Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Update Status

Saya pribadi menggunakan jasa sosial media, terutama Facebook, untuk berkomunikasi dengan suami jika beliau kebetulan sedang berada diluar Indonesia. Saya memang nggak mewajibkan beliau memberi kabar kepada saya setiap saat karena saya tahu betul bagaimana pekerjaannya. Beliau biasanya mengupdate kegiatannya melalui tulisan atau foto sehingga saya bisa memantaunya darisana. Meskipun saya akui komunikasi akan tersendat jika menggunakan pola seperti ini. Bagaimanapun juga komunikasi tatap muka akan jauh lebih berkualitas dibandingan melalui layar monitor.

Aturan update status nggak berlaku jika suami berada didalam negeri. Meskipun saya nggak mewajibkan sistem "wajib lapor" tapi saya ingin jadi orang pertama yang tahu kegiatannya, ya minimal kedua lah setelah ibu mertua hehe. Saya bisa marah kalau seharian nggak kasih kabar tapi malah aktif update status di sosial media. Suka kaget begitu lama nggak kasih kabar eh tahu-tahu sudah di bandara, misalnya. Duh, rasanya jadi kurang spesial begitu.

Sebetulnya saya pun bukan tipikal "laporan" tapi ya karena tahu rasanya nggak dikabarin itu nggak enak jadi saya usahakan untuk memberi tahunya terlebih dulu. Misal, "aku otw pulang", "aku maksi sama mas xxx dulu.." atau "udah dibandara, take off bentar lagi, pake AirAsia" begitupun sudah cukup buat saya.

Enaknya jaman sekarang itu komunikasi begitu gampang dijangkau. Nggak bisa plan A ya pakai plan B, atau masih tersisa sampai plan Z. Tinggal disesuaikan saja dengan kenyamanan kita dan pasangan, jarak, efisiensi dan juga biaya.

Semarang, 5 Desember 2015

Sabtu Bersama Aliyya

Pagi tadi saya menghadiri acara seminar parenting yang diadakan oleh komite wali murid di sekolahnya Aliyya. Ini kali kedua saya datang menemaninya, hal yang belum bisa saya lakukan dihari biasa.

Selesai makan dan berganti pakaian, Aliyya duduk sambil nonton upin-ipin dan saya beberes barang yang akan dibawa ke sekolah. 2 buah susu ultra milk dan sebotol air putih. Aliyya bertanya, " bunda mau kemana? Salim dulu." Aih, rupanya dia mengira saya akan kekantor. Saya jelaskan bahwa kita akan pergi ke sekolah buat main playdough terus bunda ada acara seminar dilantai 2, girang sekali ekspresinya. "Asyik..Asyik, aku sayang bunda..", begitu katanya. Bahkan dia memakai sepatunya sendiri tanpa saya bantu.

Sesampainya disekolah, saya mengantarnya masuk kedalam kelas. Mencium pipi dan memeluknya. Saya bilang akan kembali menjemputnya dan menunggunya diluar, dibawah pohon seperti yang biasanya dilakukan Abi.

Ini pertama kalinya saya mengikuti seminar parenting. Saya duduk sendiri ditengah ruangan sambil membaca buku yang saya bawa dari rumah. Tidak ada yang saya kenal disana dan mungkin saya yang paling muda. Dengan tema mengenai cara mengenali emosional anak, saya merasa seperti gelas kosong. Ini yang saya hadapi. Jika biasanya informasi didapat dari buku, internet, kali ini lebih tercerahkan karena lebih aplikatif. Saya baru tahu jika peran Ayah sangat penting dalam perkembangan emosional anak. Intinya, saya tidak merasa sendiri dan beruntung bahwa suami adalah sosok Ayah yang baik dan disayangi oleh anak-anak. Suami saya jauh lebih sabar dan komunikatif, tidak heran mereka akan lengket sekali dengan Abinya jika kebetulan Abi tidak sedang ada worktrip.

Seperti baterai yang terisi penuh, energi baru, itulah perasaan saya setelah acara ini selesai. Bergegas saya menjemput Aliyya. Rupanya sampai disana Aliyya nggak pakai kerudung dan kelihatan habis menangis. Dia langsung memeluk kaki saya dan bilang, "aku sayang bunda, bunda kok lama sih?" Wali kelasnya cerita kalau Aliyya habis jatuh, kepalanya terbentur karena didorong oleh anak lelaki teman sekelasnya.

Duh, baru aja ya acara seminarnya selesai. Saya berusaha menahan emosi. Meskipun orangtua anak itu sudah meminta maaf, tapi saya nggak suka kalau anak saya diperlakukan kasar, apalagi sampai kena kepala. Saya diam saja. Sadar bahwa hal seperti ini memang tidak terhindarkan dilingkungan sekolah. Saya memeluk Aliyya dan bilang supaya lain kali lebih hati-hati saja.

Pulang sekolah sengaja saya mengajaknya ke Superindo untuk membeli buah apel dan susu kotak kesukaannya. Dia senang sekali dan sepertinya sudah lupa tadi habis jatuh.

Ah, meskipun cuma sebentar. Mungkin dilain waktu saya harus meluangkan waktu berdua saja dengannya. Ke supermarket atau ke taman bermain. Saya merasa lebih dekat karena tidak bisa dipungkiri hubungan kami sempat merenggang pasca kelahiran Aisha, anak kedua saya. Tidak hanya untuk sekarang, mungkin bisa juga dipraktikkan dimasa depan.

Semarang, 28 November 2015

Menjelang Puasa

Alhamdulillah ya, seneng banget besok udah masuk bulan Ramadhan lagi. Suasananya itu lho yang bikin kangen. Meskipun cuaca lagi panas-panasnya di Semarang tapi insyaallah bisa lah puasa selama niatnya kuat supaya nggak batal. Hehe

Oiya, sebelum puasa biasanya beberapa orang (termasuk ayah saya sih.. hihi ) suka ngumpulin suplemen buat badan, susu, minuman atau makanan supaya besok pas puasanya nggak lemes. Tapi saya pikir lagi, insyaallah fisik saya cukup kuat tanpa harus ditopang oleh suplemen itu. Salah satu esensi puasa kan supaya kita berempati sama kaum miskin, gimana menahan rasa lapar dan bahkan mereka belum tau bisa makan atau nggak waktu sahur atau buka puasa. Nah saya kok yang Alhamdulillah kuat malah mikir beli suplemen macam2.

Jika dihari biasa, saya suka meramu air lemon dengan madu atau habbasyi oil, puasa ini kayaknya libur dulu deh, habis stok soalnya.

Ini puasa pertama setelah beberapa kali Ramadhan saya dalam kondisi hamil dan menyusui, kebetulan Aisha udah masuk 7 bulan dan saya juga udah nggak pumping jadi harapannya bisa penuh puasanya.

Semoga ya. Aamiin

*Semarang, 3 Ramadhan 1436 H / 20 Juli 2015

(Repost dari akun saya di Wordpress. Maaf ternyata nggak bisa berpaling kelain hati hihii)

Sabar ya Bunda

Alhamdulillah saya dikasih suami yang sabarnya nggak kira-kira. Berbanding terbalik sama saya yang serba pengin cepet. Udah takdir Allah mungkin ya ketemu suami yang tipe begini. :)

Hari ini agak bikin puasa saya nggak konsen sih soalnya Aisha agak susah makan juga maunya nempel terus. Mungkin agak kurang enak badan terus cuacanya juga panas jadi rewel deh. Rumah yang berantakan juga berakibat ke emosi yang jadi gampang naik. Tapi kan mana ada ya punya balita atau bayi rumah bisa rapi jali. Mustahil bisa serapi gambar acuan saya di Pinterest itu..

Duh, ampun..

Kalo udah gini, saya pengin cepet resign dari kantor buat ngurus rumah,.anak sama suami. Tangan saya gatel kalo liat yang berantakan soalnya heuheu..

Semoga deh ya rencana bisa terwujud awal tahun depan.

*Semarang, 20 Juli 2015

(Repost dari akun saya di Wordpress.)

Gadget Weaning

Weaning atau menyapih itu bukan cuma perkara ASI saja. Di masa sekarang, dimana balita udah terbiasa dengan gadget lumrah sekali ditemui, termasuk Aliyya, anak pertama saya.

Aliyya, 3 tahun, udah terbiasa dengan tablet sejak sebelum 1 tahun. Awalnya yang lagu-lagu anak, tutorial do’a sehari-hari berlanjut jadi Masha and the bear, egg surprises, playdough, sampai barbie dan putri sofia.

Gimana nggak kecanduan kalo setiap hari Abia juga kerjanya didepan laptop? Ini yang susah karena Abia emang kerjanya online dan kalo pas jadwal dirumah ya pasti sambil buka laptop sepanjang hari dan Aliyya pasti jadi gelisah, akhirnya ngebajak kerjaannya Abia.. Nyerah deh. Tablet pun berpindah tangan dan Aliyya anteng lagi.

Susahnya adalah kalo Abia udah mulai worktrip dan Aliyya jadi mulai apatis karena pegang tablet terus. Efeknya adalah apa2 tablet.. terus jadi rusuh deh karena rewel nggak mau pisah sama tabletnya.

Harus tega. Tabletnya saya sita.

Karena saya masih serumah sama orangtua jadi suka agak tarik ulur nih soal jam pegang tablet. Tapi sekarang setelah liat Aliyya jadi agak rusuh dan apatis karena pegang tabletnya kelamaan, mereka jadi setuju. No more tablet when you’re at home.

Awalnya reaksinya kayak waktu disapih menyusui. Banyak tangisan sama drama gitu. Tapi nggak lama kok, dibanyakin aktifitas motorik aja sama banyak diajak bicara biar lupa sama tabletnya. Sukses deh.

Semarang, 5 Juli 2015

Terimakasih

Sewaktu rawat inap di rumah sakit pasca melahirkan akhir Oktober tahun lalu, saya punya waktu 3 hari penuh melihat tayangan televisi. Ada dua yang membekas. Pertama, Just Alvin edisi Dian Sastro dan jingle Luwak White coffee edisi Kimberly Rider yang saya akhirnya tahu melalui YouTube berjudul Feeling Good by Soundroll.

Di acara itu Dian Sastro bercerita tentang hidupnya, salah satunya tentang bersyukur dan berterima kasih saat akan memulai hari. Bersyukurlah maka nikmat itu akan bertambah. Dan, saya pun mencobanya.

Bangun tidur. Membuka mata. Membaca doa bangun tidur. Duduk bersilang kaki. Memejamkan mata.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa tidur dengan nyenyak, dengan kasur, bantal, guling dan selimut yang bersih juga nyaman.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa bangun pagi ini dengan mata terbuka, anggota tubuh yang tidak kurang satu apapun, bergerak normal sebagaimana mestinya, masih bisa mendengar suara ayah mamah abia dan anak-anak.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa makan makanan yang bersih dan sehat, minum air bersih tanpa perlu kesulitan mencarinya, masih bisa menikmati listrik dan udara yang bersih.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa bergerak menjemput rezekimu, masih bisa punya cukup uang untuk membeli kebutuhan kami, masih punya kendaraan pribadi sehingga tidak perlu berdesakan dalam bis atau angkot.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa memeluk dan mencium pipi suami dan anak-anak.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa berangkat dan pulang bekerja dengan mudah, bertemu teman-teman, membantu orang, dan akhirnya pulang kerumah yang nyaman.

Akhirnya, tidak akan pernah cukup berterimakasih pada Alloh atas semuanya..

----

Setelah ritual sederhana ini selesai, hati ini terasa lapang dan lebih bersemangat menjalani hari.

Ayo, mencoba dan rasakan sendiri damainya. :)

Memeluk Anak dan Pasangan

Saya dibesarkan di keluarga yang tidak terbiasa saling memeluk. Ndak biasa mengekspresikan rasa sayang dengan cara seperti itu, bukan cuma rasa sayang, saat kami, anak-anaknya sedih, marah kami cenderung memendamnya sendiri dan memilih mengekspresikan dengan cara masing-masing. Saya cuma baca di buku atau artikel bahwa berpelukan itu hangat, punya efek menenangkan hati, tapi saya betul nggak tahu seperti apa rasanya..

Maka dari itu, semenjak saya menikah 3 tahun lalu, saya penginnya mulai membiasakan diri untuk memeluk suami setiap pagi sebelum mulai beraktivitas. Pokoknya pagi itu harus bisa meluk walaupun sebentar. Efeknya cukup baik. Saya memulai aktivitas dengan hati yang hangat, perasaan yang lega dan lebih positif. Rasanya ada yang kurang kalau lupa berpelukan. :D

Setelah Aliyya. anak pertama lahir, berumur beberapa bulan dan sudah bisa belajar duduk di pinggir kasur, saya mencoba belajar memeluknya, sampai sekarang usianya 2,7 tahun, saya berusaha untuk memeluknya setidaknya sehari sekali. Saat berpelukan, tidak lupa disisipkan doa juga untuknya.

Memasuki usia 2 tahun, Aliyya agak sering tantrum, apalagi setelah Aisha, adiknya lahir akhir Oktober lalu. Sering sekali Aliyya mencari perhatian orang rumah dengan cara berteriak sehingga Aisha nggak bisa nyenyak tidur, setelah itu Aliyya nangis dengan suara yang mungkin terdengar sampai ujung gang. Membiarkannya sampai tenang lalu memeluk dan mengelus punggungnya.

Pelukan juga menjadi keharusan jika suami hendak pergi ke kota atau negeri seberang. Mengantar kepergiannya. Memeluknya pelan sembari membisikkan do'a. :)

Semarang. Medio November 2015.

He's Lost

Apa yang terjadi jika seekor kucing tua, pikun, buta, sudah berhari-hari kehilangan nafsu makan, sering menyendiri di toilet, salah masuk kerumah tetangga, terlebih sudah menemani hari-hari semenjak masa remaja, kemudian hilang dari rumah disaat musim hujan seperti ini?

Khawatir. 

Sedih.

Ochin, sudah berusia 8 tahun. Kucing kampung ini dipelihara karena induknya beranak dirumah. Anak bungsu dari 3 bersaudara, dan hanya dia yang cacat, bukan hanya buta, namun kelaminnya tidak berkembang sempurna. Ochin, bahkan belum pernah terlihat kawin  seperti kucing jantan pada umumnya, yang akan pergi dari rumah untuk berburu kucing betina dan mengeluarkan suara-suara bising mereka. Ochin hanya pernah tertarik dengan Chichi, kucing betina peranakan berbulu lebat. Tapi sayang, cinta Ochin diacuhkan Chichi.

Beberapa hari sebelum Ochin hilang, dia sering berbaring di toilet atau duduk di pinggir kolam ikan depan rumah. Pernah juga masuk kerumah tetangga yang kebetulan punya kolam ikan yang hampir sama. Mungkin dia kira itu rumahnya. Dia mulai pikun, mirip dengan manusia bukan?

Ini bukan hilang yang pertama kali. Dulu pernah keluarga saya mencari hampir setiap hari ke sudut-sudut perumahan, melongok ke dalam selokan, hingga akhirnya mamah menemukan Ochin disudut tanah lapang sedang menggigil ketakutan.



Dia buta. Akan bingung harus jalan kemana kalau ada suara bising yang membuatnya lupa jalan pulang. Ochin hapal jumlah anak tangga, sudut rumah, dan letak perabot. Makanya kami akan kelimpungan kalau Ochin ada dijalan raya yang banyak kendaraan lalu-lalang.

Tapi, di musim hujan ini, Ochin kembali menghilang. Dan kami tidak berhasil membawanya pulang.

Jika kami mengambil kucing-kucing yang sekarat dijalan untuk disembuhkan atau dimakamkan dengan layak, kenapa kucing kami sendiri yang sudah 8 tahun bersama menghilang tidak tahu kemana? Apakah masih hidup atau sudah mati? Kalaupun mati, apakah ada yang bersedia memakamkan bangkainya? Semakin banyak tanda tanya, semakin banyak kekhawatiran..

Going Hajj



Pekan kemarin waktu lagi bantu sepasang suami istri buka tabungan Haji, saya terlibat percakapan dengan mereka berdua soal Haji itu sendiri, begini kira-kira yang saya ingat :

Suami/Istri   : Wah, antrian hajinya udah panjang banget ya, mbak? Hampir 12 taun,
                       mungkin karena ada dana talangan juga jadi orang bisa cepet-cepetan daftar.
                       Lha mbak nggak daftar? Atau pegawai emang udah pasti dapet jatah haji ya?

Saya             : Saya kayaknya pengin umroh aja deh, pak, bu? Antrian hajinya panjang sekali.
                      Kalo saya mending uangnya buat bayar DP rumah aja dulu? Kalaupun
                      saya dapet tawaran haji, saya pengin orangtua saya yang berangkat 
                      duluan kesana..

Hmm, diatas segalanya, saya berdoa supaya usia mamah ayah dipanjangkan dan dikasih kesehatan sampai saatnya berangkat ke rumahNya. Supaya kuat beribadah maksimal disana. Waktu tunggunya memang panjang tapi sekali lagi, kita berikhtiar, Allah yang Maha Mencukupkan. 

:') Saya kepingin sekali liat mamah ayah berdiri didepan Ka'bah, lengkap dengan kain dan mukenanya.

Save Their Life


Ada 8 kucing dirumah saya dan semuanya adalah kucing adopsi dari jalanan. Yang paling tua adalah Ochin, 8 tahun. Yang termuda adalah Nunun, sekitar 2 bulan. Dulu saya bisa pasrah membiarkan kucing saya mati karena sakit, karena ayah nggak kasih izin saya untuk bawa mereka ke dokter. Tapi sekarang saya pasti ngotot bawa kucing-kucing itu secara rutin ke dokter hewan, selain karena sudah punya penghasilan sendiri, juga karena sebagai penebus rasa bersalah saya dengan kucing-kucing saya terdahulu.

Agenda Mingguan Bersama Mamah


Sudah sejak lama, saya sama mamah melakukan ini. Bukan direncanakan, tapi menjadi kebiasaan mingguan kami berdua. Berkunjung ke pasar Damar, salah satu pasar tradisional dekat rumah untuk berbelanja bahan makanan setiap Sabtu atau Minggu. Sebelum memulai berbelanja, saya atau mamah akan terlebih dahulu membeli beberapa keranjang ikan pindang. Berjaga, siapa tahu kami akan berjumpa dengan pasukan kucing yang kelaparan.

Awalnya beberapa penjual atau pengunjung pasar akan memasang wajah heran dan memarahi kami karena mengotori area lapak mereka, tapi kami acuh saja. Dan kelamaan, mereka pun terbiasa dengan kami. Sampai saat ini, penjual pindang langganan sudah hafal setiap kali saya datang, "Pindang buat kucing ya,mbak? Keranjang yang itu 2ribuan,mbak?..

Beberapa kali kami menemukan anak kucing sekarat, dan harus adu mulut dengan Ayah untuk membawa mereka pulang. Walaupun akhirnya anak kucing itu mati, tapi kami puas karena seenggaknya mereka bisa mati dan dikubur dengan layak.

Selain kucing, kami juga mengunjungi 2 ekor monyet yang lokasinya dekat pasar Damar. Monyet yang pertama, diikat rantai dipohon, tanpa rumah-rumahan, rantainya bahkan terlalu pendek untuk sekedar berpindah tempat. Monyet pertama ini agak galak dengan salah satu laki-laki penghuni rumah pojok warung sate. Sepertinya laki-laki itu sering mengganggunya. Tapi dia tidak pernah jahat kepada kami. Monyet ini akhirnya mati sebelum bulan puasa kemarin karena sakit.

Monyet kedua ada diujung gang dekat pos kamling. Setiap kali kami datang dengan buah ditangan, dia akan dengan antusias menyambut kami. Beruntung, pemilik monyet kedua ini sayang padanya. Dibuatkan rumah-rumahan, dan rantai yang agak panjang, sehingga dia bisa bebas bergelayutan. Bahkan, sewaktu mudik, monyet kedua pun diajak serta.

Belum tahu sampai kapan agenda kami ini akan berjalan, karena kami suka dan senang, mungkin selama kami ada, akan terus begini.. :)

Macaroni Schotel ala Mamah :)


Note : Masakan mamah emang selalu I.S.T.I.M.E.W.A :9

Ngidam kali ini judulnya : Nggak cocok sama makanan Jepara. Sorry to say, tapi selama disini belum nemu kuliner yang sreg di lidah. Berawal dari ngobrol-ngobrol ringan habis kerja sama mbak Nina soal macaroni schotel, aku langsung kepikiran!! BIKIN!!

Alhasil Sabtu (15/10) pagi tadi aku ngajakin mamah ke pasar buat beli bahan. Nggak usah banyak-banyak, yang penting bisa ngicipin aja udah seneng banget..hihi

Ini aku kutip sedikit bahan sama cara masaknya ya.. :

Bahan :
  1. 5 siung bawang putih
  2. 2 buah bawang bombay
  3. 1/2 kg daging ayam (aku prefer pake dada ayam)
  4. Hati sama rempela ayam (masing-masing 4 biji)
  5. 2 buah susu ultra milk putih ukuran sedang
  6. 5 butir telur ayam
  7. 500 ml tepung terigu yang udah dilarutkan sama air putih
  8. Sosis ayam
  9. Macaroni
  10. Keju kraft (buat topping)
  11. Blueband
  12. Lada, merica, garam, gula pasir
Cara masaknya :
  1. Rebus hati ayam+rempela (jangan lupa air rebusan pertamanya dibuang,ganti lagi)
  2. Rebus dada ayam yang udah dicuci bersih+dipotong,masukin juga hati ayam+rempela yang udah setengah matang. (Oiya, air rebusannya yang ini jangan dibuang, bisa jadi kaldu tambahan lho..)
  3. Rebus macaroni (jangan kelamaan..)
  4. Kocok lepas telur ayam
  5. Panasin wajan, tuang minyak goreng+blueband secukupnya
  6. Tumis bawang putih,bawang bombay sampai harum
  7. Masukin larutan tepung, aduk sampai kalis
  8. Masukin macaroni, dada ayam, hati ayam, rempela, sosis yang udah dipotong, sambil terus diaduk rata
  9. Tuang telur ayam, susu ultra, aduk terus supaya nggak kering
  10. Tambahin gula pasir, garam, lada, merica secukupnya
  11. Tunggu sebentar sampai agak mendidih
  12. Tuang ke loyang alumunium, tambahin keju kraft parut diatasnya.
  13. Panggang di oven atau microwave kurang lebih 15 menit
Yummy :9 alhamdulillah masih bisa masak berdua bareng sama mamah. Nikmat sekali rasanya..^^

Menyapa Bunda sama Abi :)

kelu

Note : Hey Nak,lagi apa ya kira-kira didalam sana?

Belum juga sebulan, udah kontrol lagi ke dokter kandungan. Ngepasin Abi pulang jadinya sekalian aja kesana. Awalnya kata dokter nggak usah USG aja, cuma didengerin suara detak jantungnya (hihi..suaranya lucu, bergema-gema), kan baru kemaren kontrolnya, tapi akunya minta USG. Pas dilihat, Wow..subhanallah amazing!! Baru 3 minggu udah tumbuh berkembang segitu cepetnya :) insyaallah sehat, dan semoga begitu sampe nanti pas lahiran. Amin ^^

Kenapa feelingnya nanti baby girl ya? Gara-gara sering salah nulis nama kalo ada nasabah apply rekening baru, namanya siapa gitu? aku nulisnya "ALIA". Si nasabah bilang, "Bu, itu nulis namanya salah" Hihihi..maafin ya?

Alhamdulillahnya nggak ngalamin yang namanya morning sickness. Bukannya takabur juga sih? Tapi Allah kasih kemudahan (mungkin) karena akunya jauh sama Abi, jauh sama mamah, jauh sama Ibu, sendirian di kost. Jadinya harus lebih kuat dan tahan banting :D Tapi udah mulai suka gampang capek dan dikantor udah mulai pake flat shoes terus..

Hmm..minggu depan udah masuk minggu ke 16 nih? Semoga babyku sehat, bundanya juga, Abinya juga, semuaaanya didoain sehat ya? Supaya kita bisa kumpul bareng lagi ^^

Selamat Bersiap Lahir, Sayang

Waw.. ada yang sudah berdetak di rahim saya, tangan dan kakinya juga sudah mulai aktif bergerak walau terlihat lambat. Berbeda dengan apa yang saya lihat satu bulan sebelumnya melalui layar USG 2D, bentuknya masih seperti kecebong. Saya nyaris tidak bisa membedakan, apakah itu bakal janin saya atau hanya kantung udara?

Awalnya agak pesimis, karena ritme hidup saya agak berantakan dan harus bolak-balik Semarang-Jepara setiap minggu, dengan kondisi jalan arah ke Jepara yang kurang ramah, juga meja kerja di lantai 2, menggunakan high heels 5cm setiap hari, apakah calon anak saya bisa kuat? Makanan pun saya kurang bisa aware memenuhi gizi yang baik. Tapi.. alhamdulillah, calon anak mau mengerti situasi bundanya. :) i love you Baby. Mari bertahan sehat di rahim Bunda 7 bulan kedepan dan tidak kurang suatu apapun..

Walaupun Abinya juga jauh, dan cuma bisa mendoakan calon anak dari sana, insyaallah dia juga paham. Pasti nanti kita bertiga bisa kumpul bersama deh ya? Amiiin..

Si Pemungut Kucing



Little Opa, manja kalau pas jatahnya makan :)

Jam kerja udah lewat. HP tiba-tiba bunyi, eh ternyata mamah yang telepon. Kasih kabar kalau Faisal, adik saya, baru saja nemu anak kucing dikampusnya. Anak kucing itu warnanya hitam dan masih kecil. Bahkan belum cukup kuat untuk jalan, apalagi buat cari makan sendiri.

Terus terang saja, telinga keluarga saya memang rada sensitif kalau ada suara anak kucing. Pasti langsung nengok, nyari kemana arah suara itu berasal.. *hehe*. Nah, pas mau pulang, Faisal denger ada anak kucing nangis. Pas dicari ternyata suara itu anak kucing yang nyelip diantara motor-motor di parkiran. Karena iba, diambillah anak kucing itu dan dibawa pulang kerumah.

Awalnya, mamah sih nolak mentah-mentah. Karena bakalan ketiban sampur tambahan, apalagi binatang peliharaan kami dirumah udah lumayan banyak. Belum lagi masalah bersih-bersih yang menyita waktu beliau :p *Hapunten ya Mah.. Walaupun akhirnya mamah kasih ijin buat ngerawat anak kucing baru, mamah nyuruh Faisal belanja ke Indomaret buat beli bubur bayi, biskuit marie regal, juga sebotol minyak telon buat perlengkapan anak kucing.

1/4 biskuit Marie Regal + 2 Sdm susu Dancow. Menu harian Little Opa..

Little Opa, itu nama yang Faisal kasih buat pendatang baru dirumah kami. Alhamdulillah sekarang badannya agak berisi, makannya 3x sehari dan cukup lahap. Setelah makan, badannya dibalurin minyak telon supaya tetep hangat, dan nggak lupa dideket pet carriernya dikasih lampu supaya badannya nggak kedinginan.

Semarang, Ahad, 10 April 2011

Sebelum Punya Pet Shelter


Sudah hampir 21 tahun hidup saya selalu dikelilingi kucing. Seumur saya memelihara kucing, hanya 1 kali saya mempunyai kucing anggora dan sisanya adalah kucing domestik. Kenapa harus kucing domestik? Tentu saya punya alasan sendiri.

Mungkin sudah sering saya membahas soal kucing di blog ini. Tapi saya selalu ingin menuliskan pengalaman-pengalaman yang saya punya bersama kucing domestik peliharaan saya. Tingkah laku, pola makan, maupun isyarat yang mereka lakukan selalu saja memantik ide untuk dituliskan.


Aming, adalah salah satu diantaranya. Sebenarnya, kucing jantan ini bukanlah kucing peliharaan kami. Dia milik salah seorang tetangga yang selalu datang kerumah disaat jam makan pagi, siang, maupun sore. Sepertinya, dia mengenali bau kucing yang ada dirumah saya. Selain Aming, ada juga kucing-kucing liar lainnya yang suka mampir, untuk ikut makan atau hanya sekedar meminta minum.


Apakah saya terdengar seperti seorang pengkhayal? Mungkin bagi sebagian, jawabannya adalah IYA. Tapi ada juga sebagian yang punya kesenangan yang sama. Dan saya sih yakin-yakin saja dengan jalan yang saya tempuh, bukankah tiap orang punya kesenangan yang berbeda?


Aming, seperti layaknya kucing jantan yang masuk masa birahi, juga pergi meninggalkan rumah demi mencari sang betina. Dia tidak pulang hingga kira-kira 2 tahun lamanya. Kami sekeluarga mengira Aming sudah mati.
Tapi nyatanya, Aming pulang. Dengan bulu yang kotor dan badan yang kaku (dilihat sekilas saja sudah bisa dibedakan, mana yang lama terurus dengan mana yang tidak).

Ternyata, ada luka menganga yang bernanah dan bau dibelakang telinga kanan Aming. Saya pun urung menggendongnya. Menjijikan tapi saya juga tidak berani membubuhkan obat disana. Seperti yang banyak dikatakan orang bahwa kucing punya beberapa "nyawa", ini dibuktikan oleh Aming. Dia punya daya tahan yang kuat, hingga beberapa pekan kemudian setelah lukanya berulang kali sembuh dan kambuh, akhirnya luka menjijikan itu sembuh total. Tanpa obat apapun, alhamdulillah.


Sekarang Aming masih suka datang kerumah dan bergabung dengan 7 kucing lainnya untuk makan 3 kali sehari. Kendati, Aming adalah kucing liar yang kotor tapi dia tidak pernah jorok dirumah kami. Setidaknya, bagi kami, itu sudah cukup sebagai ucapan terima kasihnya.

Semarang, November 2010

the concept of family in my eyes

There is no special answer the simple question above. Family is the blood of people with us. Father, mother, sister, brother, and so on. For the scope of the absurd, the family is the people we love and love us. Having an intact family is a blessing that is often missing from our sense of gratitude. Perhaps I am including the one inside.

Saturday (20 / 2), I was watching Ceriwis Pagi Manis on Trans TV. Are not deliberately, I moved the channel. It was at 9.55, meaning the show would've done. There is another Panda rated birthday surprised by Pampam, Ruben, also Bekti. She was taken to the pound toddler who did not have a family. Panda celebrated with a box of birthday cake candles in the home also was. Panda was crying because she remembering her family. He was grateful still have a family, because he had seen those kids dont have that opportunity.

i felt .. Deggggggggg!

ALLAH! I still have mom, father, faisal. Intact. Was complete. Although sometimes, I had negative thinking and less grateful. I know maybe my parents loves me, girls only in a different way. I am grateful, ALLAH SWT reminds me by hands of others. I realized that so many people outside there wasn't lucky as me.

And so that day I feel like this heart felt relieved.

Semarang, End of February 2010.

Setelah Krisis Berakhir

Kini saya menjelang 22 tahun. Bodohnya, saya baru saja menyadari bahwa semenjak remaja hingga beranjak dewasa ternyata saya mengalami krisis hubungan antara ibu dan anak gadisnya. Krisis yang lazim dialami para Ibu dengan anak gadisnya yang beranjak remaja ini akibat tidak terbangunnya komunikasi dua arah yang baik, antara Ibu dengan puterinya. Tidak adanya dorongan untuk saling mengerti satu sama lain. Karena laiknya anak remaja yang masih mendasarkan sikap pada ego, pada saat remaja saya pun mempunyai sifat keras kepala dan ingin menang sendiri. Sayangnya hubungan yang tidak sehat itu terjalin selama bertahun-tahun.

Dan situasi buruk itu membaik dengan sendirinya. Saya tidak berusaha mencari tahu krisis apakah yang saya alami. Namun, buku selfhelp yang saya baca membuat saya sadar, ada yang salah dengan pola komunikasi antara saya dengan mamah. Dulu jika sedang marah karena tidak suka dengan sesuatu, saya tidak akan pernah mengungkapkannya. Hanya dipendam dalam hati. Dan semuanya tergambar dengan jelas dari raut wajah. Kini, beranjak dewasa, saya dan mamah lebih sering berdua di dapur, mengobrol sambil mengupas kentang, mengiris bawang, atau mengupas rambutan sambil tertawa-tawa. Kedekatan itu juga karena sayalah yang lebih sering bersama mamah dirumah dan mengantar mamah kemanapun mamah minta, misal ke arisan bulanan ibu-ibu Pasundan.




Kakek Tercinta Sepanjang Masa

Aki Tanuwinata adalah kakek saya dari pihak mamah. Aki (sebutan bagi kakek dalam bahasa Sunda) adalah seorang pensiunan kepala sekolah. Aki berbadan kurus dan tinggi serta rambut yang seluruhnya sudah memutih sejak usia muda. Menurut cerita para Uwa (Oom atau Tante dalam bahasa Sunda), Aki juga memiliki ilmu kanuragan yang digunakan untuk melindungi diri dan keluarga pada jaman penjajah dahulu kala. Hobi beliau bercocok tanam di kebun, dan memelihara ikan. Aki menikah dan hidup sederhana dengan Ene' (nenek) yang terhitung masih memiliki pertalian darah dan ketujuh orang anaknya, sering pula sanak saudara menitipkan anak mereka untuk dididik oleh Aki dan Ene'. Mereka berdua mendidik keras anak-anaknya dalam nuansa religius yang ketat. Setahu saya, ketujuh anak Aki sukses dibidang masing-masing dan tetap dalam kesahajaan seperti ajaran Aki dulu.

Saya tidak terlalu mengenal pribadi Aki secara langsung, saya tidak ingat pernah ditimang dan didongengi sebelum tidur. Kisah hidup Aki lebih banyak saya ketahui dari Mamah dan saudara yang lain yang pernah bersentuhan dengan sisi hidup Aki. Memasuki tahun 2000, Aki mulai sering sakit-sakitan, hingga terus terbaring diranjang tanpa dipan, sengaja memudahkan Aki merangkak ke kamar mandi untuk menunaikan hajat juga berwudhu.

Aki seorang yang shaleh. Meski hanya bisa terbaring diranjang karena kaki yang sudah lemah, bukan keluh kesah yang terdengar. Gumaman kecil itu digantikan oleh bacaan Al-Quran. Dibacanya kitab itu hingga berulang kali khatam. Jika waktu shalat fardhu tiba, beliau merangkak ke kamar mandi untuk berwudhu, atau jika sudah tak kuat maka lebih sering bertayamum. Jika lebaran tiba, sering kuping saya dibisikinya agar jangan lupa shalat 5 waktu dan membaca Al-Quran. Itu pesan terakhir Aki yang masih kerap saya ingat sebelum Aki wafat dalam usia 93 (kurang lebih) pada tahun 2003. Menurut kabar dari orang yang menandu jenazah Aki, jenazah Aki sangat ringan serta berbau wangi. Juga kami sering bermimpi melihat Aki dalam busana serba putih didepan rumahnya yang asri juga megah. Insyaallah Aki bahagia. Wallahu'alam

Aki memang sudah 6 tahun berpulang namun cerita-cerita kecil tentang beliau masih kami dengar. Jika waktu senggang, saya juga mamah sering membicarakan Aki semasa hidup. Kadang kami tersedu karena rindu, kadang kami tertawa mengenang perilaku Aki yang lucu. Semisal, Mamah yang kerap digendong Aki dipunggung saat hujan dengan berpayung daun pisang atau Aki yang dengan sengaja menaruh makhluk halus untuk menjaga rumah dan makhluk itu dilihat orang sampai terkencing dicelana dan pingsan..

Aki bukan hanya idola sepanjang masa tapi juga tokoh panutan dalam segala hal. Saya sangat merindukan Aki. Semenjak Aki wafat belum pernah saya didatanginya dalam mimpi. Tapi beberapa hari menjelang sidang Tugas Akhir saya 9 Desember 2009 yang lalu, Aki datang!! Saya bertemu Aki disebuah tempat mirip pasar. Ada Aki disana, sedang duduk diundakan tangga dan dikerumuni banyak orang. Saya tidak bisa menyelinap diantara orang-orang disekitar Aki. Tapi tiba-tiba Aki merangkul, memeluk, dan mengusap kepala saya. Seolah memberikan restu akan usaha yang sudah saya lakukan demi merampungkan penelitian ini. Keesokan harinya saya merasa mimpi semalam seperti nyata. Dengan bungah saya ceritakan itu kepada mamah, dan saudara-saudara yang lain. Insyaallah Aki merestui, begitu kata mereka.

Meski Aki sudah tiada dan Uwa Samsul sebagai pengganti Aki dalam keluarga besar kami pun sudah berpulang, keluarga kami masih terus bertahan. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang masing-masing individu miliki, rasa kekeluargaan kami terus menguat dengan rutin berkirim kabar meski berbatas jarak.