Prasangka Buruk

Saat ini saya masih bekerja sebagai customer service di salah satu bank syariah di Semarang, beberapa hari yang lalu saya kedatangan tamu istimewa. Tamu ini sudah kami beri "label" sehingga siapapun diantara kami yang kebagian jatah melayani mereka harus ekstra sabar dan juga ekstra senyuman.

Sialnya, dua rekan saya yang lainnya sedang sibuk semua dan belum ada tanda-tanda selesai dalam waktu dekat. Sedangkan nasabah didepan saya sudah akan bersiap pulang. Duh!

Tamu yang istimewa ini saya sambut dengan senyuman dan hati yang lapang. Sambil mensugesti diri sendiri bahwa ini akan baik-baik saja dan saya bisa mengendalikan mereka. Sampai pertengahan transaksi saya bisa memahami apa yang mereka mau dengan kunci : buka telingamu lebar-lebar. Hehe pahami apa yang mereka mau.

Setelah nasabah ini pulang, saya belajar lagi bahwa tidak perlu berprasangka sebelum mengenal. Bahwa etnis tidak bisa dijadikan alasan untuk membencinya. Mereka hanya perlu dipahami dan saya sedikit membuka ruang dihati.

Kedatangan mereka memang agak sedikit merepotkan sih, karena memecah konsentrasi saya antara mendengarkan percakapan dua bahasa dan mengetik perintah ke layar monitor. Tapi mereka jauh mau lebih memahami alur transaksi yang saya gambarkan dan tidak protes dengan sejumlah biaya yang disodorkan.

Transaksi berjalan mulus dan diakhiri dengan ucapan dari mereka, "semoga kamu sukses ya, Non"

Sederhana. Tapi itu membuat hati ini menghangat.

Semarang, awal Desember 2015

Update Status

Saya pribadi menggunakan jasa sosial media, terutama Facebook, untuk berkomunikasi dengan suami jika beliau kebetulan sedang berada diluar Indonesia. Saya memang nggak mewajibkan beliau memberi kabar kepada saya setiap saat karena saya tahu betul bagaimana pekerjaannya. Beliau biasanya mengupdate kegiatannya melalui tulisan atau foto sehingga saya bisa memantaunya darisana. Meskipun saya akui komunikasi akan tersendat jika menggunakan pola seperti ini. Bagaimanapun juga komunikasi tatap muka akan jauh lebih berkualitas dibandingan melalui layar monitor.

Aturan update status nggak berlaku jika suami berada didalam negeri. Meskipun saya nggak mewajibkan sistem "wajib lapor" tapi saya ingin jadi orang pertama yang tahu kegiatannya, ya minimal kedua lah setelah ibu mertua hehe. Saya bisa marah kalau seharian nggak kasih kabar tapi malah aktif update status di sosial media. Suka kaget begitu lama nggak kasih kabar eh tahu-tahu sudah di bandara, misalnya. Duh, rasanya jadi kurang spesial begitu.

Sebetulnya saya pun bukan tipikal "laporan" tapi ya karena tahu rasanya nggak dikabarin itu nggak enak jadi saya usahakan untuk memberi tahunya terlebih dulu. Misal, "aku otw pulang", "aku maksi sama mas xxx dulu.." atau "udah dibandara, take off bentar lagi, pake AirAsia" begitupun sudah cukup buat saya.

Enaknya jaman sekarang itu komunikasi begitu gampang dijangkau. Nggak bisa plan A ya pakai plan B, atau masih tersisa sampai plan Z. Tinggal disesuaikan saja dengan kenyamanan kita dan pasangan, jarak, efisiensi dan juga biaya.

Semarang, 5 Desember 2015

Seorang Kawan

Hikmah bisa diambil dimana saja. Termasuk dari curhatan orang lain yang akan saya tuliskan ini.

Seorang kawan dengan usia yang lebih muda, yang sudah lama saya kenal, tidak terlalu dekat, hanya sepintas lalu dan tidak terlalu banyak terlibat dalam urusan yang sama. Namun saya tahu bahwa dia sangat membantu saya.

Suatu ketika saya mengalami hal yang membuat saya merasa kecewa bukan kepalang, dia yang membantu menguatkan dan membuat saya tidak merasa sendirian. Saya lupa bagaimana detail percakapannya tapi membuat saya memahami dan berujung dengan satu kata, memaafkan.

Bahwa kekecewaan yang kita terima adalah satu dari sekian takdir yang harus dijalani. Berusaha tidak berekspresi berlebihan dan terus membantu mereka yang menyakiti kita karena boleh jadi dimasa depan kita akan butuh bantuan mereka atau sebaliknya.

Terakhir,

Terima kasih sudah menginspirasiku untuk jadi lebih baik.

Semarang, akhir November 2015

Sabtu Bersama Aliyya

Pagi tadi saya menghadiri acara seminar parenting yang diadakan oleh komite wali murid di sekolahnya Aliyya. Ini kali kedua saya datang menemaninya, hal yang belum bisa saya lakukan dihari biasa.

Selesai makan dan berganti pakaian, Aliyya duduk sambil nonton upin-ipin dan saya beberes barang yang akan dibawa ke sekolah. 2 buah susu ultra milk dan sebotol air putih. Aliyya bertanya, " bunda mau kemana? Salim dulu." Aih, rupanya dia mengira saya akan kekantor. Saya jelaskan bahwa kita akan pergi ke sekolah buat main playdough terus bunda ada acara seminar dilantai 2, girang sekali ekspresinya. "Asyik..Asyik, aku sayang bunda..", begitu katanya. Bahkan dia memakai sepatunya sendiri tanpa saya bantu.

Sesampainya disekolah, saya mengantarnya masuk kedalam kelas. Mencium pipi dan memeluknya. Saya bilang akan kembali menjemputnya dan menunggunya diluar, dibawah pohon seperti yang biasanya dilakukan Abi.

Ini pertama kalinya saya mengikuti seminar parenting. Saya duduk sendiri ditengah ruangan sambil membaca buku yang saya bawa dari rumah. Tidak ada yang saya kenal disana dan mungkin saya yang paling muda. Dengan tema mengenai cara mengenali emosional anak, saya merasa seperti gelas kosong. Ini yang saya hadapi. Jika biasanya informasi didapat dari buku, internet, kali ini lebih tercerahkan karena lebih aplikatif. Saya baru tahu jika peran Ayah sangat penting dalam perkembangan emosional anak. Intinya, saya tidak merasa sendiri dan beruntung bahwa suami adalah sosok Ayah yang baik dan disayangi oleh anak-anak. Suami saya jauh lebih sabar dan komunikatif, tidak heran mereka akan lengket sekali dengan Abinya jika kebetulan Abi tidak sedang ada worktrip.

Seperti baterai yang terisi penuh, energi baru, itulah perasaan saya setelah acara ini selesai. Bergegas saya menjemput Aliyya. Rupanya sampai disana Aliyya nggak pakai kerudung dan kelihatan habis menangis. Dia langsung memeluk kaki saya dan bilang, "aku sayang bunda, bunda kok lama sih?" Wali kelasnya cerita kalau Aliyya habis jatuh, kepalanya terbentur karena didorong oleh anak lelaki teman sekelasnya.

Duh, baru aja ya acara seminarnya selesai. Saya berusaha menahan emosi. Meskipun orangtua anak itu sudah meminta maaf, tapi saya nggak suka kalau anak saya diperlakukan kasar, apalagi sampai kena kepala. Saya diam saja. Sadar bahwa hal seperti ini memang tidak terhindarkan dilingkungan sekolah. Saya memeluk Aliyya dan bilang supaya lain kali lebih hati-hati saja.

Pulang sekolah sengaja saya mengajaknya ke Superindo untuk membeli buah apel dan susu kotak kesukaannya. Dia senang sekali dan sepertinya sudah lupa tadi habis jatuh.

Ah, meskipun cuma sebentar. Mungkin dilain waktu saya harus meluangkan waktu berdua saja dengannya. Ke supermarket atau ke taman bermain. Saya merasa lebih dekat karena tidak bisa dipungkiri hubungan kami sempat merenggang pasca kelahiran Aisha, anak kedua saya. Tidak hanya untuk sekarang, mungkin bisa juga dipraktikkan dimasa depan.

Semarang, 28 November 2015

Suka Duka CS Bank

Part 1 :

Ada mas2 masih muda. Pegawai konter hp mau buka rekening. Saya minta KTP asli. Dikasih. Terus saya mintain dong identitas tambahan, secara si mas ini penampilannya agak gahar. Serem lah..

Saya : maaf mas boleh saya pinjam SIMnya?

Masnya : wah saya nggak punya SIM mbak?

Saya : kalo STNK? Bawa nggak?

Masnya : nggak bawa juga..

Saya : Lah? Mas kelahiran 96 masak sih nggak punya SIM, nggak bawa STNK? Kok aneh? Nggak takut apa kalo ketangkep polisi?

Masnya : Nggak tuh mbak. Saya malah takut kalo ditangkep mbaknya.

Saya : ..... Kemudian hening

( hmm, anak yang aneh )

Part 2 :

Ada seorang ibu ditemani anaknya membuka rekening baru. Mereka berasal dari sebuah kabupaten disekitar Semarang. Ibu ini tidak mahir berbahasa Indonesia sehingga perlu ditemani. Meski begitu, ibu ini rupanya bekerja sebagai TKI di Singapura.

Saya : Gimana bu? Betah kerja di Singapura?

Ibu : wah betah mbak.. Blablabla ( ibu ini bercerita panjang lebar dengan gaya berapi-api, intinya beliau betah disana karena majikannya baik dan lingkungan tinggal yang bersih )

Setelah pembukaan rekening selesai dan greeting terakhir saya sampaikan, saya hendak menjabat tangan keduanya. Si ibu ini berdiri sambil tersenyum sambil setengah berteriak "Merdeka!!"

Hehe, ada-ada saja ya..

( bersambung )

Jus Pare ala Nida

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti salah satu akun fashion blogger di Instagram, Andra Alodita, namanya. Sampai saya baca isi blognya dan menemukan salah satu artikel tentang jus pare. Pikir saya waktu itu cuma.. Hoekks! Pait!

Tapi akhirnya saya iseng juga mencoba membuat jus pare, nanas dan perasan air lemon. Terkadang saya tambahkan pokcoy atau seadanya bahan didalam kulkas. Hasilnya ternyata tidak buruk. Memang pait sih tapi ya mana ada sih pare manis? Hehe..

Senin (16/11) kemarin saya membawa sebotol kecil jus pare yang saya buat sehari sebelumnya. Tadinya saya sengaja buat untuk suami tapi sayangnya dia nolak.. Hihii

Ya sudah, dibawa aja buat sarapan pagi :)

Kedepannya saya mau rajin minum jus sehat macam ini lah. Tinggal buka youtube dan kreasikan sayur dan buahnya.

Have a nice day!

Menjelang Puasa

Alhamdulillah ya, seneng banget besok udah masuk bulan Ramadhan lagi. Suasananya itu lho yang bikin kangen. Meskipun cuaca lagi panas-panasnya di Semarang tapi insyaallah bisa lah puasa selama niatnya kuat supaya nggak batal. Hehe

Oiya, sebelum puasa biasanya beberapa orang (termasuk ayah saya sih.. hihi ) suka ngumpulin suplemen buat badan, susu, minuman atau makanan supaya besok pas puasanya nggak lemes. Tapi saya pikir lagi, insyaallah fisik saya cukup kuat tanpa harus ditopang oleh suplemen itu. Salah satu esensi puasa kan supaya kita berempati sama kaum miskin, gimana menahan rasa lapar dan bahkan mereka belum tau bisa makan atau nggak waktu sahur atau buka puasa. Nah saya kok yang Alhamdulillah kuat malah mikir beli suplemen macam2.

Jika dihari biasa, saya suka meramu air lemon dengan madu atau habbasyi oil, puasa ini kayaknya libur dulu deh, habis stok soalnya.

Ini puasa pertama setelah beberapa kali Ramadhan saya dalam kondisi hamil dan menyusui, kebetulan Aisha udah masuk 7 bulan dan saya juga udah nggak pumping jadi harapannya bisa penuh puasanya.

Semoga ya. Aamiin

*Semarang, 3 Ramadhan 1436 H / 20 Juli 2015

(Repost dari akun saya di Wordpress. Maaf ternyata nggak bisa berpaling kelain hati hihii)

Sabar ya Bunda

Alhamdulillah saya dikasih suami yang sabarnya nggak kira-kira. Berbanding terbalik sama saya yang serba pengin cepet. Udah takdir Allah mungkin ya ketemu suami yang tipe begini. :)

Hari ini agak bikin puasa saya nggak konsen sih soalnya Aisha agak susah makan juga maunya nempel terus. Mungkin agak kurang enak badan terus cuacanya juga panas jadi rewel deh. Rumah yang berantakan juga berakibat ke emosi yang jadi gampang naik. Tapi kan mana ada ya punya balita atau bayi rumah bisa rapi jali. Mustahil bisa serapi gambar acuan saya di Pinterest itu..

Duh, ampun..

Kalo udah gini, saya pengin cepet resign dari kantor buat ngurus rumah,.anak sama suami. Tangan saya gatel kalo liat yang berantakan soalnya heuheu..

Semoga deh ya rencana bisa terwujud awal tahun depan.

*Semarang, 20 Juli 2015

(Repost dari akun saya di Wordpress.)

Gadget Weaning

Weaning atau menyapih itu bukan cuma perkara ASI saja. Di masa sekarang, dimana balita udah terbiasa dengan gadget lumrah sekali ditemui, termasuk Aliyya, anak pertama saya.

Aliyya, 3 tahun, udah terbiasa dengan tablet sejak sebelum 1 tahun. Awalnya yang lagu-lagu anak, tutorial do’a sehari-hari berlanjut jadi Masha and the bear, egg surprises, playdough, sampai barbie dan putri sofia.

Gimana nggak kecanduan kalo setiap hari Abia juga kerjanya didepan laptop? Ini yang susah karena Abia emang kerjanya online dan kalo pas jadwal dirumah ya pasti sambil buka laptop sepanjang hari dan Aliyya pasti jadi gelisah, akhirnya ngebajak kerjaannya Abia.. Nyerah deh. Tablet pun berpindah tangan dan Aliyya anteng lagi.

Susahnya adalah kalo Abia udah mulai worktrip dan Aliyya jadi mulai apatis karena pegang tablet terus. Efeknya adalah apa2 tablet.. terus jadi rusuh deh karena rewel nggak mau pisah sama tabletnya.

Harus tega. Tabletnya saya sita.

Karena saya masih serumah sama orangtua jadi suka agak tarik ulur nih soal jam pegang tablet. Tapi sekarang setelah liat Aliyya jadi agak rusuh dan apatis karena pegang tabletnya kelamaan, mereka jadi setuju. No more tablet when you’re at home.

Awalnya reaksinya kayak waktu disapih menyusui. Banyak tangisan sama drama gitu. Tapi nggak lama kok, dibanyakin aktifitas motorik aja sama banyak diajak bicara biar lupa sama tabletnya. Sukses deh.

Semarang, 5 Juli 2015

One Day One Juz

Maaf. Bukan bermaksud riya' tapi mungkin akan lebih baik jika kebaikan disebarkan, mungkin ada yang ikut terinspirasi.

Juli 2015 ada satu artikel dikaver utama harian JawaPos. One Day One Juz, ODOJ biasa begitu disebut, adalah hal yang tidak pernah saya lirik sebelumnya. Sehari 1 juz? Mana mungkin, saya sibuk dikantor dari pagi bahkan istirahat 60 menit pun sering makan terburu, shalat pun terburu karena antrian nasabah penuh di jam istirahat.

Sombongnya saya. Alloh jadi yang kesekian. Al-Qur'an pun jarang saya jamah.

Tapi saya iseng saja mendaftar. Aplikasinya tersedia di Google Playstore. Selain ODOJ, ada juga Odhalf ( Sehari 1/2 juz ) dan ODOL ( Sehari 1 lembar ). Saya memilih Odhalf. Karena mungkin bisa saya usahakan ditengah aktivitas duniawi barang mengaji 1/2 juz. Saya masuk daftar tunggu bersama teman-teman baru seluruh Indonesia. Wow, pikir saya. Ternyata ramai sekali.

2 pekan kedepan, ada seseorang akhwat yang menghubungi saya via sms dan terbentuklah grup di whatsapp. Peraturan disebutkan dan jadwal diberikan. Mengaji 1/2 juz berarti 5 lembar atau 10 halaman dalam sehari. Awal yang berat. Al-Qur'an saya bawa ke kantor, dibaca saat istirahat atau saat antrian kosong. Dirumah mertua saat mudik atau saat anak-anak sudah tertidur. Murabbiyah saya pernah bilang, "Kadang, kebaikan itu harus dipaksa. Awalnya mungkin berat namun kelamaan pasti akan terbiasa."

Saya masih jauh dari kata baik. Saya hanya seorang yang biasa namun saya ingin berubah. Membaca Al-Qur'an yang dulu sering saya tinggalkan dan dibaca saat sedang mood, menjadi sesuatu yang harus saya rutinkan.

4 bulan sudah saya disini. Masih suka telat laporan, terutama jika akhir pekan. Tertatih-tatih supaya bisa kholas, yang ternyata kuncinya adalah selesaikan diawal waktu dan tidak menunda. Di grup Odhalf dengan teman-teman yang saling mengingatkan. Agak cerewet sih karena kalau menjelang maghrib belum lapor suka disms bertubi-tubi supaya menyelesaikan tugas harian.

Alloh sudah kasih saya begitu banyak nikmat dan kemudahan, masak saya nggak mau sih rutin mengaji?

Ada yang mencibir. Ada juga yang memuji. Ah, biarkan saja. Toh saya nyaman karena Al-Qur'an menemani kemanapun saya pergi sehingga saya tidak perlu merasa khawatir. Dan yang tidak bisa dipungkiri adalah perasaan lega. Sembari berdo'a semoga ini bisa menjadi salah satu ladang amal saya. Bekal pulang nanti.

Semarang. Medio November 2015

Terimakasih

Sewaktu rawat inap di rumah sakit pasca melahirkan akhir Oktober tahun lalu, saya punya waktu 3 hari penuh melihat tayangan televisi. Ada dua yang membekas. Pertama, Just Alvin edisi Dian Sastro dan jingle Luwak White coffee edisi Kimberly Rider yang saya akhirnya tahu melalui YouTube berjudul Feeling Good by Soundroll.

Di acara itu Dian Sastro bercerita tentang hidupnya, salah satunya tentang bersyukur dan berterima kasih saat akan memulai hari. Bersyukurlah maka nikmat itu akan bertambah. Dan, saya pun mencobanya.

Bangun tidur. Membuka mata. Membaca doa bangun tidur. Duduk bersilang kaki. Memejamkan mata.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa tidur dengan nyenyak, dengan kasur, bantal, guling dan selimut yang bersih juga nyaman.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa bangun pagi ini dengan mata terbuka, anggota tubuh yang tidak kurang satu apapun, bergerak normal sebagaimana mestinya, masih bisa mendengar suara ayah mamah abia dan anak-anak.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa makan makanan yang bersih dan sehat, minum air bersih tanpa perlu kesulitan mencarinya, masih bisa menikmati listrik dan udara yang bersih.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa bergerak menjemput rezekimu, masih bisa punya cukup uang untuk membeli kebutuhan kami, masih punya kendaraan pribadi sehingga tidak perlu berdesakan dalam bis atau angkot.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa memeluk dan mencium pipi suami dan anak-anak.

Terimakasih Alloh, kami masih bisa berangkat dan pulang bekerja dengan mudah, bertemu teman-teman, membantu orang, dan akhirnya pulang kerumah yang nyaman.

Akhirnya, tidak akan pernah cukup berterimakasih pada Alloh atas semuanya..

----

Setelah ritual sederhana ini selesai, hati ini terasa lapang dan lebih bersemangat menjalani hari.

Ayo, mencoba dan rasakan sendiri damainya. :)

Mengobati Pusar Bodong

Singkat saja ya. ( saya nulis ini pakai hp sambil gendong anak bungsu soalnya, jadi agak kesulitan. )

Sejak Aisha lahir di akhir Oktober tahun lalu dan tali pusatnya lepas di usia minggu pertama, saya tidak melakukan apa-apa seperti yang disarankan orangtua, menekan pusarnya menggunakan koin yang dibungkus dengan kain kassa.

Awalnya biasa saja, tapi karena intensitas Aisha menangis sambil mengejan sering sekal, pusarnya lama kelamaan jadi menjorok keluar. Dasarnya saya yang malas pakai koin, jadilah saya googling cara mengatasinya.

Dari kata kunci, "cara mengobati pusar bodong" saya menemukan 1 pengalaman orangtua yang sama. Ternyata tidak perlu sampai dibawa ke dokter untuk mengobatinya. Cukup cubit pelan kulit disekitar pusar, kemudian diberi plester rol yang saya ganti setiap habis mandi pagi. Saya melakukan ini selama hampir 1, 5 bulan dan alhamdulillah sekarang pusarnya sudah tidak menjorok keluar lagi.

Mungkin cara ini bisa digunakan untuk kasus yang tidak perlu tindakan dokter, tapi jika perlu tindakan khusus atau ragu, jangan takut untuk datang ke dokter. :)

Seiring Senada

Semenjak aku pertama menerimamu menjadi orang yang paling kukasihi, aku menaruh harap  akan menjadi orang yang paling kau kasihi.

Menjadi orang yang pertama kali kau lihat begitu pagi datang dan terakhir kau lihat menjelang tidur.

Menjadi orang yang pertama mendengar semua ceritamu, ceritaku.

Menjadi satu-satunya rumah bagimu, bagiku.

Semarang, menjelang Senin medio November.

Melihatmu, melihatku akan mengingatkan pada kebaikan, bahwa jalan ini masih panjang. Dan, tentu aku ingin menjadi ladang amal bagimu.

Ketika Harga Naik

Semenjak kenaikan harga BBM akhir tahun 2014 kemarin, hampir semua harga ikut terkerek naik. Tak terkecuali bahan makanan. Mulai dari harga cabai, beras, daging, rempah-rempah, telur ayam, dan masih banyak lagi.

Semalam saya membeli nasi goreng langganan yang lewat didepan rumah. Sekitar tahun 2004, harga seporsinya Rp. 4.000,- kalau ditambah sate ayam atau sate kulit ayam jadi Rp. 6.000, - dan untuk sekarang harganya jadi Rp. 13.000, -  sudah termasuk 2 tusuk sate, lengkap dengan taburan kerupuk dan irisan kol juga mentimun. Cukup murah, ya?

Sambil makan saya berpikir, harga segitu dan saya bisa makan dengan kenyang, abang penjual untungnya berapa ya? Komponen nasi goreng yang saya hitung ada : beras, bumbu, cabai, telur ayam, daging ayam/kulit ayam, kol, mentimun, kerupuk.

Dalam beberapa acara reportase investigasi di televisi pernah menyiarkan tentang betapa "kreatif"-nya oknum yang mencampurkan bahan berbahaya kedalam bahan makanan dengan tujuan lebih awet, menggunakan bangkai supaya menekan modal demi keuntungan yang lebih banyak.

Semoga saja kenaikan harga sekarang ini tidak diikuti dengan naiknya "kreativitas"  penjual makanan dan minuman disekitar kita. Biarlah yang disiarkan di televisi itu menjadi semacam alarm bagi kita sebagai pembeli.

Memeluk Anak dan Pasangan

Saya dibesarkan di keluarga yang tidak terbiasa saling memeluk. Ndak biasa mengekspresikan rasa sayang dengan cara seperti itu, bukan cuma rasa sayang, saat kami, anak-anaknya sedih, marah kami cenderung memendamnya sendiri dan memilih mengekspresikan dengan cara masing-masing. Saya cuma baca di buku atau artikel bahwa berpelukan itu hangat, punya efek menenangkan hati, tapi saya betul nggak tahu seperti apa rasanya..

Maka dari itu, semenjak saya menikah 3 tahun lalu, saya penginnya mulai membiasakan diri untuk memeluk suami setiap pagi sebelum mulai beraktivitas. Pokoknya pagi itu harus bisa meluk walaupun sebentar. Efeknya cukup baik. Saya memulai aktivitas dengan hati yang hangat, perasaan yang lega dan lebih positif. Rasanya ada yang kurang kalau lupa berpelukan. :D

Setelah Aliyya. anak pertama lahir, berumur beberapa bulan dan sudah bisa belajar duduk di pinggir kasur, saya mencoba belajar memeluknya, sampai sekarang usianya 2,7 tahun, saya berusaha untuk memeluknya setidaknya sehari sekali. Saat berpelukan, tidak lupa disisipkan doa juga untuknya.

Memasuki usia 2 tahun, Aliyya agak sering tantrum, apalagi setelah Aisha, adiknya lahir akhir Oktober lalu. Sering sekali Aliyya mencari perhatian orang rumah dengan cara berteriak sehingga Aisha nggak bisa nyenyak tidur, setelah itu Aliyya nangis dengan suara yang mungkin terdengar sampai ujung gang. Membiarkannya sampai tenang lalu memeluk dan mengelus punggungnya.

Pelukan juga menjadi keharusan jika suami hendak pergi ke kota atau negeri seberang. Mengantar kepergiannya. Memeluknya pelan sembari membisikkan do'a. :)

Semarang. Medio November 2015.

Antara Uang Belanja dan Uang Nafkah

Awalnya saya sulit untuk membedakan makna kata membelanjai istri dan menafkahi istri, karena bagi saya kedua kata itu sama maknanya, hanya beda pilihan kata dan keluasan maknanya saja. Bagi saya, membelanjai istri dan menafkahi istri sama-sama bermakna memberikan sejumlah uang kepada istri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga secara periodik, sedangkan yang sedikit membedakan bahwa menafkahi itu tidak harus uang, tetapi bisa bersifat non materi.

Artinya, jika kita telah memberikan uang belanja kepada istri kita berarti kita telah memberikan nafkah lahir (materi), itu pemahaman awal saya, dan mungkin juga pemahaman hampir kebanyakan suami.

Tetapi saya mulai bisa membedakan antara uang belanja dan uang nafkah saat saya melihat anggaran belanja rumah tangga seorang teman. Dari sekian item anggaran yang diberikan kepada saya, ada satu item yang menarik perhatian saya. Menarik, karena hanya item itu yang satu-satunya berbeda dengan item-item dalam anggaran rumah tangga saya dan anggaran rumah tangga pada umumnya, yaitu item "Nafkah Istri"

Apa bedanya? Pikir saya saat itu, ternyata menurut teman saya bahwa nafkah istri berarti suami memberikan sebagian hartanya kepada istri untuk dikelola dan digunakan untuk kepentingan pribadi istrinya. Sedangkan uang belanja istri adalah memberikan harta (uang) untuk kebutuhan hidup suami, istri, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya.

Saya mencoba memahami apa yang disampaikan teman saya itu. Akhirnya saya temukan kunci jawaban untuk membedakan antara uang belanja dan uang nafkah, yaitu kemuliaan wanita. Antara uang belanja dan uang nafkah muncul dua kewajiban berbeda yang harus dilaksanakan oleh seorang suami. Uang belanja adalah kewajiban suami sebagai kepala keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya dengan layak, sedangkan uang nafkah adalah kewajiban suami sebagai seorang lelaki yang qowwam untuk menjaga kemuliaan seorang wanita yang menjadi istrinya.

Dalam uang nafkah itu terkandung kemuliaan wanita dari seorang istri. Uang nafkah menjadikan istri bukan seorang "pengemis" dihadapan suaminya jika istrinya ingin memenuhi hajat pribadinya. Uang nafkah adalah hak yang harus diterima seorang istri, dan istri memiliki hak penuh untuk mengelola dan menggunakan untuk kepentingan pribadinya, sehingga istri bisa memenuhi kebutuhan pribadinya dengan tetap terjaga kemuliaan dan kehormatannya tanpa harus "mengemis" dihadapan suami atau harus bekerja keras diluar rumah.

Jadi, menurut saya, jika suami hanya memberikan uang belanja bulanan saja maka kewajibannya sebagai suami belum lengkap bahkan cenderung tidak menghargai istrinya, karena memberi uang belanja tanpa uang nafkah seakan menjadikan istri sebagai (maaf) pembantu rumah tangga saja. Oleh karena itu meskipun istri kita bekerja, uang belanja dan uang nafkah tetap harus kita berikan kepada istri kita meskipun sedikit jumlahnya, karena keduanya merupakan hak istri dan kewajiban bagi seorang suami.

Karena dengan uang nafkah itu ada kemuliaan seorang wanita yang menjadi istri kita dan ada ke-qowwam-an kita sebagai seorang suami dan laki-laki.

By : ustad Noven ( copas dari akun FB ibu Hayati Djalaluddin Ramly )

Ahad Sore


















Untuk Ikhsan dan kakak laki-lakinya,


Terima kasih sudah mengajarkan saya untuk lebih sayang pada anak kecil. Bahwa, membagi senyuman dan sapaan ramah adalah hal yang mudah. Tidak ada yang salah dengan memulai lebih dulu.

Terima kasih sudah memberitahukan saya, bahwa menyayangi siapapun itu adalah perlu. Menjaga adalah sebuah keharusan dan tanggung jawab adalah hal yang harus dipegang erat.

Terima kasih sudah memberikan isyarat pada saya untuk membagi apa yang miliki, dan lebih bijaksana melihat sekeliling, bahwa saya tidak sendiri.

Terima kasih sudah mau saya ajak berfoto dan bermain dengan Aliyya :)

He's Lost

Apa yang terjadi jika seekor kucing tua, pikun, buta, sudah berhari-hari kehilangan nafsu makan, sering menyendiri di toilet, salah masuk kerumah tetangga, terlebih sudah menemani hari-hari semenjak masa remaja, kemudian hilang dari rumah disaat musim hujan seperti ini?

Khawatir. 

Sedih.

Ochin, sudah berusia 8 tahun. Kucing kampung ini dipelihara karena induknya beranak dirumah. Anak bungsu dari 3 bersaudara, dan hanya dia yang cacat, bukan hanya buta, namun kelaminnya tidak berkembang sempurna. Ochin, bahkan belum pernah terlihat kawin  seperti kucing jantan pada umumnya, yang akan pergi dari rumah untuk berburu kucing betina dan mengeluarkan suara-suara bising mereka. Ochin hanya pernah tertarik dengan Chichi, kucing betina peranakan berbulu lebat. Tapi sayang, cinta Ochin diacuhkan Chichi.

Beberapa hari sebelum Ochin hilang, dia sering berbaring di toilet atau duduk di pinggir kolam ikan depan rumah. Pernah juga masuk kerumah tetangga yang kebetulan punya kolam ikan yang hampir sama. Mungkin dia kira itu rumahnya. Dia mulai pikun, mirip dengan manusia bukan?

Ini bukan hilang yang pertama kali. Dulu pernah keluarga saya mencari hampir setiap hari ke sudut-sudut perumahan, melongok ke dalam selokan, hingga akhirnya mamah menemukan Ochin disudut tanah lapang sedang menggigil ketakutan.



Dia buta. Akan bingung harus jalan kemana kalau ada suara bising yang membuatnya lupa jalan pulang. Ochin hapal jumlah anak tangga, sudut rumah, dan letak perabot. Makanya kami akan kelimpungan kalau Ochin ada dijalan raya yang banyak kendaraan lalu-lalang.

Tapi, di musim hujan ini, Ochin kembali menghilang. Dan kami tidak berhasil membawanya pulang.

Jika kami mengambil kucing-kucing yang sekarat dijalan untuk disembuhkan atau dimakamkan dengan layak, kenapa kucing kami sendiri yang sudah 8 tahun bersama menghilang tidak tahu kemana? Apakah masih hidup atau sudah mati? Kalaupun mati, apakah ada yang bersedia memakamkan bangkainya? Semakin banyak tanda tanya, semakin banyak kekhawatiran..

Going Hajj



Pekan kemarin waktu lagi bantu sepasang suami istri buka tabungan Haji, saya terlibat percakapan dengan mereka berdua soal Haji itu sendiri, begini kira-kira yang saya ingat :

Suami/Istri   : Wah, antrian hajinya udah panjang banget ya, mbak? Hampir 12 taun,
                       mungkin karena ada dana talangan juga jadi orang bisa cepet-cepetan daftar.
                       Lha mbak nggak daftar? Atau pegawai emang udah pasti dapet jatah haji ya?

Saya             : Saya kayaknya pengin umroh aja deh, pak, bu? Antrian hajinya panjang sekali.
                      Kalo saya mending uangnya buat bayar DP rumah aja dulu? Kalaupun
                      saya dapet tawaran haji, saya pengin orangtua saya yang berangkat 
                      duluan kesana..

Hmm, diatas segalanya, saya berdoa supaya usia mamah ayah dipanjangkan dan dikasih kesehatan sampai saatnya berangkat ke rumahNya. Supaya kuat beribadah maksimal disana. Waktu tunggunya memang panjang tapi sekali lagi, kita berikhtiar, Allah yang Maha Mencukupkan. 

:') Saya kepingin sekali liat mamah ayah berdiri didepan Ka'bah, lengkap dengan kain dan mukenanya.

Konfirm #1.

Sekali-kalinya, saya tidak menganggap menikah dengannya adalah belenggu. Belenggu yang menahan langkah saya untuk menikmati kebebasan tanpa beban. Menikah dengannya, bagi saya, adalah suatu takdir yang bermuara pada keberuntungan dan diakhiri dengan ucapan penuh syukur.

Tak jadi masalah bila saya tidak sempat membaui aroma pantai, terombang-ambing selama 6 jam diatas kapal laut, atau menikmati kota yang saya impikan. Mungkin, saya tidak ditakdirkan berada disana barang sebentar seorang diri.

Seperti yang dituliskan oleh seorang penulis kesukaan saya, yang saya kutip pada kaver depan undangan pernikahan, " Bahagia itu pilihan. Dan dengan kesadaran penuh, aku memilih untuk bahagia bersamamu dalam nama-Nya."