Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Seorang Kawan

Hikmah bisa diambil dimana saja. Termasuk dari curhatan orang lain yang akan saya tuliskan ini.

Seorang kawan dengan usia yang lebih muda, yang sudah lama saya kenal, tidak terlalu dekat, hanya sepintas lalu dan tidak terlalu banyak terlibat dalam urusan yang sama. Namun saya tahu bahwa dia sangat membantu saya.

Suatu ketika saya mengalami hal yang membuat saya merasa kecewa bukan kepalang, dia yang membantu menguatkan dan membuat saya tidak merasa sendirian. Saya lupa bagaimana detail percakapannya tapi membuat saya memahami dan berujung dengan satu kata, memaafkan.

Bahwa kekecewaan yang kita terima adalah satu dari sekian takdir yang harus dijalani. Berusaha tidak berekspresi berlebihan dan terus membantu mereka yang menyakiti kita karena boleh jadi dimasa depan kita akan butuh bantuan mereka atau sebaliknya.

Terakhir,

Terima kasih sudah menginspirasiku untuk jadi lebih baik.

Semarang, akhir November 2015

Jus Pare ala Nida

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti salah satu akun fashion blogger di Instagram, Andra Alodita, namanya. Sampai saya baca isi blognya dan menemukan salah satu artikel tentang jus pare. Pikir saya waktu itu cuma.. Hoekks! Pait!

Tapi akhirnya saya iseng juga mencoba membuat jus pare, nanas dan perasan air lemon. Terkadang saya tambahkan pokcoy atau seadanya bahan didalam kulkas. Hasilnya ternyata tidak buruk. Memang pait sih tapi ya mana ada sih pare manis? Hehe..

Senin (16/11) kemarin saya membawa sebotol kecil jus pare yang saya buat sehari sebelumnya. Tadinya saya sengaja buat untuk suami tapi sayangnya dia nolak.. Hihii

Ya sudah, dibawa aja buat sarapan pagi :)

Kedepannya saya mau rajin minum jus sehat macam ini lah. Tinggal buka youtube dan kreasikan sayur dan buahnya.

Have a nice day!

Ahad Sore


















Untuk Ikhsan dan kakak laki-lakinya,


Terima kasih sudah mengajarkan saya untuk lebih sayang pada anak kecil. Bahwa, membagi senyuman dan sapaan ramah adalah hal yang mudah. Tidak ada yang salah dengan memulai lebih dulu.

Terima kasih sudah memberitahukan saya, bahwa menyayangi siapapun itu adalah perlu. Menjaga adalah sebuah keharusan dan tanggung jawab adalah hal yang harus dipegang erat.

Terima kasih sudah memberikan isyarat pada saya untuk membagi apa yang miliki, dan lebih bijaksana melihat sekeliling, bahwa saya tidak sendiri.

Terima kasih sudah mau saya ajak berfoto dan bermain dengan Aliyya :)

Syukur Dari Sebungkus Nasi Goreng

Setiap Jumat sore, saya juga beberapa teman kantor pulang ke Semarang. Dari Jepara kira-kira pukul 5 sore, sampai di Semarang 2 jam kemudian. Kadang, kalau pas sedang pulang, saya suka kepengin makan makanan yang nggak ada di Jepara. Karena sering pulang larut malam, di Jepara referensi makanannya cuma warung yang itu-itu saja.

Kira-kira 4 pekan yang lalu, saya sudah merancang menu makan malam dengan Nasi Goreng Seafood super pedaas di Warung Nasi Goreng Tombo Kangen Jl. Ahmad Yani, dan sesampainya di Semarang, saya bergegas untuk membelinya. Tapi, ditengah perjalanan, orangtua saya menelepon, menawarkan diri untuk menjemput karena malam itu Semarang sedang hujan cukup lebat. Karena memang sudah *ngidam*, saya minta orangtua untuk menunggu saya di ujung gang Jl.Ahmad Yani.

Sewaktu saya mau masuk ke dalam tenda warung, ada satu bapak yang sedang berdiri. Kelihatannya beliau juga ikut antri. Berdiri dengan tangan terkepal didada, seperti orang kedinginan dan berpakaian kumal. Antrian cukup panjang, saya pun duduk didekat tempat nasi dan memandangi si bapak yang juga masih berdiri ditempat yang sama.

Si mas penjual pun memberikan sebungkus nasi goreng ke bapak yang berbaju kumal tadi, entah si bapak memang pesan atau bagaimana, tanpa membayar dan setelah menerima sebungkus nasi goreng itu, si bapak langsung bergegas pergi, dengan mulut komat-kamit dan mendekap erat bungkusan nasi goreng hangat itu didadanya.

Masyaallah, amppuun..

Pemandangan itu meninju hati saya. Si bapak terlihat amat sangat bersyukur dengan makanan itu. Berbagai macam imajinasi berkelebatan dipikiran saya, :
  1. Apakah ada orang yang juga menunggu si Bapak untuk santap nasi goreng bersama?
  2. Apakah si bapak memiliki anak, istri yang kelaparan dirumah?
  3. Apakah si bapak memilih untuk tidak makan, tapi memberikan nasi goreng itu untuk seseorang?
  4. ......
Mungkin kita yang kurang bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Setelah mampu menghasilkan uang sendiri, diantara kita mungkin ada yang cenderung untuk meremehkan hal yang sedikit dengan dalih, "Ah, nanti kan bisa beli lagi"

Yang utama, malam itu saya sangat bersyukur bisa melihat satu bentuk kesyukuran dari hal yang sedikit dan sederhana. Sampai sekarang, pemandangan itu masih lekat dipikiran saya.

Semarang, 01 Januari 2011

(Belum) Boleh Berhenti Bermimpi


Kata salah satu kawan komunitas, tahun 2010 ini adalah tahun keberuntungan saya. Lalu, saya menilik ulang mimpi-mimpi saya. Dimulai sejak wisuda bulan Januari 2010 yang didampingi orangtua, adik satu-satunya, juga sang tunangan yang menyempatkan diri cuti barang sehari. Hingga bulan Oktober ini, saya bisa mewujudkan mimpi saya untuk punya penghasilan sendiri, jadi tidak perlu merepotkan orangtua lagi dalam urusan finansial.

Ditengahi dengan maju satu langkah setelah 2 tahun meneguhkan komitmen menuju hal yang serius dan sebenarnya dengan si dia pada medio September 2010 lalu.

Dan kini, saya terjebak di Jepara, dekat dengan pantai Kartini. Sejak jaman kuliah, inilah yang saya inginkan. Mencoba mandiri, berpisah dengan orangtua. Tercapai sudah semuanya. Saya dialihtugaskan ke Kantor Layanan Syariah Jepara. Dekat dengan laut dan pantai. Salah satu ciptaan Allah SWT yang mampu jadi pelarian disaat penat dan menjadi sumber inspirasi tiada henti.

Mimpi itu tiada batasnya.

Kadang, memang impian-impian itu tersendat dan tidak semuanya berkembang sempurna layaknya cendawan di musim penghujan. Namun, jika kehendak Allah sudah berkata, semuanya akan mengalir tanpa henti, bahkan membuat diri berdecak kagum atas rencana indah-Nya.

Bumi Kartini, Oktober 2010

Ini Hidupku, Bagaimana Denganmu?


Hidup bisa berjalan tak sesuai dengan rencana semula. Saya mencanangkan tiga buah dan hanya satu yang teraih, dengan alur dan sketsa yang sama persis selalu saya riuh gemborkan setiap kali ada yang bertanya, "Apa rencanamu? Apa yang ingin kamu raih? Sekolah lagi, bekerja, atau menikah muda?"

Tak ada yang bisa membuat masterplan itu sempurna, karena terkadang ditengahnya akan banyak jalan yang berlubang, persis aspal yang digerogoti tetesan air hujan. Lebih sering, rasa syukur yang menutupinya hingga menjadi kepingan puzzle yang utuh.

Hidup saya tidak sama lagi, setelah Allah memberikan saya apa yang ternyata saya butuhkan. Allah memainkan plan A saya dan saya baru menyadarinya beberapa pekan setelah mimpi yang menjadi nyata itu berjalan.

Setelah lulus, saya amat berharap bisa bekerja ditempat yang sesuai dengan impian saya semenjak sekolah dasar, saya ingin menjadi seorang Jurnalis. Tapi apa mau dikata, Allah menyorongkan saya bulatan nasib yang justru selama ini saya hindari, menjadi seorang bankir. Karena keluarga besar saya mayoritas bergerak di bidang perbankan, saya ingin mencari jalan sendiri, alur yang berbeda, dan tentu impian saya. Allah mengamanahi saya bekerja di salah satu bank syariah terbesar di negeri ini.

Lantas, bagaimana dengan gairah saya yang besar terhadap aktivitas menulis?

Dengan bangga saya katakan. Gairah itu tidak akan pernah padam, meskipun intensitasnya akan berkurang. Menulis adalah hidup saya, dunia yang menemani saat tidak ingin bicara. Seperti kata, Khrisna Pabichara, "dengan menulis, saya bisa menumpahkan kecamuk perasaan, kecewa, amarah, sakit hati, dendam, rindu, sunyi, sepi, kehilangan, harapan, cinta. Dengan menulis sajak, saya merasa lebih sehat."

Ini hidupku, bagaimana denganmu?

Semarang, 17 Agustus 2010

Sharing Materi Liqo

--- Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan, bukan kita inginkan ---

Waktu masih kuliah, saya suka ikut kajian pekanan. Kebetulan sedikit materinya masih saya simpan. Cuma karena saya pencatat yang buruk, catatan saya tidak banyak. Kadang, sedikit amburadul. Tapi nggak apa-apa ya? Semoga saja bermanfaat. amin. (^_^)

A. Marah

Hal yang manusiawi kalau kita marah. Marah diperbolehkan tapi harus mudah memaafkan. Ada 8 buah kedzaliman kalau kita marah.
  1. Hasut
  2. Mencaci maki saat cobaan datang mendera.
  3. Mendiamkan
  4. Melecehkan, berpaling, menjauhi
  5. Berkata dengan hal-hal yang tidak disukai
  6. Mengolok-olok
  7. Menyakiti fisik
  8. Menahan silaturahim, dst
Cara yang mudah menahan amarah : Allah selalu memaafkan kita, masa kita nggak memaafkan teman yang berbuat salah? Kuncinya adalah sabar dan ikhlas.

B. Penyebab Stress

Ada beberapa penyebab stress :
  1. Banyak keinginan tapi nggak terpenuhi
  2. Nggak bisa menerima kenyataan, nggak realistis
  3. Bersandar pada makhluk
  4. Orang yang mudah sebel dengan orang lain
  5. Suka mempersulit diri sendiri
  6. Orang yang pendengki
  7. Berkumpul dengan orang-orang stress
  8. Suka membicarakan orang lain, suka ber-su'udzon
Ada beberapa tips supaya nggak stress ala Aa' Gym :
  1. Siap menghadapi yang cocok dan nggak cocok dengan keinginan kita
  2. Ridho terhadap segala hal yang terjadi dengan kita. Bersyukur :-)
  3. Jangan mempersulit diri sendiri
  4. Evaluasi diri
  5. Berpikiran dan berperilaku positif
  6. Kalau nggak ada teman curhat, curhatlah sama Allah..
  7. Berteman dengan orang-orang yang shaleh.

Bahagia Dengan Berbagi

foto : 2 diantara 3 yang tampil di KickAndy, 16 April 2010

Sungguh, mereka ini orang-orang banyak duit. Jika mereka mau, bisa saja berkeliling dunia, menikmati kemewahan, makan makanan yang enak dan mahal. Tapi, mereka lebih memilih jalan yang lain. Terlihat sulit dan keras, tapi mengapa mereka bilang mereka bahagia, sangat bahagia?

Saya ikutan nangis didepan TV. Sedih sekaligus miris. Hari modern seperti ini masih banyak yang kelaparan, tidak bisa sekolah. Seperti induk ayam mati dilumbung padi. Itulah kata yang tepat menggambarkan situasi pelik macam ini.

KickAndy episode Mereka Yang Terpanggil, Jumat 16 April 2010 itu The Best Episode of This RealityShow I Ever Saw. Ini seperti mengingatkan saya, bukan duniawi yang saya cari. Tapi lebih ke hati. Supaya hidup ini rasanya tenang karena bisa berbagi dengan orang lain. Apa yang kita punya itu sebenarnya kan bukan 100% murni milik kita. :-)

Rasanya saya kepengin teriak : Allah, terimakasih sudah membuka jalan saya kesana. Mempertemukan saya dengan Eyang dan adik-adik panti asuhan puteri itu. Lega sekali rasanya.. :-)

Belajar Dari Penjual Roti dan Kerupuk

Akhir-akhir ini saya suka boros dalam pengeluaran yang emang ngga sebanding sama pemasukan. Pengeluaran itu pun kadang saya rasa suka sia-sia, misal buat makan atau beli hal yang ngga penting. Ujung-ujungnya yang ada rasa nyesel karena kenapa uang itu ngga saya tabung atau dipake buat sesuatu yang berguna. *Sedih*

Tadi siang sekitar jam dua siang *panas bangeett...*, pas perjalanan pulang dari kampus menuju rumah. Saya liat kakek penjual roti lagi nuntun sepeda rotinya di pinggir Jl.Ngesrep, Tembalang. Si kakek jalannya sambil nunduk, dilehernya terlilit handuk kecil.

Sampe rumah, mamah cerita habis beli kerupuk di tukang kerupuk yang suka lewat depan rumah. Kata mamah, tukang kerupuk ini masih muda, cocok jadi anak sekolahan, dan kalo terawat dengan baik pasti cakep. Hanya karena kondisi ekonomi dia jadi terlihat lebih tua dari umur yang sebenarnya. Tukang kerupuk ini pasti nengok kerumah saya saban kali dia melintas. Mamah yang ngga tega akhirnya maksain beli beberapa plastik kerupuk, sambil nawarin si mas minum segelas air es. *cuaca jam satu siang. Pasti kebayang panasnya kayak apa??* Si mas ini keliatan haus banget, kata mamah. Dia juga bawa botol aqua buat wadah minum, tapi airnya udah habis. Mamah sempetin nanya-nanya sama si mas kerupuk. Dia ternyata ngekost di Salatiga *what??? Salatiga itu lumayan jauh buat ditempuh dengan cara jalan kaki!!* Udah gitu jualannya juga susah, karena jarang laku. T.T

Ya Allah. Sedih banget liat mereka yang susah cari uang buat sekedar bertahan hidup. Saya malah kadang ngga mikir ngeluarin uang, padahal saya belum kerja. Hiks *Boros*

Maafkan Saya :

........Mengampuni menjadikan kita mampu berhadapan dengan masa silam dan melepaskan kita dari beban yang tidak bisa dibatalkan. Berjanji mengizinkan kita menghadapi masa depan dan menata dengan lebih baik langkah-langkah yang tidak bisa diprediksi.

*ini kutipan dari mas Triyono Lukmantoro, salah satu dosen saya di komunikasi FISIP UNDIP.

Shalat Yang Menyelamatkan


Ada satu cerita dari korban selamat bom Ritz Carlton - JW.Marriot kemarin di harian JawaPos pagi ini. Yang selamat adalah sekuriti dari Hotel JW.Marriot, ini kali kedua dia selamat dari ledakan bom, setelah yang pertama pada tahun 2003 lalu di hotel yang sama. Dia selamat karena pada saat ledakan sedang melaksanakan shalat dhuha (Subhanallah!). Rupanya sebelum kejadian, seorang kawannya menyarankannya untuk menunaikan shalat sunnah yang terberkahi tersebut. Dan atas kehendak Allah pula, dia terselamatkan. Yang kedua, bukan soal bom lagi.

Sekitar satu tahun yang lalu, ada kebakaran di suatu daerah di Semarang. Daerah ini merupakan kawasan padat penduduk yang rumahnya saling berdempetan. Seperti yang Allah firmankan dalam Al-Quran, bahwa bencana akan datang saat sepertiga malam atau menjelang subuh, kebakaran itu pun terjadi pada saat sepertiga malam. Dimana jam tersebut adalah saat orang sedang tertidur lelap.
Namun tidak halnya bagi seorang kakek. Saat orang lain tertidur dia sedang asyik bertafakur, bersujud, menikmati waktu akhir malam dengan menunaikan shalat tahajud. Dalam shalatnya Ia berdoa agar dihindarkan dari marabahaya, shalatnya terusik saat didengarnya ada suara gaduh diluar rumah dan hawa terasa panas. Saat pintu rumah dibuka, dilihatnya orang-orang ramai memadamkan api. Ternyata terjadi kebakaran. Namun apa yang mengherankan? Rumah disebelah kanan-kiri si kakek sudah hangus terbakar, sedangkan rumahnya masih tegak berdiri, api tak menjilatnya sama sekali. (Subhanallah!Allahu Akbar!)

Saat seorang kawan berpulang ke Rahmatullah pada 17 Mei lalu, saya merenungkannya. Betapa tidak? Kematiannya membawa pesan bagi siapapun yang mau mengambil ibrah darinya. Dia meninggal pukul 10.00 pagi, saya mempertanyakan, Apakah almarhum sempat shalat sunnah dhuha sebelumnya? Apakah almarhum sempat membaca doa sebelum meninggalkan rumah dan saat berkendara?

Betapa tidak?

Jika saja mau menyempatkan diri disela waktu kita yang sempit untuk menunaikan 2 rakaat shalat dhuha dipagi hari sebelum beraktifitas, semoga Allah berkenan menjaga kita hingga sore hari.

Betapa tidak?

Jika saja mau membaca doa sebelum bepergian, semoga Allah meridhai langkah-langkah dan memberikan keselamatan bagi kita.

Wallahu alam.