Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Madre : "Biang" racikan Dee


Judul : Madre, Kumpulan Cerita
Penulis : Dee
Cetakan : Pertama, Juni 2011
Penerbit : Bentang
Tebal : xiv + 162 halaman

Awesome. Itulah yang ada dibenak saya setiap kali menunggu karya Dee muncul di pasaran. Rasanya seperti hendak membuka kado ulang tahun dalam sebuah kotak berpita manis. Saya belum sempat membaca semua karya Dee, saya melewatkan semua edisi Supernova yang konon kondang itu. Saya hanya sempat melahap Rectoverso, sang novel hybrid, baik novel maupun musiknya, kemudian Filosofi Kopi, Perahu Kertas, dan dipungkasi oleh Madre.

Dee memang salah satu penulis Tanah Air yang fenomenal. Apik dalam tarik suara, lincah dalam tulis-menulis. Saya menyukai apa yang Dee karyakan, karena karya-karyanya teramat halus dan tulus. Banyak menceritakan kisah percintaan yang tidak sevulgar penulis wanita lain. Membacanya terasa seperti memasuki lorong waktu. Hening dan senyap. Tanpa perlu takut mengernyitkan kening karena istilah yang membuat kita berpikir apa artinya. Baca saja, jalani saja alur yang terhampar dihadapanmu. ^^

Madre : Tansen Wuisan, lelaki bebas, hidup di Bali, ibunya telah meninggal saat melahirkannya, ayahnya memberinya kebebasan hidup atau dengan kata lain mengacuhkannya. Tansen pergi ke Jakarta. Ke sebuah acara pemakaman, yang dia sendiri tak tahu siapa yang dimakamkan. Dia datang jauh-jauh karena orang yang baru saja dimakamkan itu memberinya sepucuk surat wasiat. Tan Sie Gie, adalah orang yang mewariskan surat itu kepada Tansen.

Alih-alih uang atau benda berharga lain, surat itu membawa Tansen ke sebuah rumah di kawasan tua Jakarta. Seorang kakek tua bernama Hadi mempersilahkannya masuk, dan dia sudah mempersiapkan sesuatu untuk Tansen.

Madre. Ya, Madre adalah warisan yang dimaksudkan. Madre adalah adonan biang roti berumur puluhan tahun. Dan rumah tua itu adalah bekas toko Tan De Bakker, sebuah toko roti yang masyur di eranya. Dari situlah Tansen mengetahui bahwa Tan Sie Gie adalah kakeknya yang berdarah Tionghoa dan Laksmi, neneknya yang berdarah India adalah pembuat Madre sejak berpuluh tahun silam.

Madre membawanya kearah yang tak terduga. Semula ia merasa bebas, enggan terikat, namun Madre telah menambat hatinya. Pengalaman pertamanya membuat roti dengan Madre membuatnya ingin membangkitkan lagi Tan De Bakker. Pak Hadi dan juga bekas karyawan Tan De Bakker lainnya bersemangat saat Mei, seorang perempuan muda Tionghoa mengajak Tansen bekerjasama.

Madre hanya satu diantara 13 kumpulan cerita dan prosa. Meski sebagian sudah pernah dipublikasikan oleh Dee dalam blog pribadinya. Tak ada salahnya jika mengulang atau menjadikan Madre sebagai salah satu bacaan berkualitas dirumah. Selamat membaca :)

Kisah-kisah Anjing


Judul Buku : James Herriot's Dog Stories
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2010
Tebal : 623 halaman

Huhuu..buku-buku berkaver anjing atau kucing bikin saya rela nggak jajan apa-apa. Padahal juga udah tahu kalo ujung-ujungnya juga nangis. Tapi tetep aja saya suka..

James Herriot's Dog Stories adalah kumpulan kisah sejati tentang anjing-anjing dan para pemilik mereka, yang jadi keseharian James Herriot's, seorang dokter hewan di pedesaan Yorkshire yang indah.

Buku setebal 623 halaman ini bersetting tempat di Yorkshire, sebuah pedesaan yang indah di Inggris. Dengan deskripsi yang kuat tentang bukit-bukit yang menggunung, diselingi semak-semak heather yang menakjubkan. Persis seperti yang pernah saya lihat di film "Lassie" yang juga bersetting di Yorkshire.

Seperti juga buku tentang hewan peliharaan lainnya. Buku ini banyak bercerita tentang kisah hewan peliharaan dengan pemiliknya. Ada kisah tentang Gyp, anjing gembala yang hanya menggonggong satu kali dalam hidupnya. Juga Bob, anjing Labrador blasteran yang sudah tua. Pemiliknya seorang duda miskin yang sengaja memanggil James Herriot's karena Bob sakit. Dan ternyata Bob menderita sakit kanker stadium akut. Untuk menghilangkan rasa sakitnya, James memutuskan untuk meng-euthanasia Bob. Sang pemilik yang miskin dan kesepian pun merelakan sahabat terbaiknya untuk pergi lebih dulu.

Ada 50 cerita tentang anjing disini. Sedih, senang, lucu bercampur jadi satu. Naaah.buat pencinta binatang, buku ini kayaknya a must read deh.. ^^

Selamat membaca.

A Dog's Life


Judul Buku : A Dog's Life
Penulis : Ann M. Martin
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2006
Tebal : 214 Halaman


Squirrel adalah anjing gelandangan kesepian yang malang. Hidup berpindah-pindah, merindukan kasih sayang manusia. Kadang dia melongok kedalam rumah-rumah yang hangat, namun tak pernah diundang masuk. Kadang dia harus tinggal di garasi, gudang, atau di bawah kereta sorong, lalu meneruskan perjalanannya.

Sesekali ada pula manusia yang berbaik hati memberinya makanan, namun ada juga yang memperlakukannya dengan kejam. Setelah berkali-kali dikecewakan manusia, Squirrel memutuskan untuk hidup sendiri saja. Tapi kemudian dia bertemu dengan Susan. Dan ternyata di hati Squirrel masih ada tempat untuk seorang manusia.

Novel bergenre anak-anak ini melintasi hati para pecinta binatang. Kisah yang mengangkat tema hewan peliharaan selalu saja menggugah hati, membuat haru, dan berujung dengan tissu yang basah terkena air mata. 

Lelaki Yang Berjalan Diatas Laut



Judul Buku : Lelaki yang Berjalan Diatas Laut
Penulis : Dino Umahuk
Penerbit : Lapena, Institute for Culture and Society, Aceh
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 138 Halaman


Laut : menawarkan keteduhan diantara riak-riak ombak. Kadangkala, terik dan semilir angin berbaur tanpa perlu merasa rikuh kepada siapa yang sedang duduk sembari berkesah dalam senyap.

Laut berkarib dengan pasir juga karang. Selalu menyertainya, kapal yang berlayar, lengkap dengan sauh, jala, atau pukat yang mengapung ditengahnya.

Laut : penuh dengan ilham, bagi siapa saja yang berkenan membuka hati untuk membacanya.

Seperti itulah kira-kira ”pengembaraan” Dino Umahuk dalam melukiskan cinta, perjalanan hidup, kerinduan akan tanah kelahiran, dan kematian. Dino yang berdarah Maluku mampu bercerita tentang Aceh, tanah perantauannya. Talenta Aceh nampak gamblang pada pencitraan alam bahari yang kaya akan imaji, kerinduan akan Sang Khalik, keterasingan dalam negeri sendiri karena konflik yang sengaja diciptakan, tentang hilangnya kasih sayang, serta musibah gelombang besar tsunami*.

Puisi memang tidak mudah dipahami. Membacanya bukan dengan jalan yang lempeng, tapi perlu sedikit pemahaman hati akan tiap kalimat yang dituliskan. Sebab, setiap kalimat yang tercantum, dimaknai sebagai ungkapan hati si penulis.

Inilah persembahan kedua Dino Umahuk, setelah antologi puisi sebelumnya, ”Dino Umahuk, Metafora Dari Laut” yang diluncurkan pada 27 Februari 2008 silam.

Saat Cinta Diwujudkan Dalam Sebuah Buku


Jendela Cinta (GIP,2005)

Yang Terhormat Aceh,
Setelah udara mesiu memburu paru-paru
Sehabis peluru menelikung rongga dada
Kini cuaca ikut bicara
Sempurnalah segala ujian
Yang menjelma malapetaka
Acehku dimana rencongmu?
Acehku jangan menangis
(Firman Venayaksa. Penulis, Penyair, & Pemusik)

Dalam sebuah kesempatan, saya singgah ke pameran buku di Gedung Wanita, Selasa (2/3) kemarin. Walaupun sudah menahan diri,tangan saya berasa gatal kalau datang ke pameran buku tapi tidak membawa pulang hasilnya.  Di salah satu stan Gema Insani Press, saya menemukan buku keluaran Forum Lingkar Pena (FLP). Sudah seperti jaminan umum, bahwa buku-buku keluaran FLP selalu membawa spirit positif bagi pembacanya. Makanya saya tidak ragu membeli Jendela Cinta (GIP, 2005) dan Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2005)

Jendela Cinta. Buku keroyokan 15 penulis ini didedikasikan bagi korban tsunami Aceh 2004 silam. Seluruh honor yang diterima oleh penulis disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan bantuan. Kendati untuk Aceh, buku ini tidak melulu menyajikan cerita yang kelabu. Sebagian besar cerita pendek dalam buku ini pernah dimuat di beberapa majalah atau buku lain. Seperti “DIA” karya Asma Nadia, saya pernah membaca sebelumnya, tetapi entah dimana, pun, “TUMIS DAN SAYUR ASEM” karya Sakti Wibowo.

Jalinan ceritanya memang sederhana, seperti cerita sebelumnya yang ditawarkan oleh penulis keluaran FLP lainnya. Tapi ada yang jauh lebih besar dibanding mementingkan kompleksitas alur cerita. Tulisan mereka seperti mempunyai ruh. Bukan ruh yang hampa. Semacam ajakan yang kuat untuk senantiasa terus menata diri menjadi lebih baik. Mengandung kekuatan moral yang tinggi dan didasarkan pada kejadian sehari-hari.

9 dari Nadira


Judul Buku : 9 dari Nadira
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta
Cetakan : I, Oktober 2009
Tebal : xi + 270 Halaman

Petualangan Jiwa Dalam Nadira
Pucuk dicinta ulam tiba. Kerinduan akan sesuatu yang segar terobati. Satu lagi karya sastra yang berbeda aliran muncul ditengah membanjirnya buku-buku yang sekilas nampak seragam, baik alur cerita, penokohan, desain sampul, sudut pandang, dan sebagainya. Di penghujung tahun 2009, Leila S.Chudori membawakan 9 Dari Nadira dengan sangat apik ke tengah para penggemar sastra yang merindukan bacaan sastra berbeda. Kenapa saya sebut berbeda, karena pembaca sastra tengah bosan dibuai keseragaman tema seperti yang saya ungkapkan diatas. Leila mengemas sembilan cerita dengan bahasa yang sederhana tanpa perlu sibuk bermetafora.

Dengan sudut pandang yang cergas mampu membawa pembaca menjelajahi New York, Pedder Bay, Tanjung Pandang, dan kota-kota bahkan negara yang menjadi latar belakang cerita. Mampu menghadirkan cerita kehadapan pembaca dengan jelas, seakan kita berada ditengah konflik yang dilukiskan Leila dalam bukunya. Latar belakang leila sebagai jurnalis tentu banyak membantu pematangan konsep cerita menjadi suatu karya yang berkualitas dan diperhitungkan. Keahliannya bertutur mampu memperlancar alur penceritaan dari awal hingga akhir yang pada akhirnya melibatkan pembaca secara psikologis maupun emosional.

** Nadira adalah tokoh utama dalam kesembilan cerita yang ada dalam buku ini. Nadira merupakan putri ketiga dari pasangan Bramantyo Suwandi, jurnalis senior dan mantan bartender sewaktu kuliah di Belanda, dengan Kemala Yunus, putri dari pengusaha kaya raya yang sekuler. Kedua kakaknya, Nina dan Arya merupakan tokoh yang turut berperan meski bukan sentral. Turut hadir pula tokoh Gilang Sukma, koreografer tari flamboyan yang sudah tiga kali menikah namun selalu diakhiri dengan perpisahan, yang menggoda Nadira, namun menikahi Nina, sang kakak. Pernikahannya dengan Niko Yuliar, mantan aktivis 70’an yang juga harus diakhiri. Relasinya dengan Utara Bayu, atasannya di majalah Tera yang diam-diam menyimpan hasrat pada Nadira dan menyerah dalam diam serta Marc Gillard, sahabat semasa kuliah di Kanada.

Semula saya mengira ini novel biasa yang hadir tanpa gambar atau ilustrasi, hanya murni merangkum kata. Keistimewaan saya temukan saat menjelajah bab demi bab, hadirnya ilustrasi semakin menegaskan cerita selanjutnya. Memasuki cerita pertama, ”Mencari Seikat Seruni”, tersaji gambar wanita tertelungkup, mungkin pembaca sedikit kebingungan dengan maksud gambar tersebut. Namun kebingungan itu lunas saat bab pertama dituntaskan. ”Mencari Seikat Seruni” menceritakan tentang ”Sebuah pagi yang murung, Nadira Suwandi menemukan Ibunya tewas bunuh diri di lantai rumahnya. Kematian sang ibu, Kemala Yunus-yang dikenal sangat ekspresif, berpikiran bebas, dan selalu bertarung mencari diri-sungguh mengejutkan.” Pembaca serasa disuguhi pagi yang murung juga kelabu. Dimana kematian tragis seorang ibu yang menjadi panutan ketiga anaknya begitu mengguncang dan masing-masing mencoba tegar. Kenapa diberi judul ”Mencari Seikat Seruni”? Karena Nadira mengingat kata-kata terakhir sang Ibu, ”Terakhir, yang paling penting-yang selalu disebut-sebut Ibu-aku pasti mengais-ngais bunga-bunga kesukaan Ibu yang sulit dicari di Indonesia: bunga seruni putih. Kenapa seruni? Dan kenapa harus putih?.” (Hal.3). Hal itu akan terjawab saat Nadira membaca buku harian sang Ibu saat menikah dengan sang Ayah.

Lazimnya romansa percintaan, Utara Bayu yang tak mampu menyatakan perasaan harus gigit jari saat Nadira menikah dengan Niko Yuliar, kemudian memilih menikah dengan wanita yang tidak dicintai. (Hal.231) Dan kisah teka-teki diakhiri pada ”At Pedder Bay”, setelah berpisah dari Niko Yuliar, Nadira menyadari perasaannya pada Utara Bayu. Pembacalah yang dapat memutuskan dalam imajinasi masing-masing akhir kisah Nadira.

Meski kesembilan cerita ini dibuat secara terpisah dengan rentang jeda yang cukup lama, pembaca tentu dapat melihat adanya keterkaitan antara masing-masing cerita. Seperti yang tertulis pada sampul belakang, ”Tewasnya Kemala kemudian mempengaruhi kehidupan Nadira sebagai seorang anaka (”Melukis langit”); seorang wartawan (”Tasbih”); seorang kekasih (”Ciuman Terpanjang”); seorang istri, hingga akhirnya membawa Nadira kepada sebuah penjelajahan ke dunia yang baru, dunia seksualitas yang tak pernah disentuhnya (”Kirana”).

Kisah dalam 9 dari Nadira mampu membangun sebuah kehidupan imajinatif bagi pembacanya, meski Leila, dalam pengantarnya, menyebutkan bahwa ini merupakan sembilan cerita pendek dan tertulis pada halaman akhir bahwa masing-masing cerita itu ditulis secara terpisah, tidak runtut, dan dalam jeda yang cukup panjang. Namun tidak lantas cerita yang sudah dirangkum alurnya ini kehilangan ruhnya.

ps : kado milad ke 22 dari seorang kawan berbagi buku. Makasih ya, Bang.. :-)

Cinta, Citacita, dan Takdir



Judul Buku : Perahu Kertas
Penulis : Dee
Penerbit : Bentang Pustaka, Jogjakarta
Cetakan : I, Agustus 2009
Tebal : xii + 444 Halaman

Karya Dewi Lestari atau karib dipanggil Dee lekat dengan bahasa yang rumit dengan alur cerita yang kompleks. Seperti Supernova, Filosofi Kopi, atau buku hybridnya, Rectoverso. Dee banyak menyisipkan kisah percintaan hampir di seluruh karyanya, cinta yang sederhana tapi tidak norak.

Perahu Kertas, adalah karya Dee yang paling anyar. Setelah didahului dengan versi digital, kini Dee mengemasnya menjadi buku konvensional. Tebal. Dengan kaver yang unik, menjadikan buku ini semakin menarik untuk ditelusuri. Pembaca tidak akan disuguhi dengan kerumitan. Dee menggunakan bahasa yang nge-pop dalam Perahu Kertas. Meski begitu, Dee mampu mengemas nilai-nilai filosofis tentang cinta, cita-cita, takdir, juga kehidupan dengan maksimal melalui tokoh-tokoh seperti Keenan dan Kugy, dua tokoh utama dalam novel ini.

Kugy Alisa Nugroho, namanya. Cukup dipanggil Kugy. Seorang remaja yang baru lulus SMA. Bertubuh mungil. Pengkhayal yang baik dan cukup berantakan. Melanjutkan pendidikannya di fakultas Sastra disalah satu universitas di Bandung. Dari benaknya, mengalir untaian dongeng yang indah. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis dongeng, namun setelah beranjak dewasa, menyadari bahwa menjadi penulis dongeng tidak bisa dijadikan sandaran. "Menjadi sesuatu yang bukan diri sendiri, hingga akhirnya menjadi diri yang asli, meski harus berputar-putar"

Keenan. Remaja Indo yang cerdas, artistik, dan penuh kejutan. Dari tangannya, lahir lukisan-lukisan magis. Terpaksa kuliah di jurusan manajemen, menyalahi takdirnya terhadap seni, karena ia harus mengikuti kehendak orangtuanya. Keberanian Keenan terlihat saat ia berontak terhadap peta yang telah ditetapkan orangtuanya : berhenti kuliah, dan menetap di Ubud, berprofesi sebagai pelukis dengan berguru kepada Pak Wayan, mantan kekasih Ibunya.

Sarat Adiktif
Pembaca akan menemukan renungan-renungan mendalam yang disuguhkan Dee dengan apik melalui tokoh-tokoh yang masih belia. Meski belia, tidak mengurangi kualitas pemahaman refleksivitas diri kita sebagai pembaca. Justru akan membawa kita untuk terus menuntaskan hingga lembar paling akhir novel ini.

Pilih Jadi Idealis atau Apatis?

Terimakasih untuk tayangan KickAndy episode Soe Hok Gie , Jumat 18 Desember 2009. Karena dari sanalah saya baru tergerak untuk tahu siapa itu Soe Hok Gie (SHG)? Jauh sebelumnya memang sudah pernah mendengar nama itu, tahun 2005 kan sempat dibuat film GIE. Saya juga nonton tapi belum terlalu ngeh sama inti ceritanya yang serius.

Setelah itu baru saya mencari buku yang dilaunching Desember 2009 ini : Soe Hok Gie..Sekali Lagi : Buku, Pesta, Cinta di Alam Bangsanya. Tapi nggak ketemu dimana-mana, sampai akhirnya harus inden dulu di Gramedia Java, Semarang.

Inspiratif
Terlepas dari berbagai opini tentang sosok yang satu ini, saya menilai SHG sebagai inspirasi segala zaman. Situasi saat ini tidak jauh beda dengan situasi angkatan 60-an. Cukup relevan bagi saya bila SHG dijadikan acuan bagi kita, kaum muda untuk menetapkan pilihan. Idealis atau apatis? Menurut saya tidak melulu politik yang dijadikan lahan bagi kita untuk menegakan aspirasi. Buku SHG..Sekali Lagi ini membuka mata tentang berbagai sisi humanis SHG. Selain seorang penulis, pembaca, pengamat, oposan, demonstran, pencinta alam, rupanya SHG juga seorang pencinta hewan peliharaan seperti anjing, kucing, dan monyet. Monyet yang dia pelihara dia dapatkan dari membeli monyet tetangganya yang tidak mampu. Kucing dan anjing peliharaannya diambil dari jalanan.

Pengingat
Saya jadi merasa malu, status saya yang mahasiswa ini sudah saya pergunakan untuk membantu masyarakat atau belum? Dalam usianya yang belia, SHG sudah mampu berbuat banyak, baik melalui aksi nyata maupun dalam bentuk tulisan yang mengkritisi situasi perpolitikan saat itu yang berimbas nyata pada kesejahteraan masyarakat tahun 50-60an. Kondisi mahasiswa era 2000an tentu jauh berbeda dengan era mahasiswa tahun 50-60-70-80-90an. Meskipun sisa-sisa perjuangan itu masih ada, namun sepertinya sudah bergeser dari awal yang ada. Bagi SHG, berkepribadian itu penting. Hitam atau putih. Tidak ada wilayah abu-abu. Sikapnya yang seperti itu yang membuat saya merasa malu. Dalam usia yang beranjak dewasa dan sudah merampungkan studinya, saya belum mampu bergerak dan melakukan perubahan yang nyata. Walau sebenarnya mimpi itu ada, namun saya belum mampu mewujudkannya. Lalu untuk apa sebenarnya saya kuliah? Dimana, konon biaya kuliah mahasiswa universitas negeri disubsidi dari pajak-pajak yang dibayar oleh masyarakat kita, sehingga biaya kuliah tidak terlalu mencekik. Tapi apa yang sudah kita berikan pada mereka?

Ah, saya merasa beruntung sudah membaca buku ini. Sehingga saya mampu bercermin pada sosok SHG yang dilingkupi kekurangan juga kelebihannya. Apapun namanya, kumpulan tulisan itu membuat saya tertohok..

Highly recommended to read :-)

Emak Ingin Naik Haji

"Ayoo.. yang belum nonton? Jangan sampe ketinggalan nonton EINH yaaa..??? Dijamin keimanan kita untuk berhaji insyaallah bertambah kuat!"

Saya nonton film ini di E-Plaza, Semarang. Satu teater isinya cuma 9 orang dan duduknya pisah jauh-jauh. Berasa milik sendiri. Karena disitu saya ngga ngerasa tanggung buat nangis atau ketawa.

Tiba-tiba.... saya rindu Tanah Suci :-(

Saya suka cerpen ini karena setelah dibukukan bersama cerita pendek lainnya, royalti buku ini akan digunakan untuk menghajikan mereka yang ingin ke Tanah Suci namun tidak ada biaya.

Subhanallah!! Tanpa pikir panjang saya pun membeli buku ini, karena dengan jaminan nama mbak Asma Nadia sebagai penulis, semua ceritanya pasti bermakna dan menyegarkan jiwa.


Setelah membacanya saya tau bahwa pilihan saya benar!


Versi cerpen tidak jauh berbeda dengan versi filmnya. Hanya ada penambahan beberapa adegan dan juga tokoh. Kalo di versi cerpen, cerita berhenti setelah Zein tertabrak mobil karena saking gembiranya setelah tau bahwa salah satu nomor undian yang berhadiah umroh adalah nomor undian milik Zein.


Kalo versi film. Setelah Zein tertabrak, Zein dilarikan ke rumah sakit oleh si Penabrak (tokoh politikus yang bertengkar dengan istrinya didalam mobil, sebelum akhirnya menabrak Zein. Istri si politikus itu meninggal akibat tabrakan itu). Karena anak sulung pak Haji yang berkali-kali umroh dan naik haji sudah bernazar jika dia dan bayi yang dikandungnya selamat maka dia akan memberangkatkan haji Emak dan Zein.


Happy Ending...!!!

Ceritanya memang sederhana karena diangkat dari realitas kebanyakan masyarakat Indonesia. Film yang sederhana ini hadir berbarengan dengan film kiamat 2012 juga beberapa film panas sampah khas Indonesia. Emak Ingin Naik Haji (EINH) jadi semacam pemuas dahaga buat kita yang bosan nonton film monoton seperti itu. Agak disayangkan juga karena saat saya menonton EINH, penontonnya cuma segelintir. Kontras dengan antrian 2012 yang mengular. Bahkan full booked sampe besok.


Two thums up buat mbak Asma Nadia juga semuanya yang terlibat dalam pembuatan cerpen ini sampe diangkat ke layar lebar. Film "sehat" inilah yang kita butuhkan saat ini.


ps : semoga cerpen-cerpen mbak Asma Nadia lainnya juga bisa diangkat ke layar lebar :-) Amin

Marley and Me


Dari sekian buku yang saya punya, buku ini adalah salah satu yang paling berkesan. Saya suka setiap buku yang ber-kaver hewan.

Pertama kali saya liat di Gramedia, saya langsung jatuh cinta! Harus beli! Tapi nabung dulu karena uang yang saya bawa waktu itu belum mencukupi. Beberapa bulan kemudian saya balik lagi ke toko buku itu. Yaaaah..bukunya udah ngga ada. Sedih!

Sampe akhirnya saya liat buku ini lagi di toko buku yang sama dan kebetulan saya bawa uang lebih sedikit. Buku inipun berpindah tangan. Alhamdulillah..

Marley and Me. Judul sebuah buku yang kemudian difilmkan dan diangkat dari kisah nyata penulisnya. John dan Jennifer Grogan, sepasang suami-istri yang mengadopsi anjing kecil yang super aktif hingga sering merusak perabot rumah. Menjelang tuanya, Marley, sang anjing harus dieuthanasia (suntik mati) oleh pemiliknya karena tidak tega dengan keadaan Marley yang kepayahan.

Nangis baca buku ini.
Sampe pengen punya anjing. Karena ngga punya anjing, saya jadi semakin sayang sama kucing-kucing dirumah. Buku ini ngajarin kita supaya menghargai hewan. Bukan hanya sebagai hewan, tapi juga sebagai sahabat dan saudara.

Heee.. saya boong tau!

Mana mungkin saya bisa berhenti nulis. Bisa gilaa kali..!!
Tiap hari saya harus nulis apa aja, mau itu tulisan serius, beralinea-alinea tugas dari Mbak Nurul, atau mau tulisan yang santai kayak gini. Ngga tau hal ihwalnya kecanduan nulis yang pasti awalnya dari jaman SD. Waktu itu sih belum ngerti apa-apa, belum jamannya komputer wong PC aja masih segede-gede gaban..
:scream:Hahaha...

Kalo saya bilang mau rehat nulis dulu sementara waktu itu mah cuma emosi sesaat aja. Habisnya gimana ngga emosi sesaat kalo jatah waktu yang awalnya buat ngerjain Tugas Akhir ternyata kesita buat nulis apa aja (baca : puisi). Korupsi banget deh pokoknya. >.< Tapi saya sekarang udah ngga bisa lagi nulis lama-lama pake pena. Udah kaku tangannya, tugas si Pena diambil alih oleh keyboard Lappy tercinta :-) lebih asyik tanpa harus ngehapus pake setipan atau tipex. Praktis juga bisa dimana aja.

Parahnya kalo ide-ide udah mulai bertebaran, saya kesulitan kalo pake lappy soalnya harus barengan sama adik cowok saya yang jam pemakaian lappynya udah tinggi soalnya dia anak jurusan jaringan komputer, jadinya sebagai kakak yang baik saya harus ngalah T.T Nah, kalo udah gitu ngga ada Lappy maka tissu atau kertas nota pun jadi, saya selalu sedia pena minimal satu ditas kemanapun saya pergi. Atau kalo udah paling kepepet ya pake HP :-) yang penting kosa kata yang udah lahir tadi ngga hilang gitu aja, maklum kan munculnya dadakan.

:puppyeyes:(Hiks..kenapa ide lahirnya dimana aja yah?)

Julukan penulis puisi yang sering disandangkan beberapa teman pun rasanya belumpantas saya sandang, saya ini masih kacangan, karbitan kemarin lusa. Ikut lomba berkali-kali belum juga lolos, belum pernah ikut antologi, belum pernah dimuat di media massa (cetak atau elektronik, kecuali blog saya..hehe). Tapi semua itu saya syukuri karena saya belum patah semangat buat terus berkarya, mau itu bagus atau setengah bagus , saya menghargainya sebagai sebuah karya pemikiran. Dikumpulkan jadi satu supaya dikemudian hari nanti bisa berguna. Amin

Long Distance Love, Not Relationship


REVIEW BUKU :

Long Distance Love. Imazahra, dkk. Penerbit : PT. Lingkar Pena Kreativa, Jakarta. Cetakan pertama Maret 2009.

Untuk apa menikah juga harus berpisah, bukan hanya antar kota, antar provinsi, tapi juga antar benua. Tidak sehari, seminggu, atau sebulan, tapi bertahun-tahun. Bahkan ada yang mencapai 22 tahun hidup terpisah.

Kisah-kisah serupa yang diwartakan Imazahra, dkk dengan apik. Semua cerita jadi favorit saya karena tiap cerita punya kekuatan tersendiri, yang seakan memaksa saya juga agar dapat bersikap sama seperti mereka, yang beda hanya saya belum menikah. Bagaimana mereka harus hidup dalam himpitan jarak yang merentang begitu jauh, namun harus tetap berkomunikasi lewat cara apapun demi menetas rindu (yang katanya hingga ke ubun-ubun..entahlah?saya belum pernah merasakannya :p). Hubungan yang tak murah karena membengkaknya biaya telepon dan internet, atau kadang "dibelain" terbang juga ke negara atau kota tempat suami berada. Hmm..apakah seperti itu?

Sekilas, buku ini mungkin agak cengeng. Judulnya saja LOVE. Termehek-mehek sekalii.. tapi cobalah membacanya. Bukan hanya bagi yang sedang mengalami kisah serupa, tapi juga yang ingin belajar bagaimana mempertahankan idealisme, cita-cita, keluarga, cinta, pendidikan, harga diri, agama, prinsip, dan banyak lagi macamnya dalam waktu yang hampir bersamaan. Beberapa penulis mengisahkan pengalamannya antara menikah dan menerima beasiswa ke Belanda, Inggris, Jerman, Jepang. Toh mereka tidak bermasalah dengan itu semua. Mungkin membutuhkan waktu yang agak lama, tapi dengan izin Allah semuanya dapat teratasi, tentunya dengan dasar pengertian, kepercayaan, kesetiaan, hormat yang tinggi.

ps : dari buku ini saya belajar untuk menerima, memberi, menghormati DIA yang ada di ibu kota. Untuk kedatangannya tiap dua bulan :-) Maaf kalo saya rada bawel.. :p

"Cinta Yang Hakiki Tidak Menyesatkan..."

Cinta tidak dilarang, namun akan ada saatnya nanti bagi cinta berkembang. Cinta harus mempunyai arah dan tujuan yang pasti, cinta yang positif akan mendorong diri senantiasa berbuat baik untuk masa depan dan cinta yang hakiki tidak akan menyesatkan. Forum Keluarga Mahasiswa Muslim (FKMM) Rohis FISIP Undip pada Minggu (7/6) mengadakan bedah buku ”Karena Cinta Harus Memilih” di ruang B.101 FISIP Undip. Menghadirkan Ustadz Burhan Sodiq, sang penulis buku dan Endang Sri Indarwati, dosen Fakultas Psikologi Undip.

Wajar ketika manusia, apalagi seusia remaja dan dewasa mengalami fase jatuh cinta. Karena itu sudah menjadi fitrahnya. Namun cinta yang tumbuh itu harus dibingkai dalam aturan syariat yang syar’i agar tidak jatuh kedalam kemaksiatan dan perbuatan negatif. Media massa, terutama televisi setidaknya ikut andil dalam proses pendewasaan remaja saat ini. ”Program-program yang ditayangkan turut mempengaruhi perilaku dan pemahaman sehari-hari. Misalnya saja, istilah pacaran, dalam perjalanannya istilah ini kemudian menjurus pada taraf penjajakan hingga eksploitasi,’ ujar Iin, panggilan akrab Endang. ”Ketika satu hubungan tidak digunakan secara positif maka akan jadi bumerang bagi diri kita sendiri,” tambahnya.

Lantas bagaimana ketika cinta menyapa disaat masa studi belum usai? ”Banyak menempa diri dengan mengkaji agama Islam, bergaul dengan komunitas yang positif, dan jangan sekali-kali menganggap bahwa cinta harus diwujudkan dengan pacaran,” jelas Iin dan diamini oleh Ustadz Sodiq. ”Kita harus fokus pada studi yang kita tempuh dan kuncinya adalah menguasai diri juga fokus, jangan disambi dengan kegiatan yang tidak bermanfaat. Karena akan ada masanya bagi kita jatuh cinta. Allah tidak akan menyiakan hamba-Nya,” kata Ustadz Sodiq.

Lantas bagaimanakah cinta yang dihalalkan dan insyaallah bernilai keberkahan didalamnya? Jawabnya adalah pernikahan. Ada opsi seperti ini : Mencintai orang yang kita nikahi itu wajib hukumnya, dan menikahi orang yang kita cintai itu opsional.

Jangan biarkan masa depan kita hancur hanya karena meletakkan cinta di koridor yang salah. Semoga Allah selalu senantiasa menjaga kita dari apa-apa yang batil dan tidak bermanfaat. Afwan sebelumnya jika ada yang kurang berkenan, saya pun sedang berusaha menata hati dari koridor yang bukan seharusnya. Semoga Allah selalu menjaga. Amin :-)


*menuju perjalanan yang diridhoi oleh-Nya*

Berujung Hamdalah-kah (juga)?

Membaca buku kecil tapi berbeban dunia akhirat itu membuat saya semakin merasa bersalah. Bukan apa muatan buku itu hingga saya merasa demikian. Karena apa yang dituliskan benar adanya. Dan kesalahan ada pada diri saya. Alih-alih belajar sambil berikhtiar, saya malah jadi kepikiran. Jalan apa yang harus saya tempuh? Karena buku itu mensyaratkan sesuatu yang saya sudah bisa penuhi. Ah, entahlah. Saya akan terus menamatkan buku itu hingga seri terakhirnya. Apapun ilmu yang saya dapat biarlah menjadi bekal saya meraih ridho-NYA.

Semarang, Mula Juni 2009

Humas RS OMNI mati kutu

Yaaa..ketemu masalah yang real setelah berkutat dengan teorinya saja. Selama ini dalam perkuliahan, dosen di jurusan mengajarkan step-step menangani issue, membuat kebijakan publik yang populis, hingga ke hal yang remeh tapi krusial.


Kali ini masalah humas RS OMNI yang langsung main tangkap, main penjara segala hanya karena keluhan dari seorang konsumen jasa mereka (pembredelan opinikah ini?). Halooo...wajar bukan jika ada seorang konsumen yang merasa kurang puas maka dia akan menuliskan keluhannya di media massa? Setiap hari bisa kita temui di berbagai media massa, baik cetak, elektronik yang memuat berbagai keluhan. Toh jalan keluar (biasanya) dari perusahaan atau nstitusi yang bersangkutan akan memberikan jawabannya dengan baik-baik. Atau bahkan memberikan gift sebagai tanda terima kasih atas keluhan yang disampaikan. Bisa diartikan keluhan itu sebagai kritik supaya institusi, perusahaan yang bersangkutan supaya meningkatkan kualitas mereka dikemudian hari. Itu semua juga untuk kepentingan perusahaan atau institusi mereka nantinya. Jika Humas RS OMNI mengetahui step-step yang benar maka dia akan membuat semacam riset atas issue ini dan berpikir jangka panjang.

Publik itu penting lho?

Konsumen adalah raja yang harus dilayani. Lihat saja nasib RS OMNI (terutama humasnya) jika tidak menangani krisis kepercayaan publik ini dengan baik. Masalahnya, berita ini menggelinding, meluas sampai capres yang mau berkampanye itu turun tangan dan bersimpati. Media massa, baik cetak, elektronik nasional mengulasnya, bahkan menjadi headline mereka.

Mengembalikan kepercayaan publik bukan hal yang mudah!


Kekerasan Terhadap Wanita Pada Tayangan Animasi Anak

Wanita dan perempuan merupakan terminologi yang serupa. Namun, dalam implementasinya ada beberapa pihak yang hanya menggunakan istilah wanita maupun istilah perempuan saja. Seperti Dr. Sunarto, penulis buku “Televisi, Kekerasan dan Perempuan” yang menggunakan istilah wanita saja. ”Karena saya orang Jawa maka alasan ideologis saya tentang makna wanita adalah wani ditata. Namun menurut saya bukan hanya itu saja pemaknaan wanita, wanita bisa diistilahkan juga wani nata. Sedangkan para aktivis gender lebih sering menggunakan terminologi perempuan ketimbang wanita. Hal ini dikarenakan adanya trauma pada masa orde baru yang memunculkan makna peyoratif pada wanita”. terangnya.

Diskusi sekaligus peluncuran buku ”Televisi, Kekerasan dan Perempuan” yang diadakan oleh Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro pada (3/6) di Ruang sidang utama gedung Pascasarjana Lt.1, menghadirkan Prof. Agnes Widanti, SH, CN (Dosen Unika Soegijapranata Semarang), Prahastiwi Utari, Ph.d (Dosen Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNS Solo), Dr. Turnomo Rahardjo (Dosen program Magister Ilmu Komunikasi program Pascasarjana Undip) dan Dr. Sunarto (Dosen program Magister Ilmu Komunikasi program Pascasarjana Undip) sebagai pembicara dengan dimoderatori oleh Dr. Hedi Pujosantoso, Msi (Dosen program Magister Ilmu Komunikasi program Pascasarjana Undip) ini membahas permasalahan kekerasan pada perempuan dalam media anak dengan lebih komprehensif.

”Mengapa mengambil text anak-anak? Karena belum banyak penelitian tentang ini, televisi merupakan media yang sangat strategis untuk membentuk ideologi anak. Salah satu topik yang sering diulas dalam gender adalah kekerasan pada wanita secara aktual. Tiap tahun pasti ada kenaikan yang berarti, meskipun masih banyak yang belum ter-cover oleh media”. jelas Soenarto.

”Kenaikan jumlah kekerasan pada wanita berarti meningkatnya kesadaran dan berani melaporkan diri, selama ini kekerasan dalam rumahtangga (KDRT) sering dikaitkan dengan permasalahan kultural, tidak hanya aktual tapi juga simbolikal dan tingkatnya masif”. ujar penulis buku ”Analisis Wacana Ideologi Gender Anak-Anak” ini.

”Sedangkan saat ini kekerasan simbolikal pada wanita melalui media massa dewasa sudah jamak, berupa : limitasi peran sosial dan menjadikan wanita sebagai objek seksual”. tambahnya. Wanita belum diberi banyak opsi untuk menentukan jalannya dan tidak diwakili secara proporsional di media, misalkan saja, kebanyakan narasumber berita adalah kaum laki-laki karena merekalah yang biasanya duduk dalam jabatan formal.

Menurut Turnomo Rahardjo, buku yang ditulis oleh rekannya tersebut menginspirasi akan pentingnya pendidikan androgini dalam keluarga, sekaligus memberikan kontribusi perlunya gerakan yang lebih intensif untuk melakukan counter hegemony terhadap media yang bias gender. ”Karena saat ini kekerasan aktual maupun simbolikal berlangsung diberbagai ”ruang” seperti : KDRT, didaerah konflik, dijalan raya, media massa hingga forum keagamaan” tambahnya.

”Media massa kerap menampilkan wanita melalui pesan-pesan yang innocent pleasure, dan menawarkan citra wanita yang unreal, unthruthful dan distorted”. sambung Turnomo.

Lebih lanjut, Dr. Sunarto menambahkan bahwa hasil penelitian yang dilakukannya menemukan bahwa ada kekerasan simbolik pada wanita dalam film anak-anak. Kekerasan personal, seperti psikologis (diejek, dihina, didiskriminasi, dipaksa, dan sebagainya), seksual (direndahkan seksualitasnya, disentuh, dan sebagainya), dan fungsional (dipaksa, dihalangi dalam melakukan sesuatu, dan sebagainya). ”Banyak film anak-anak yang mengandung unsur kekerasan, misalnya Doraemon, Crayon Shinchan dan Tom and Jerry” kata Soenarto.

Saran yang dapat saya berikan antara lain : stasiun televisi perlu melakukan swasensor lebih cermat terhadap tayangan animasi anak-anak yang bermuatan kekerasan personal secara umum maupun khusus terhadap wanita. Selain itu perlu dilakukan kajian-kajian lebih lanjut terhadap berbagai program televisi untuk anak-anak yang ditengarai mengandung kekerasan simbolik. Yang tak kalah pentingnya, dalam rangka menciptakan sistem sosial egalitarian sebagaimana menjadi cita-cita bersama, perlu diciptakan, ditingkatkan, diperkuat dan diberdayakan sturktur personal, institusional dan sosial melalui advokasi penyadaran gender secara kontinu dan konsisten.

Sumber : bahan materi diskusi ”Televisi, Kekerasan dan Perempuan”.

Ditulis oleh Nida dan juga dimuat di www.fisip.undip.ac.id

QS Yasin : 65

Ketika Tangan Dan Kaki Berkata


:: Lirik oleh Taufiq Ismail :: Lagu oleh (Alm) Chrisye


Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kamu
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
Hamba-Mu
Yang hina

1997 (Sumber : Majalah Horison tahun 2007)

Lagu ini emang jadul banget, yah kira-kira udah 12 tahun yang lalu. Tapi bulu kuduk tetep merinding begitu denger lagu ini. Ngebayangin hari tanggung jawab kita tiba disaat kita bersantai ria karena terlena oleh dunia.
Lagu ini ditulis oleh Taufiq Ismail, awalnya Chrisye sendiri yang akan menulis liriknya, namun karena buntu, beliau menyerahkan tugas itu kepada Taufiq Ismail dengan tenggat deadline satu bulan. Setali tiga uang dengan Chrisye, Taufiq Ismail pun hampir saja menyerah karena macet ide. Namun justru ide datang karena kebiasaan beliau membaca surat Yasin, dan ketika sampai pada ayat 65 "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan." jadilah lagu itu. Begitu menggugahnya hingga Chrisye pun menangis tersedu saat menyanyikannya.

Kini. Saya dan mungkin sahabat semuanya mulai menyadari, bahwa apa-apa yang kita lakukan akan dimintai pertanggung jawabannya kelak. Mungkin saya akan menjawabnya "Simpel, Klise, dan sudah sering didengar" tapi jika dihayati, maka pemaknaannya akan sungguh mendalam.

Terimakasih tiada hingga bagi Dia yang membuat matahari bersinar, hari berganti, bumi berputar dengan segala keteraturannya, hujan turun dengan siklusnya yang sempurna, dan memberikan rahmat, cinta, juga kasih-Nya yang Maha kepada bumi, galaksi, hingga semesta raya. Terimakasih kepada murabbi abadi kita, Sang pembawa pesan-Nya yang setia, atas cintanya kepada umat-umatnya. Tak lupa bagi para sahabat, keluarga, dan para tabi'in yang dedikasinya tak perlu keraguan lagi atasnya. :-)

In Memoriam : Turipin

*dari kiri ke kanan : Rendy, Molly, Turipin, Nana, Yulia, Ipeh, Hesti, Nida, Argo (Yg motoin : Didit)

Turipin, namanya emang sedikit aneh ditambah kepalanya agak botak dan duduk dipojok kanan. Saya sahabatan sama dia sejak duduk di kelas satu SMA. Pertama liat, kesannya kayak preman..hehe tapi ngga taunya dia jadi salah satu sahabat terbaik yang pernah saya punya. Sebelum saya berjilbab di tahun 2004, saya punya geng yang anggotanya 9 cowok dan saya adalah satu-satunya wanita disitu :-)

Naik ke kelas dua, kita pisah kelas, tapi kita tetep sahabatan, dan agenda malam mingguan dirumah saya ngga pernah berubah. Kebiasaan itu tetep berlangsung hingga tahun 2009 ini, meskipun intensitasnya berkurang karena kita udah sibuk sama tugas-tugas kuliah.

Terakhir, saya ketemu Turipin dirumahnya Budhi di daerah Tembalang, dia cerita habis liburan dirumahnya Hizbul di Surabaya. Disitu dia sempat cerita banyak soal keadaan Hizbul. Dan dia juga berencana mau kesana lagi, walau entah kapan.

Tapi semua itu berubah. Tadi pagi pukul 9.56 WIB, Wendy, sahabat saya menelpon sambil nangis...

"Turipin meninggal,neng..." isaknya

"....................xxxxx......"

Innalillahi Wa Innaillaihi Raji'un..semoga Allah memberikan jalan yang terbaik bagiNya..dimudahkan urusannya..diberi nikmat kubur..amien

*sekarang kepala saya pusing..*

Jilbab Traveller*


* Sayang..di foto ngga keliatan ya gimana indahnya Kota Lama Semarang..ih?itu cuma nyisa pavingnya aja :p

Foto udah? Bergaya udah? Tapi itu kok nyempil buku warna biru ya? matching sama jilbab sama bajunya deh :-). Itu buku judulnya "Jilbab Traveller" penulisnya Mbak Asma Nadia dkk. Saya belinya bukan di Gramedia, tapi di sebuah toko buku yang amat sangat komplit di Pasar Johar Lantai.2 seharga 36.000 rupiah (dikorting sama bapaknya..hihi)

Ngakunya sih hobi Travelling? tapi saya takut diisengin sama orang, takut dicopet, takut macem-macem deh.. Tapiii kalo takut terus kapan saya bisa jalan-jalannya?? Jadi katak dalam kotak nih :p Ehhh..ada buku ini ternyata. Jadi mantaplah niat saya buat : Jalan-jalan :D


Gara-gara dikomporin buku ini, saya berdua dengan seorang sahabat jadi pengen nekat jalan-jalan juga. Ngiler travelling. Bukan keluar negeri sih, tapi mau travelling ke jawa timur sama jawa tengah. Ngga sekedar nekat lho tapi, karena kita berdua udah mulai nabung dari satu bulan kemarin..hehehe :D

Buku ini juga udah dipinjem sama dua sahabat saya yang lain. Sama-sama bikin ngiler deh! Gimana ngga? Dibuku diceritain gimana muslimah juga bisa dengan aman jalan kesana-kesini, padahal kita kan dilarang keluar jauh tanpa ditemani. Mungkin alasannya demi keselamatan kita sendiri ya? Tapi kalo pengen jalan gimana?? Selagi masih ada umur, boleh dong liat dunia luar dan kebudayaannya? ^_^

Insyaallah ini mau tour de java dulu ah.. Siapa tau kalo Allah mengijinkan bisa jalan lebih jauh lagi, atau mungkin keluar negeri juga..amieeenn ;-)

*Hmmmh..Berjilbab Bukan Berarti Ngga Bisa Keliling Jawa...eh Keliling Dunia kan? :p*

FOrum Silaturahim MAhasiswa ESQ Semarang


Bersama ke-5 teman pada 17-18 Januari 2009 lalu, kami mengikuti training generasi emas angkatan ke-2 ESQ. Sering saya menerima sebuah sms notifikasi dari FOSMA ESQ. Isinya tentang pengajian bersama, rapat untuk event ke panti asuhan dan temu alumni ESQ - Mahasiswa se-kota Semarang plus foto-foto anak FOSMA.

Sebenarnya saya sih mau saja gabung bareng mereka. Tapi begitu sms saya turunkan kok kumpulnya jam 18.30 gitu ya? Sedangkan rumah saya cukup jauh dari pusat kota (ps : kalau ngga mau dibilang pedalaman hutan rimba sih..hehe :P). Kalau dimulai pukul 18.30 kira-kira bisa selesai jam berapa tuh? Dan dipastikan saya bakalan pulang sendirian, notabene wilayah saya tinggal kalau malam cukup gelap dan sepi.

Beberapa hari yang lalu, teman satu angkatan dikampus baru saja berpulang, dia terjatuh dari motor setelah dijambret didaerah yang sepi menjelang malam. Nah lho??? Rawan sekali buat perempuan keluar malam sendirian kan? Memang sih yang namanya kematian bisa datang dimana saja, tapi membatasi diri dengan maksud menjaganya ya juga bukan hal yang salah kan?

Sampai saat ini maaf sekali buat saudara-saudara di FOSMA, saya belum bisa berkontribusi banyak. Tapi keadaan saya tidak memungkinkan untuk bergabung. Mungkin kalau suatu saat waktunya KLIK dan bersahabat saya bisa datang dan bergabung. amien

*saya tulis juga di facebook saya. 1 Mei 2009