Tampilkan postingan dengan label daily life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daily life. Tampilkan semua postingan

Jus Pare ala Nida

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti salah satu akun fashion blogger di Instagram, Andra Alodita, namanya. Sampai saya baca isi blognya dan menemukan salah satu artikel tentang jus pare. Pikir saya waktu itu cuma.. Hoekks! Pait!

Tapi akhirnya saya iseng juga mencoba membuat jus pare, nanas dan perasan air lemon. Terkadang saya tambahkan pokcoy atau seadanya bahan didalam kulkas. Hasilnya ternyata tidak buruk. Memang pait sih tapi ya mana ada sih pare manis? Hehe..

Senin (16/11) kemarin saya membawa sebotol kecil jus pare yang saya buat sehari sebelumnya. Tadinya saya sengaja buat untuk suami tapi sayangnya dia nolak.. Hihii

Ya sudah, dibawa aja buat sarapan pagi :)

Kedepannya saya mau rajin minum jus sehat macam ini lah. Tinggal buka youtube dan kreasikan sayur dan buahnya.

Have a nice day!

Sabar ya Bunda

Alhamdulillah saya dikasih suami yang sabarnya nggak kira-kira. Berbanding terbalik sama saya yang serba pengin cepet. Udah takdir Allah mungkin ya ketemu suami yang tipe begini. :)

Hari ini agak bikin puasa saya nggak konsen sih soalnya Aisha agak susah makan juga maunya nempel terus. Mungkin agak kurang enak badan terus cuacanya juga panas jadi rewel deh. Rumah yang berantakan juga berakibat ke emosi yang jadi gampang naik. Tapi kan mana ada ya punya balita atau bayi rumah bisa rapi jali. Mustahil bisa serapi gambar acuan saya di Pinterest itu..

Duh, ampun..

Kalo udah gini, saya pengin cepet resign dari kantor buat ngurus rumah,.anak sama suami. Tangan saya gatel kalo liat yang berantakan soalnya heuheu..

Semoga deh ya rencana bisa terwujud awal tahun depan.

*Semarang, 20 Juli 2015

(Repost dari akun saya di Wordpress.)

One Day One Juz

Maaf. Bukan bermaksud riya' tapi mungkin akan lebih baik jika kebaikan disebarkan, mungkin ada yang ikut terinspirasi.

Juli 2015 ada satu artikel dikaver utama harian JawaPos. One Day One Juz, ODOJ biasa begitu disebut, adalah hal yang tidak pernah saya lirik sebelumnya. Sehari 1 juz? Mana mungkin, saya sibuk dikantor dari pagi bahkan istirahat 60 menit pun sering makan terburu, shalat pun terburu karena antrian nasabah penuh di jam istirahat.

Sombongnya saya. Alloh jadi yang kesekian. Al-Qur'an pun jarang saya jamah.

Tapi saya iseng saja mendaftar. Aplikasinya tersedia di Google Playstore. Selain ODOJ, ada juga Odhalf ( Sehari 1/2 juz ) dan ODOL ( Sehari 1 lembar ). Saya memilih Odhalf. Karena mungkin bisa saya usahakan ditengah aktivitas duniawi barang mengaji 1/2 juz. Saya masuk daftar tunggu bersama teman-teman baru seluruh Indonesia. Wow, pikir saya. Ternyata ramai sekali.

2 pekan kedepan, ada seseorang akhwat yang menghubungi saya via sms dan terbentuklah grup di whatsapp. Peraturan disebutkan dan jadwal diberikan. Mengaji 1/2 juz berarti 5 lembar atau 10 halaman dalam sehari. Awal yang berat. Al-Qur'an saya bawa ke kantor, dibaca saat istirahat atau saat antrian kosong. Dirumah mertua saat mudik atau saat anak-anak sudah tertidur. Murabbiyah saya pernah bilang, "Kadang, kebaikan itu harus dipaksa. Awalnya mungkin berat namun kelamaan pasti akan terbiasa."

Saya masih jauh dari kata baik. Saya hanya seorang yang biasa namun saya ingin berubah. Membaca Al-Qur'an yang dulu sering saya tinggalkan dan dibaca saat sedang mood, menjadi sesuatu yang harus saya rutinkan.

4 bulan sudah saya disini. Masih suka telat laporan, terutama jika akhir pekan. Tertatih-tatih supaya bisa kholas, yang ternyata kuncinya adalah selesaikan diawal waktu dan tidak menunda. Di grup Odhalf dengan teman-teman yang saling mengingatkan. Agak cerewet sih karena kalau menjelang maghrib belum lapor suka disms bertubi-tubi supaya menyelesaikan tugas harian.

Alloh sudah kasih saya begitu banyak nikmat dan kemudahan, masak saya nggak mau sih rutin mengaji?

Ada yang mencibir. Ada juga yang memuji. Ah, biarkan saja. Toh saya nyaman karena Al-Qur'an menemani kemanapun saya pergi sehingga saya tidak perlu merasa khawatir. Dan yang tidak bisa dipungkiri adalah perasaan lega. Sembari berdo'a semoga ini bisa menjadi salah satu ladang amal saya. Bekal pulang nanti.

Semarang. Medio November 2015

Terimakasih

Sewaktu rawat inap di rumah sakit pasca melahirkan akhir Oktober tahun lalu, saya punya waktu 3 hari penuh melihat tayangan televisi. Ada dua yang membekas. Pertama, Just Alvin edisi Dian Sastro dan jingle Luwak White coffee edisi Kimberly Rider yang saya akhirnya tahu melalui YouTube berjudul Feeling Good by Soundroll.

Di acara itu Dian Sastro bercerita tentang hidupnya, salah satunya tentang bersyukur dan berterima kasih saat akan memulai hari. Bersyukurlah maka nikmat itu akan bertambah. Dan, saya pun mencobanya.

Bangun tidur. Membuka mata. Membaca doa bangun tidur. Duduk bersilang kaki. Memejamkan mata.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa tidur dengan nyenyak, dengan kasur, bantal, guling dan selimut yang bersih juga nyaman.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa bangun pagi ini dengan mata terbuka, anggota tubuh yang tidak kurang satu apapun, bergerak normal sebagaimana mestinya, masih bisa mendengar suara ayah mamah abia dan anak-anak.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa makan makanan yang bersih dan sehat, minum air bersih tanpa perlu kesulitan mencarinya, masih bisa menikmati listrik dan udara yang bersih.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa bergerak menjemput rezekimu, masih bisa punya cukup uang untuk membeli kebutuhan kami, masih punya kendaraan pribadi sehingga tidak perlu berdesakan dalam bis atau angkot.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa memeluk dan mencium pipi suami dan anak-anak.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa berangkat dan pulang bekerja dengan mudah, bertemu teman-teman, membantu orang, dan akhirnya pulang kerumah yang nyaman.

Akhirnya, tidak akan pernah cukup berterimakasih pada Alloh atas semuanya..

----

Setelah ritual sederhana ini selesai, hati ini terasa lapang dan lebih bersemangat menjalani hari.

Ayo, mencoba dan rasakan sendiri damainya. :)