh Nida dan juga dimuat di www.fisip.undip.ac.id