Love Life















Suka geli kalau liat foto yang nggak disengaja ini :) after 3 years, finally... NB : Foto kiri diambil di Gd.Landmark Lt.12 tanggal 06 Agustus 2010. Foto kanan diambil di daerah Monas, Jakarta baru-baru ini. *Lol

Hujan dan Perlengkapannya


14:20 WIB
Ternyata musim sudah nggak baku seperti hafalan jaman SD ya? Dulu, musim panas atau hujan itu baku setiap 6 bulan sekali. Tapi semakin kesini, aturan baku itu mulai kacau atau lebih nggak jelas. Setiap hari itu seperti main tebak-tebakan hitung kancing. Hujan-Panas-Hujan-Panas...dst

14:38 WIB
2 bulan yang lalu, pantai Jepara kurang asyik buat didatangi. Karena frekuensi hujan masih deras dan gelombang laut yang masih tinggi, bikin air laut jadi kusam, nggak cantik buat diajak main, yang ada malahan mual karena ombaknya yang cukup "menggoyang" meski cuma sekedar duduk di dermaga pulau Panjang.

15:00 WIB
Sekarang, sore ini saya menulis ditemani dengan hujan. Posisi yang dekat dengan jendela kamar dan kolam ikan tentu meneduhkan. Meski sesiangan tadi, udara cukup terik, saya paham hujan akan segera turun karena gantungan bambu penanda angin berbunyi kencang. Kilat, meski frekuensinya jarang, tapi terdengar nyaring. Mungkin hujan sudah turun di pelosok kota yang lain.

15:16 WIB
Hujan sudah reda. Guntur masih sesekali bergemuruh nyaring. Shasya, kucing lokal berumur 1 tahun juga ikut tertidur dekat laptop.

15:23 WIB
Waktunya berkemas. Hujan belum selesai. Saya sangat menikmati bunyi gantungan bambu penanda angin.

Beberapa Hal Yang Bikin Saya :

Sudah lama saya nggak nulis, nggak ngetik. Tulisan saya pun nggak berkembang, kosakata saya juga nggak bertambah. Sementara, tulisan saya tampung dulu di BB atau di buku agenda kerja.

Begini, sejak 4 bulan saya bekerja di Jepara, banyak hal yang membuat saya tambah bersyukur, kadang sih sepele. Tapi bukankah bersyukur itu nggak mengenal hal remeh temeh?

Kadang, saya bekerja hingga larut. Pulang kerja sebelum maghrib terasa aneh, karena matahari belum benar-benar terbenam, dan mata saya terbiasa keluar kantor disaat jalanan sudah sepi dan sangat lengang. Jepara, kota ini kota kecil yang bisa dibilang makmur dengan berkembang pesatnya usaha meubel dan beberapa BUMN nasional di bidang tenaga listrik dan uap.

Setiap hari saya bertemu dengan banyak orang, dimana saat PMS saya sudah tidak bisa lagi berwajah masam seenaknya. Selalu tersenyum dan mencoba lebih ramah. Karakter masyarakat disini tentu tidak sama dengan karakter masyarakaat perkotaan. Disitulah kesabaran diuji. Menyenangkan.

Kadang, saya berpikir, bisa terdampar di kota ini adalah suatu kebetulan yang aneh tapi mengasyikkan. Rutinitas yang stagnan kadang bikin saya merasa "STUCK", tapi bukankah banyak orang yang menginginkan posisi saya saat ini? Bersyukur.

Begitu pula dengan berkerudung. Niat menutup aurat kadang bisa saja dikalahkan oleh kesempatan. Banyak orang yang saya kenal, melepas kerudung karena masalah pekerjaan, keluarga, pacar, dan segala alasan duniawi lainnya. Tapi saya tetap bisa bekerja nyaman dengan memakai kerudung tanpa batasan. Bersyukur.

Juga sederet syukur-syukur lainnya...

Nikmat manakah yang kau Dustakan?

Syukur Dari Sebungkus Nasi Goreng

Setiap Jumat sore, saya juga beberapa teman kantor pulang ke Semarang. Dari Jepara kira-kira pukul 5 sore, sampai di Semarang 2 jam kemudian. Kadang, kalau pas sedang pulang, saya suka kepengin makan makanan yang nggak ada di Jepara. Karena sering pulang larut malam, di Jepara referensi makanannya cuma warung yang itu-itu saja.

Kira-kira 4 pekan yang lalu, saya sudah merancang menu makan malam dengan Nasi Goreng Seafood super pedaas di Warung Nasi Goreng Tombo Kangen Jl. Ahmad Yani, dan sesampainya di Semarang, saya bergegas untuk membelinya. Tapi, ditengah perjalanan, orangtua saya menelepon, menawarkan diri untuk menjemput karena malam itu Semarang sedang hujan cukup lebat. Karena memang sudah *ngidam*, saya minta orangtua untuk menunggu saya di ujung gang Jl.Ahmad Yani.

Sewaktu saya mau masuk ke dalam tenda warung, ada satu bapak yang sedang berdiri. Kelihatannya beliau juga ikut antri. Berdiri dengan tangan terkepal didada, seperti orang kedinginan dan berpakaian kumal. Antrian cukup panjang, saya pun duduk didekat tempat nasi dan memandangi si bapak yang juga masih berdiri ditempat yang sama.

Si mas penjual pun memberikan sebungkus nasi goreng ke bapak yang berbaju kumal tadi, entah si bapak memang pesan atau bagaimana, tanpa membayar dan setelah menerima sebungkus nasi goreng itu, si bapak langsung bergegas pergi, dengan mulut komat-kamit dan mendekap erat bungkusan nasi goreng hangat itu didadanya.

Masyaallah, amppuun..

Pemandangan itu meninju hati saya. Si bapak terlihat amat sangat bersyukur dengan makanan itu. Berbagai macam imajinasi berkelebatan dipikiran saya, :
  1. Apakah ada orang yang juga menunggu si Bapak untuk santap nasi goreng bersama?
  2. Apakah si bapak memiliki anak, istri yang kelaparan dirumah?
  3. Apakah si bapak memilih untuk tidak makan, tapi memberikan nasi goreng itu untuk seseorang?
  4. ......
Mungkin kita yang kurang bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Setelah mampu menghasilkan uang sendiri, diantara kita mungkin ada yang cenderung untuk meremehkan hal yang sedikit dengan dalih, "Ah, nanti kan bisa beli lagi"

Yang utama, malam itu saya sangat bersyukur bisa melihat satu bentuk kesyukuran dari hal yang sedikit dan sederhana. Sampai sekarang, pemandangan itu masih lekat dipikiran saya.

Semarang, 01 Januari 2011

Penyelamatan Binatang

Satu bulan yang lalu, Ayah memasang saluran TV kabel dirumah. Berhubung sekarang saya tinggal di Jepara. Hanya 1 kali dalam sepekan saya bisa menikmati tayangan seperti Discovery Channel, TLC, Animal Planet, juga National Geographic Channel.

Sekarang saya menjadi karib dengan tayangan Rescue Ink di National Geographic TV Adventure. Rescue Ink, adalah sekelompok pria bertato, bertubuh kekar. Mungkin dimasa lalu mereka pernah melakukan kesalahan, dan mereka berusaha menebusnya dengan cara melindungi binatang-binatang yang dibuang, diabaikan, disakiti oleh pemiliknya. Duuh, nonton ini tiap Ahad pagi di NatGeoTV pasti sambil mewek..huhuuu T.T

Berhubung keranjingan nonton acara hewan di NatGeoTV, saya jadi sering lihat adegan macan yang menerkam rusa, kuda, atau banteng. Disaat yang lain, saya juga lihat program pembebasan simpanse di TLC yang disiksa oleh pemiliknya. Saya jadi berpikir, saya bisa tega lihat kuda, rusa dimangsa singa atau macan. Karena memang itulah hukum alam, hukum rimbanya. Tapi saya nggak akan pernah bisa tega lihat binatang yang disia-siakan, disiksa, dibunuh oleh manusia. Karena itu adalah perbuatan yang disengaja, dan tidak ada hukum yang menghalalkan hal itu.

Hmmmh..semoga dimasa yang akan datang, saya bisa berbuat lebih banyak untuk menyelamatkan binatang-binatang yang terlantar dijalanan. Sesuai cita-cita semula, bikin pet shelter. :-)

ps : selama menulis ini, saya ditemani Ochin juga Sena yang tidur diatas kasur saya.

Semarang, Desember 2010


Pernikahan Part 1

Mulai kerasa betapa rumitnya merencanakan suatu pernikahan. Semuanya pengin ikut turun tangan dan masing-masing kepala punya pendapatnya sendiri. Saya yang muda dan yang mau menikah cuma bisa diem saja. Ikut manggut-manggut kalau yang direncanakan sama tetua itu sesuai, tapi kalau yang dimau sama tetua itu berbeda sama keinginan saya, terus gimana donggg??

Saya sama calon suami harus berhubungan jarak jauh, Jakarta dan Jepara. Meeting point kami ada di Semarang. Keluarga besar calon suami ada di Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Sedangkan keluarga besar saya ada di Tasikmalaya, Jawa Barat. Nah lhoo?? Kapan bisa ketemunya kalau jarak masing-masing itu saling berjauhan? Terpaksalah semua rencana itu ditangani lewat telepon.

Sejauh ini saya belum berekspektasi yang tinggi sekali dengan rencana pernikahan ini. Tapi yang jelas saya senang sekali.. :-) Setelah hampir 3 tahun dan

Finally, I found my way home..

Sebelum Punya Pet Shelter


Sudah hampir 21 tahun hidup saya selalu dikelilingi kucing. Seumur saya memelihara kucing, hanya 1 kali saya mempunyai kucing anggora dan sisanya adalah kucing domestik. Kenapa harus kucing domestik? Tentu saya punya alasan sendiri.

Mungkin sudah sering saya membahas soal kucing di blog ini. Tapi saya selalu ingin menuliskan pengalaman-pengalaman yang saya punya bersama kucing domestik peliharaan saya. Tingkah laku, pola makan, maupun isyarat yang mereka lakukan selalu saja memantik ide untuk dituliskan.


Aming, adalah salah satu diantaranya. Sebenarnya, kucing jantan ini bukanlah kucing peliharaan kami. Dia milik salah seorang tetangga yang selalu datang kerumah disaat jam makan pagi, siang, maupun sore. Sepertinya, dia mengenali bau kucing yang ada dirumah saya. Selain Aming, ada juga kucing-kucing liar lainnya yang suka mampir, untuk ikut makan atau hanya sekedar meminta minum.


Apakah saya terdengar seperti seorang pengkhayal? Mungkin bagi sebagian, jawabannya adalah IYA. Tapi ada juga sebagian yang punya kesenangan yang sama. Dan saya sih yakin-yakin saja dengan jalan yang saya tempuh, bukankah tiap orang punya kesenangan yang berbeda?


Aming, seperti layaknya kucing jantan yang masuk masa birahi, juga pergi meninggalkan rumah demi mencari sang betina. Dia tidak pulang hingga kira-kira 2 tahun lamanya. Kami sekeluarga mengira Aming sudah mati.
Tapi nyatanya, Aming pulang. Dengan bulu yang kotor dan badan yang kaku (dilihat sekilas saja sudah bisa dibedakan, mana yang lama terurus dengan mana yang tidak).

Ternyata, ada luka menganga yang bernanah dan bau dibelakang telinga kanan Aming. Saya pun urung menggendongnya. Menjijikan tapi saya juga tidak berani membubuhkan obat disana. Seperti yang banyak dikatakan orang bahwa kucing punya beberapa "nyawa", ini dibuktikan oleh Aming. Dia punya daya tahan yang kuat, hingga beberapa pekan kemudian setelah lukanya berulang kali sembuh dan kambuh, akhirnya luka menjijikan itu sembuh total. Tanpa obat apapun, alhamdulillah.


Sekarang Aming masih suka datang kerumah dan bergabung dengan 7 kucing lainnya untuk makan 3 kali sehari. Kendati, Aming adalah kucing liar yang kotor tapi dia tidak pernah jorok dirumah kami. Setidaknya, bagi kami, itu sudah cukup sebagai ucapan terima kasihnya.

Semarang, November 2010