Tampilkan postingan dengan label Keluarga Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga Kecil. Tampilkan semua postingan

Sabtu Bersama Aliyya

Pagi tadi saya menghadiri acara seminar parenting yang diadakan oleh komite wali murid di sekolahnya Aliyya. Ini kali kedua saya datang menemaninya, hal yang belum bisa saya lakukan dihari biasa.

Selesai makan dan berganti pakaian, Aliyya duduk sambil nonton upin-ipin dan saya beberes barang yang akan dibawa ke sekolah. 2 buah susu ultra milk dan sebotol air putih. Aliyya bertanya, " bunda mau kemana? Salim dulu." Aih, rupanya dia mengira saya akan kekantor. Saya jelaskan bahwa kita akan pergi ke sekolah buat main playdough terus bunda ada acara seminar dilantai 2, girang sekali ekspresinya. "Asyik..Asyik, aku sayang bunda..", begitu katanya. Bahkan dia memakai sepatunya sendiri tanpa saya bantu.

Sesampainya disekolah, saya mengantarnya masuk kedalam kelas. Mencium pipi dan memeluknya. Saya bilang akan kembali menjemputnya dan menunggunya diluar, dibawah pohon seperti yang biasanya dilakukan Abi.

Ini pertama kalinya saya mengikuti seminar parenting. Saya duduk sendiri ditengah ruangan sambil membaca buku yang saya bawa dari rumah. Tidak ada yang saya kenal disana dan mungkin saya yang paling muda. Dengan tema mengenai cara mengenali emosional anak, saya merasa seperti gelas kosong. Ini yang saya hadapi. Jika biasanya informasi didapat dari buku, internet, kali ini lebih tercerahkan karena lebih aplikatif. Saya baru tahu jika peran Ayah sangat penting dalam perkembangan emosional anak. Intinya, saya tidak merasa sendiri dan beruntung bahwa suami adalah sosok Ayah yang baik dan disayangi oleh anak-anak. Suami saya jauh lebih sabar dan komunikatif, tidak heran mereka akan lengket sekali dengan Abinya jika kebetulan Abi tidak sedang ada worktrip.

Seperti baterai yang terisi penuh, energi baru, itulah perasaan saya setelah acara ini selesai. Bergegas saya menjemput Aliyya. Rupanya sampai disana Aliyya nggak pakai kerudung dan kelihatan habis menangis. Dia langsung memeluk kaki saya dan bilang, "aku sayang bunda, bunda kok lama sih?" Wali kelasnya cerita kalau Aliyya habis jatuh, kepalanya terbentur karena didorong oleh anak lelaki teman sekelasnya.

Duh, baru aja ya acara seminarnya selesai. Saya berusaha menahan emosi. Meskipun orangtua anak itu sudah meminta maaf, tapi saya nggak suka kalau anak saya diperlakukan kasar, apalagi sampai kena kepala. Saya diam saja. Sadar bahwa hal seperti ini memang tidak terhindarkan dilingkungan sekolah. Saya memeluk Aliyya dan bilang supaya lain kali lebih hati-hati saja.

Pulang sekolah sengaja saya mengajaknya ke Superindo untuk membeli buah apel dan susu kotak kesukaannya. Dia senang sekali dan sepertinya sudah lupa tadi habis jatuh.

Ah, meskipun cuma sebentar. Mungkin dilain waktu saya harus meluangkan waktu berdua saja dengannya. Ke supermarket atau ke taman bermain. Saya merasa lebih dekat karena tidak bisa dipungkiri hubungan kami sempat merenggang pasca kelahiran Aisha, anak kedua saya. Tidak hanya untuk sekarang, mungkin bisa juga dipraktikkan dimasa depan.

Semarang, 28 November 2015

Menjelang Puasa

Alhamdulillah ya, seneng banget besok udah masuk bulan Ramadhan lagi. Suasananya itu lho yang bikin kangen. Meskipun cuaca lagi panas-panasnya di Semarang tapi insyaallah bisa lah puasa selama niatnya kuat supaya nggak batal. Hehe

Oiya, sebelum puasa biasanya beberapa orang (termasuk ayah saya sih.. hihi ) suka ngumpulin suplemen buat badan, susu, minuman atau makanan supaya besok pas puasanya nggak lemes. Tapi saya pikir lagi, insyaallah fisik saya cukup kuat tanpa harus ditopang oleh suplemen itu. Salah satu esensi puasa kan supaya kita berempati sama kaum miskin, gimana menahan rasa lapar dan bahkan mereka belum tau bisa makan atau nggak waktu sahur atau buka puasa. Nah saya kok yang Alhamdulillah kuat malah mikir beli suplemen macam2.

Jika dihari biasa, saya suka meramu air lemon dengan madu atau habbasyi oil, puasa ini kayaknya libur dulu deh, habis stok soalnya.

Ini puasa pertama setelah beberapa kali Ramadhan saya dalam kondisi hamil dan menyusui, kebetulan Aisha udah masuk 7 bulan dan saya juga udah nggak pumping jadi harapannya bisa penuh puasanya.

Semoga ya. Aamiin

*Semarang, 3 Ramadhan 1436 H / 20 Juli 2015

(Repost dari akun saya di Wordpress. Maaf ternyata nggak bisa berpaling kelain hati hihii)

Sabar ya Bunda

Alhamdulillah saya dikasih suami yang sabarnya nggak kira-kira. Berbanding terbalik sama saya yang serba pengin cepet. Udah takdir Allah mungkin ya ketemu suami yang tipe begini. :)

Hari ini agak bikin puasa saya nggak konsen sih soalnya Aisha agak susah makan juga maunya nempel terus. Mungkin agak kurang enak badan terus cuacanya juga panas jadi rewel deh. Rumah yang berantakan juga berakibat ke emosi yang jadi gampang naik. Tapi kan mana ada ya punya balita atau bayi rumah bisa rapi jali. Mustahil bisa serapi gambar acuan saya di Pinterest itu..

Duh, ampun..

Kalo udah gini, saya pengin cepet resign dari kantor buat ngurus rumah,.anak sama suami. Tangan saya gatel kalo liat yang berantakan soalnya heuheu..

Semoga deh ya rencana bisa terwujud awal tahun depan.

*Semarang, 20 Juli 2015

(Repost dari akun saya di Wordpress.)

Memeluk Anak dan Pasangan

Saya dibesarkan di keluarga yang tidak terbiasa saling memeluk. Ndak biasa mengekspresikan rasa sayang dengan cara seperti itu, bukan cuma rasa sayang, saat kami, anak-anaknya sedih, marah kami cenderung memendamnya sendiri dan memilih mengekspresikan dengan cara masing-masing. Saya cuma baca di buku atau artikel bahwa berpelukan itu hangat, punya efek menenangkan hati, tapi saya betul nggak tahu seperti apa rasanya..

Maka dari itu, semenjak saya menikah 3 tahun lalu, saya penginnya mulai membiasakan diri untuk memeluk suami setiap pagi sebelum mulai beraktivitas. Pokoknya pagi itu harus bisa meluk walaupun sebentar. Efeknya cukup baik. Saya memulai aktivitas dengan hati yang hangat, perasaan yang lega dan lebih positif. Rasanya ada yang kurang kalau lupa berpelukan. :D

Setelah Aliyya. anak pertama lahir, berumur beberapa bulan dan sudah bisa belajar duduk di pinggir kasur, saya mencoba belajar memeluknya, sampai sekarang usianya 2,7 tahun, saya berusaha untuk memeluknya setidaknya sehari sekali. Saat berpelukan, tidak lupa disisipkan doa juga untuknya.

Memasuki usia 2 tahun, Aliyya agak sering tantrum, apalagi setelah Aisha, adiknya lahir akhir Oktober lalu. Sering sekali Aliyya mencari perhatian orang rumah dengan cara berteriak sehingga Aisha nggak bisa nyenyak tidur, setelah itu Aliyya nangis dengan suara yang mungkin terdengar sampai ujung gang. Membiarkannya sampai tenang lalu memeluk dan mengelus punggungnya.

Pelukan juga menjadi keharusan jika suami hendak pergi ke kota atau negeri seberang. Mengantar kepergiannya. Memeluknya pelan sembari membisikkan do'a. :)

Semarang. Medio November 2015.

Ahad Sore


















Untuk Ikhsan dan kakak laki-lakinya,


Terima kasih sudah mengajarkan saya untuk lebih sayang pada anak kecil. Bahwa, membagi senyuman dan sapaan ramah adalah hal yang mudah. Tidak ada yang salah dengan memulai lebih dulu.

Terima kasih sudah memberitahukan saya, bahwa menyayangi siapapun itu adalah perlu. Menjaga adalah sebuah keharusan dan tanggung jawab adalah hal yang harus dipegang erat.

Terima kasih sudah memberikan isyarat pada saya untuk membagi apa yang miliki, dan lebih bijaksana melihat sekeliling, bahwa saya tidak sendiri.

Terima kasih sudah mau saya ajak berfoto dan bermain dengan Aliyya :)

He's Lost

Apa yang terjadi jika seekor kucing tua, pikun, buta, sudah berhari-hari kehilangan nafsu makan, sering menyendiri di toilet, salah masuk kerumah tetangga, terlebih sudah menemani hari-hari semenjak masa remaja, kemudian hilang dari rumah disaat musim hujan seperti ini?

Khawatir. 

Sedih.

Ochin, sudah berusia 8 tahun. Kucing kampung ini dipelihara karena induknya beranak dirumah. Anak bungsu dari 3 bersaudara, dan hanya dia yang cacat, bukan hanya buta, namun kelaminnya tidak berkembang sempurna. Ochin, bahkan belum pernah terlihat kawin  seperti kucing jantan pada umumnya, yang akan pergi dari rumah untuk berburu kucing betina dan mengeluarkan suara-suara bising mereka. Ochin hanya pernah tertarik dengan Chichi, kucing betina peranakan berbulu lebat. Tapi sayang, cinta Ochin diacuhkan Chichi.

Beberapa hari sebelum Ochin hilang, dia sering berbaring di toilet atau duduk di pinggir kolam ikan depan rumah. Pernah juga masuk kerumah tetangga yang kebetulan punya kolam ikan yang hampir sama. Mungkin dia kira itu rumahnya. Dia mulai pikun, mirip dengan manusia bukan?

Ini bukan hilang yang pertama kali. Dulu pernah keluarga saya mencari hampir setiap hari ke sudut-sudut perumahan, melongok ke dalam selokan, hingga akhirnya mamah menemukan Ochin disudut tanah lapang sedang menggigil ketakutan.



Dia buta. Akan bingung harus jalan kemana kalau ada suara bising yang membuatnya lupa jalan pulang. Ochin hapal jumlah anak tangga, sudut rumah, dan letak perabot. Makanya kami akan kelimpungan kalau Ochin ada dijalan raya yang banyak kendaraan lalu-lalang.

Tapi, di musim hujan ini, Ochin kembali menghilang. Dan kami tidak berhasil membawanya pulang.

Jika kami mengambil kucing-kucing yang sekarat dijalan untuk disembuhkan atau dimakamkan dengan layak, kenapa kucing kami sendiri yang sudah 8 tahun bersama menghilang tidak tahu kemana? Apakah masih hidup atau sudah mati? Kalaupun mati, apakah ada yang bersedia memakamkan bangkainya? Semakin banyak tanda tanya, semakin banyak kekhawatiran..

Bumil Jatuh

Semenjak Abi resign dari kerjaan lama, Abi jadi bisa antar jemput saya kerja. Tanggal 10 Januari 2012 kemarin, saya pulang agak malam dan Abi terpaksa harus nungguin saya sedikit lebih lama. Pas saya udah siap mau pakai helm, hujan turun deras, dan Abi nggak bawa jas hujan pula. Berhubung seragam kerja saya cuma itu, ya nunggu agak reda sedikit lah.

Hujan baru reda sekitar jam 20.30. Saya duduk manis di jok motor Abi, dan Abi mulai melaju agak pelan karena jalanan licin. Berhubung didepan kantor ada lampu merah, kita nyebrangnya sedikit berhati-hati sambil tengok kanan-kiri. Kosong. Aman. Nyebrang deh..

Tapi..belum sampai lampu merah, motornya ditabrak motor orang dari belakang. Saya jatuh dengan posisi perut duluan ke aspal. Innalillahi. Pikiran saya kemana-mana. Gimana baby Aliyya? Gimana Abi? Cukup lama saya terbaring di tengah jalan, sambil sesegukan dan nggak bisa bangun. Antara kesakitan sama kaget. Orang-orang yang mengerubungi saya juga mungkin takut mau nolongin saya karena suami bilang saya sedang hamil 7 bulan. Sedangkan pengendara motor yang menabrak kami sudah kabur.

Dibantu sekuriti kantor, saya pun dibawa ke RS Hermina. Karena dokter kandungan udah pulang semua, saya ditangani bidan dan dokter umum. Setelah cek tekanan darah dan detak jantung bayi, dia bilang kondisi saya baik. Saya bisa ketemu dokter kandungan besok pagi. Setelah ambil obat dan surat ijin bedrest, saya hubungin kantor untuk minta ijin nggak masuk selama 2 hari.

Dan, sampai sekarang saya pun masih setia naik motor. Tapi nggak berani memacu dengan kecepatan tinggi karena sedikit trauma. Sekarang saya udah nggak bisa mikirin keselamatan diri sendiri, karena ada Aliyya didalam rahim saya. :-)

Diatas itu semua, ada Allah yang Maha Menjaga ;-)

Tendangan Aliyya

Buat wanita hamil (apalagi yang pertama kali) yang paling seru mungkin bisa jadi adalah tendangan bayi di perut. Dulu pas temen kantor saya ada yang hamil, suka saya tanyain, "Gimana rasanya kalo bayinya nendang?". Dan sekarang saya ngalamin hal itu. ^_^ it was such amazing moment as a pregnant woman.

Pertama kali baby Aliyya nendang itu waktu saya masih ngekos di Jepara, sekitar bulan Oktober 2011 atau bulan ke 4 kehamilan. Lagi jadwalnya kencan via telepon sama suami (yang kebetulan masih dinas di Jakarta), tiba-tiba berasa ada yang berdesir halus di perut saya. "Bi, ini kayaknya Aliyya nendang deh?", kata saya ke suami.

Sejak itu intensitas tendangan Aliyya semakin meningkat. Seiring bertambahnya ukuran perut, area tendangannya juga ikut meluas. Kadang sekali, kadang berirama. Bisa diatas, dibawah, kanan, kiri, tengah, atau semuanya berbarengan. Suami juga ikutan amazing kalau pas dia pegang perut saya dan Aliyya ikutan nendang.

Terakhir pas kontrol bulanan ke RS Hermina, Aliyya kelilit tali pusarnya, karena dia aktif bergerak dirahim saya, (atau sayanya yang keseringan gerak), kata dokternya.

7 Bulan Setelahnya..

pengajian 7 bulan. welcoming the baby Aliyya :)


"Ternyata, berkomitmen itu nggak seseram apa yang dibayangkan.."

Ini sedikit cerita saya setelah 7 bulan jadi seorang istri dari seorang pria yang bernama Rofiq Fauzi. Tiga tahun pacaran kayak setrikaan, akhirnya Juni 2011 resmi juga menikah. Alarm saya untuk segera menikah sudah berbunyi agak lama, kurang tahu deh kalau alarm Abi kayak gimana bunyinya :D.

Berhubung dari jaman kuliah sudah mulai rajin baca buku seputar pernikahan islami, saya jadi tahu kalau yang namanya pernikahan itu bukan nyari enaknya semata. Misal, kita nikah karena orientasinya kekayaan atau modal fisik saja, terus kalau semuanya berubah seiring bertambahnya waktu, apa iya kita mau mengakhiri pernikahan begitu saja? Dari awal Abi mengajak saya menikah, beliau bilang : orientasi kita cukup Allah saja. :)

Seiring bertambahnya waktu, kebutuhan orang yang baru menikah sudah banyak dan cukup membuat kepala pening. Ini baru kebutuhan dua orang ya? Belum nanti kebutuhan anak dan seterusnya. Bisa bikin stress kalau cuma dibayangin. Tapi.... Allah pasti punya perhitungan yang diluar akal kita koq? Selama ini sih selalu ada aja rezeki dari arah yang nggak kita duga.

Buat saat ini, kehidupan kita berjalan lancar. Kerikil? Wohoo..ada banyak, tapi setiap saya diskusi sama suami, kekhawatiran saya itu bakalan menguap jauh. Abi selalu menanggapi masalah dengan gaya bercandanya yang bikin saya rindu setengah mati.

Sejauh ini, saya lagi getol jadi financial planner buat keluarga kecil saya. Rasanya nikmat sekali mengatur hal-hal detil kayak gini. Meskipun kita berdua masih merintis dari lantai dasar yang paling dasar, tapi saya cari yang seperti ini, memajukan keluarga berdua, bukan cuma terima jadi saja.

Yah, semoga selalu untuk selamanya :-*

Do'a dan Liburan Impian


Beberapa hari ini saya sempat memikirkan dua hal, mungkin akan sedikit saya bagi karena saya tidak tahan untuk tidak menuliskannya. Saya tidak menghakimi, dan ini hanya penilaian atas satu subjek saja.

Satu :

Kenapa pria dengan mudah membagi hatinya dengan wanita lain yang baru datang dan tidak tahu proses bagaimana pria ini bermetamorfosis?

Dia datang ketika sang pria sudah dalam keadaan mapan. Bahkan, dia tidak tahu bahwa pria yang baru dia puja kemarin sore itu pernah menggelandang demi mengirit rupiah saat mengadu nasib di ibukota? Sang pria menikahi wanita hebat yang telah memberinya dua anak. Wanita berhati lapang dan samudera kesabaran yang tiada batas itu telah menemaninya sampai sang pria di posisi yang mapan.

Saya tidak bisa memahaminya, bahkan saya tidak pernah mau mendengar alasan apapun untuk kejadian semacam ini. Tergelincir khilaf, tercebur pada kealpaan. Apapun kilahnya, jika saya berhadapan dengan pria macam ini, saya ingin sekali meninju mukanya kuat-kuat. Saya merasa memahami bagaimana sakitnya (semoga saya tidak akan pernah mengalami hal macam itu,Tuhan).

Dua :

Kenapa Tuhan belum memberikan saya kesempatan untuk berlibur sejenak? Okelah, sebagai pekerja kantoran, lima hari berturut-turut, jam 6.30 sudah duduk manis di meja dan berusaha keras sebisa mungkin menyelesaikan pendingan pekerjaan kemarin, dan pulang sehabis maghrib. Atau kadang pulang diatas jam 8 malam, dan ditanya orang, "Baru pulang jam segini,mbak??"

Intinya saya butuh liburan dan Tuhan belum memberikan saya kesempatan terbaik untuk melakukannya. Dimulai dari wisuda adik bungsu (momen sekali seumur hidup, nggak mungkin dong saya melewatkannya?), hingga kapal yang beroperasi harus docking sampai bulan Desember, padahal Desember biasanya sudah mulai masuk musim baratan, dimana kapal berhenti beroperasi karena ombak laut meninggi dan angin kencang.

Desember adalah waktu berlibur terakhir sebelum Januari depan saya resmi "bedrest" jika kandungan memasuki minggu ke-28. Saya sempat hopeless, karena saya tidak mau berlibur ke tempat lainnya selain mengunjungi pantai itu.

Suami mengingatkan saya agar bersabar dan menawarkan akan menemani saya berlibur ke tempat lain yang lebih aman untuk kandungan saya. Tapi, saya amat sangat kepingin sekali melihat laut, Tuhan.. :( (Duh, ngidam macam apa saya ini...)