Barang Idaman

Maniak nonton film Jepang dari kecil, mulai dari baca komik, kartun, sampai dorama dibabat habis. Tapi, yang paling diingat itu tas ranselnya Nobita. Secara, saya penggemar tas ransel. Bentuknya kotak simetris dan kaku. Pas kemarin nemu ada page yang jual tas Jepang, wow!! Eh selain tas juga ada dompet gitu. Harganya 9.500 Yen. Tapi waktu dikursin ke rupiah, Fantastis!! Bombastis!! Dompetnya seharga Rp.994.000. #Nggakjadingiler.


Tasnya cantik banget :( Tapi nggak nahan liat harganya kalo dirupiahin.. *Glek



Ini dia dompet manis yang berhasil narik perhatian. Harganya..euuuw nggak nahan :((

sumber foto : http://www.facebook.com/porcorosso.japan?closeTheater=1

Ini dia : Duniaku yang baru :)

Pakdhe Win, Ibu, Abi, Nida, Mamah, Ayah ( 18 Juni 2011 )

Akhirnya, setelah 3 tahun, saya dan Abi menjalani hubungan jarak jauh Jakarta - Semarang, kami bisa menikah juga. Merencanakan hal rumit ini melalui media telepon, BBM, facebook, blog, juga twitter. Jarak antara lamaran hingga pernikahan memang terbilang agak lama, karena gedung resepsi yang letaknya dekat dengan rumah sudah full-booked sampai 6 bulan kedepan. Bisa dibilang pernikahan jaman sekarang bukan lagi menentukan hari baik, tapi menentukan dan mensinkronkan gedung yang bisa dipakai, katering, dan lain-lain. Yeaah, akhirnya.. Alhamdulillah karena sudah menjadi halal untuk Abi. (^^)

Setelah menikah, apa yang akan saya lakukan? Jujur saja, rasanya saya seperti ada di dunia lain. Gegar budaya, mungkin mirip-mirip seperti itulah istilahnya. Biasanya, saya mah suka cuek mau ngapa-ngapain, eh sekarang ada satu orang yang harus saya istimewakan sebelum saya mengistimewakan diri sendiri. Secuek-cueknya saya, tetap saja, Abi harus prioritas nomor satu.

Masalah pekerjaan. Abi masih harus menyelesaikan pekerjaannya di Jakarta, dan saya juga masih harus ada di Jepara. Saya belum bisa memutuskan untuk resign. Karena, memang nggak bisa dipungkiri, tanggung jawabnya sudah berbeda, saya nggak mau membiarkan Abi sendirian mencari rezeki untuk keluarga baru kami. Memang, Allah sudah menjamin rezeki bagi hambanya, apalagi yang sudah menikah, Allah nggak akan membiarkan kami terlantar. Dan, pernikahan ini membawa saya ke alam yang lebih realistis. Ada beberapa pos pendanaan yang harus saya penuhi untuk membantu Abi. :)

Ada beberapa hal lagi yang baru saya sadari setelah menikah, (tanpa mengesampingkan Allah sebagai sesuatu yang abadi), diantaranya :
  1. Perasaan cinta yang mulai bertunas untuk kemudian tumbuh tanpa akhir.
  2. Ada tempat untuk bersandar dan berbagi 7 days/24 hours.
  3. Ada keluarga baru yang siap menerima kedatanganmu.
  4. ...sisanya nanti sejalan dengan waktu ya :)
Museum Nasional Indonesia, Jakarta ( 28 Juni 2011 )

Hmm, memang menikah itu membahagiakan, tapi jangan terlalu berjaga pada momen yang bahagia saja. Karena, jika suatu saat terjatuh, akan terasa sekali sakitnya. Belajar dari masalah yang kemarin, itu bikin saya kuat. Dan, diatas semuanya, jangan terlalu bersandar sama sesama manusia, karena manusia itu relatif dan yang pasti itu cuma Allah. (^^)

Oiya, hari ini miladnya Abi ke 29 tahun. Semoga Abi sehat selalu, dimudahkan mencari rizki yang halal dan berkah, dijauhkan dari hal-hal yang buruk, dan selalu diberikan kesempatan untuk terus berbuat kebaikan. Love you, Abi :-*

Malam Ini Saya Terluka

Sudah terlalu kebas untuk sekadar menangis. Dulu airmata saya sudah habis untuk itu. Jika boleh, ingin sekali saya menonjok muka wanita itu. Tidakkah dia sadar? Dia berpijak diluka hati wanita lain?

Saya tak menaruh dendam, karena ini serupa cerita fiksi pendek yang saya karang semalam. Hanya saja, saya tak kan pernah habis pikir. Berbahagia dengan pria atau wanita diatas luka hati seorang wanita dan juga anak-anaknya adalah keputusan bodoh dari seorang yang dikatakan dewasa.

Seorang kawan bercerita dengan tersedu tentang keluarganya. Ditengah segala tawa dan senyum yang saya katakan indah itu, ternyata dia dan juga ibundanya tengah memeram duka. Duka yang ikut saya rasakan juga. Kenyataan bahwa ibundanya hanya ibu rumah tangga tanpa penghasilan tambahan yang harus bergantung pada suami yang kini memutuskan membagi cintanya pada keluarga dengan wanita lain yang baru saja dikenalnya melalui email.

Kawan saya tak mampu membohongi suara hatinya, bahwa ada yang tak biasa dengan nada bicara dan bahasa tubuh ayahandanya itu. Kejadian ini bukan pertama kalinya, sehingga kawan saya seakan memiliki alarm yang cukup sensitif untuk merasakan perubahan itu.

Sebagai karib, saya hanya bisa diam. Karena dalam diam pun saya turut merasakan. Dan, tak pernah habis pikir dimanakah letak kesalahannya?.

Semarang, 15 Mei 2011

Si Pemungut Kucing



Little Opa, manja kalau pas jatahnya makan :)

Jam kerja udah lewat. HP tiba-tiba bunyi, eh ternyata mamah yang telepon. Kasih kabar kalau Faisal, adik saya, baru saja nemu anak kucing dikampusnya. Anak kucing itu warnanya hitam dan masih kecil. Bahkan belum cukup kuat untuk jalan, apalagi buat cari makan sendiri.

Terus terang saja, telinga keluarga saya memang rada sensitif kalau ada suara anak kucing. Pasti langsung nengok, nyari kemana arah suara itu berasal.. *hehe*. Nah, pas mau pulang, Faisal denger ada anak kucing nangis. Pas dicari ternyata suara itu anak kucing yang nyelip diantara motor-motor di parkiran. Karena iba, diambillah anak kucing itu dan dibawa pulang kerumah.

Awalnya, mamah sih nolak mentah-mentah. Karena bakalan ketiban sampur tambahan, apalagi binatang peliharaan kami dirumah udah lumayan banyak. Belum lagi masalah bersih-bersih yang menyita waktu beliau :p *Hapunten ya Mah.. Walaupun akhirnya mamah kasih ijin buat ngerawat anak kucing baru, mamah nyuruh Faisal belanja ke Indomaret buat beli bubur bayi, biskuit marie regal, juga sebotol minyak telon buat perlengkapan anak kucing.

1/4 biskuit Marie Regal + 2 Sdm susu Dancow. Menu harian Little Opa..

Little Opa, itu nama yang Faisal kasih buat pendatang baru dirumah kami. Alhamdulillah sekarang badannya agak berisi, makannya 3x sehari dan cukup lahap. Setelah makan, badannya dibalurin minyak telon supaya tetep hangat, dan nggak lupa dideket pet carriernya dikasih lampu supaya badannya nggak kedinginan.

Semarang, Ahad, 10 April 2011

Love Life















Suka geli kalau liat foto yang nggak disengaja ini :) after 3 years, finally... NB : Foto kiri diambil di Gd.Landmark Lt.12 tanggal 06 Agustus 2010. Foto kanan diambil di daerah Monas, Jakarta baru-baru ini. *Lol

Hujan dan Perlengkapannya


14:20 WIB
Ternyata musim sudah nggak baku seperti hafalan jaman SD ya? Dulu, musim panas atau hujan itu baku setiap 6 bulan sekali. Tapi semakin kesini, aturan baku itu mulai kacau atau lebih nggak jelas. Setiap hari itu seperti main tebak-tebakan hitung kancing. Hujan-Panas-Hujan-Panas...dst

14:38 WIB
2 bulan yang lalu, pantai Jepara kurang asyik buat didatangi. Karena frekuensi hujan masih deras dan gelombang laut yang masih tinggi, bikin air laut jadi kusam, nggak cantik buat diajak main, yang ada malahan mual karena ombaknya yang cukup "menggoyang" meski cuma sekedar duduk di dermaga pulau Panjang.

15:00 WIB
Sekarang, sore ini saya menulis ditemani dengan hujan. Posisi yang dekat dengan jendela kamar dan kolam ikan tentu meneduhkan. Meski sesiangan tadi, udara cukup terik, saya paham hujan akan segera turun karena gantungan bambu penanda angin berbunyi kencang. Kilat, meski frekuensinya jarang, tapi terdengar nyaring. Mungkin hujan sudah turun di pelosok kota yang lain.

15:16 WIB
Hujan sudah reda. Guntur masih sesekali bergemuruh nyaring. Shasya, kucing lokal berumur 1 tahun juga ikut tertidur dekat laptop.

15:23 WIB
Waktunya berkemas. Hujan belum selesai. Saya sangat menikmati bunyi gantungan bambu penanda angin.

Beberapa Hal Yang Bikin Saya :

Sudah lama saya nggak nulis, nggak ngetik. Tulisan saya pun nggak berkembang, kosakata saya juga nggak bertambah. Sementara, tulisan saya tampung dulu di BB atau di buku agenda kerja.

Begini, sejak 4 bulan saya bekerja di Jepara, banyak hal yang membuat saya tambah bersyukur, kadang sih sepele. Tapi bukankah bersyukur itu nggak mengenal hal remeh temeh?

Kadang, saya bekerja hingga larut. Pulang kerja sebelum maghrib terasa aneh, karena matahari belum benar-benar terbenam, dan mata saya terbiasa keluar kantor disaat jalanan sudah sepi dan sangat lengang. Jepara, kota ini kota kecil yang bisa dibilang makmur dengan berkembang pesatnya usaha meubel dan beberapa BUMN nasional di bidang tenaga listrik dan uap.

Setiap hari saya bertemu dengan banyak orang, dimana saat PMS saya sudah tidak bisa lagi berwajah masam seenaknya. Selalu tersenyum dan mencoba lebih ramah. Karakter masyarakat disini tentu tidak sama dengan karakter masyarakaat perkotaan. Disitulah kesabaran diuji. Menyenangkan.

Kadang, saya berpikir, bisa terdampar di kota ini adalah suatu kebetulan yang aneh tapi mengasyikkan. Rutinitas yang stagnan kadang bikin saya merasa "STUCK", tapi bukankah banyak orang yang menginginkan posisi saya saat ini? Bersyukur.

Begitu pula dengan berkerudung. Niat menutup aurat kadang bisa saja dikalahkan oleh kesempatan. Banyak orang yang saya kenal, melepas kerudung karena masalah pekerjaan, keluarga, pacar, dan segala alasan duniawi lainnya. Tapi saya tetap bisa bekerja nyaman dengan memakai kerudung tanpa batasan. Bersyukur.

Juga sederet syukur-syukur lainnya...

Nikmat manakah yang kau Dustakan?