Maafkan Saya :

........Mengampuni menjadikan kita mampu berhadapan dengan masa silam dan melepaskan kita dari beban yang tidak bisa dibatalkan. Berjanji mengizinkan kita menghadapi masa depan dan menata dengan lebih baik langkah-langkah yang tidak bisa diprediksi.

*ini kutipan dari mas Triyono Lukmantoro, salah satu dosen saya di komunikasi FISIP UNDIP.

Vegetarian Dalam Islam

Sumber : www.rumaysho.com

Mengurangi lemak dengan tidak memakan daging hewan mungkin memang dibutuhkan untuk beberapa orang yang terkena penyakit kolesterol tinggi. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang benar-benar mengaku sebagai vegetarian sehingga mereka menghilangkan menu daging hewan secara total dari pola makan mereka? Mereka berdalih karena rasa kasihan terhadap para hewan, tidak tega dengan perlakuan para penyembelih hewan dan yang semacamnya. Yang lebih parah lagi, pada akhirnya mereka menolak berbagai bahan makanan yang berasal dari hewan, baik itu susu, telur, keju dan yang semacamnya. Sebabnya? Karena untuk pemerahan susu dikatakan hewan diperlakukan semena-mena, telur itu adalah cikal bakal anak hewan yang patut untuk hidup, atau kalimat-kalimat semacamnya. Dengan usaha keras mereka mempertahankan status vegetarian dengan menonton film yang memang dibuat untuk memperkuat ‘keimanan’ mereka akan apa yang mereka lakukan. Mudah-mudahan ukhti muslimah tidak ada yang ingin ikut-ikutan dengan apa yang mereka lakukan. Mengapa? Coba simak penjelasannya secara syari’at.

Dalam sebuah kaedah fikih, semua yang merupakan masalah adat, seperti makan, minum, pakaian, maka semuanya adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya. Berbeda dengan masalah ibadah yang pada dasarnya semua ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. Oleh karena itulah kita tidak bisa sembarangan dalam melakukan ibadah, karena kita harus mengetahui bahwa hal tersebut benar diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kembali ke masalah makanan, seperti dikatakan tadi, pada dasarnya, memakan suatu makanan seluruhnya adalah halal sampai ada dalil syar’i yang menjelaskan bahwa makanan itu haram. Misalnya, kita diharamkan untuk memakan tikus, kodok, binatang yang bertaring atau binatang yang bercakar yang cakarnya itu digunakan untuk memangsa.

Lalu, bagaimana dengan ayam, sapi, kambing dan yang lainnya yang tidak ada dalil yang menjelaskan bahwa itu adalah haram. Tentu saja jawabannya itu adalah boleh untuk dimakan. Dan tidaklah mereka diciptakan itu melainkan sebagai nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk hamba-Nya yang membutuhkan energi dalam melakukan aktifitas untuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5]: 88)

Jika hewan yang disembelih saja boleh untuk dimakan, maka terlebih lagi susu atau telur yang dihasilkan oleh hewan tersebut. Bahkan susu juga termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An Nahl [16]: 66)

Sebab Lain Terlarangnya Menjadi Seorang Vegetarian

Walau telah jelas dalil-dalil tentang tidak haramnya binatang ternak, ada baiknya kita juga mengetahui alasan lain mengapa menjadi seorang vegetarian juga termasuk hal besar yang terlarang dalam agama.

1. Dapat dihukumi keluar dari Islam (kafir)

Hal ini dikarenakan seorang vegetarian telah mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, seorang vegetarian telah membuat hukum baru yang bertentangan dengan syari’at. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَذَا فَإِنْ شَهِدُوا فَلا تَشْهَدْ مَعَهُمْ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَالَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ وَهُمْ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Katakanlah: “Bawalah ke mari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini.” Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa hafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Rabb mereka. (QS. Al-An’am 6:150)

Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan tafsir ayat ini, bahwa ada dua kemungkinan ketika seseorang diminta untuk mendatangkan dalil/alasan ketika mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan.

Kemungkinan pertama adalah mereka tidak dapat mendatangkan dalil. Hal ini menunjukkan batilnya apa yang mereka serukan.

Kemungkinan kedua bahwa mereka mendatangkan alasan yang merupakan kedustaan. Tentu saja persaksian mereka ini tidak diterima. Dan ini bukanlah termasuk perkara dimana sah seorang yang adil untuk bersaksi dengannya. Oleh karena itulah Allah memerintahkan kita untuk tidak mengikuti persaksian mereka. (Taisirul Karimirrohman)

2. Membuat perkara baru (bid’ah) dalam agama

Hal ini terutama jika pengkhususan memakan makanan hanya dari yang berupa sayuran tersebut disandarkan kepada agama. Atau dengan kata lain menjadikannya sebagai sebuah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Menyerupai Orang Kafir

Tahukah ukhti muslimah, bahwa banyak sekali hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan kita untuk menyelisihi orang kafir? Sampai-sampai ada seorang Yahudi yang mengatakan,

“Apa yang diinginkan laki-laki ini? Tidak ada satupun urusan kita kecuali ia pasti menyelisihi kita di dalamnya.” (HR. Muslim)

Ukhti muslimah juga tentu telah mengetahui, bahwa para biksu Budha adalah orang yang sangat teguh untuk tidak memakan daging. Mereka hanya mau makan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Maka yang benar, seharusnya sebagai muslimah kita tidak ikut-ikutan menjadi seorang vegetarian, bahkan berusaha menyelisihi para biksu (orang-orang kafir) tersebut.

4. Mengingkari nikmat Allah

Daging, susu, telur atau hasil makanan lain yang didapatkan merupakan kenikmatan yang Allah berikan pada hamba-Nya.

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5]: 88)

5. Mengingkari hukum yang Allah tetapkan

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitahukan cara untuk dapat memakan daging dari binatang ternak dengan cara menyembelihnya. Dan tidaklah apa yang Allah perintahkan melainkan sebuah kebaikan. Maka adalah suatu kesalahan ketika seorang vegetarian tidak memakan daging karena rasa kasihan melihat binatang ternak ketika disembelih menggelepar-gelepar, mengejang dan meregangkan otot, bahkan menyatakan itu tidak berperikemanusiaan (atau tidak berperikebinatangan?). Sekali lagi perlu kita ingatkan, bahwa tidaklah apa yang Allah perintahkan dan tentukan merupakan kebaikan walaupun mungkin kita belum mengetahui hikmahnya.

Alhamdulillah, tentang menyembelih hewan terdapat terdapat hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Schultz & Dr. Hazim yang keduanya adalah Animal Scientists dari Hanover University – Jerman, yang menunjukkan bahwa hewan yang disembelih tidak merasakan rasa sakit. Hal ini dikarenakan pisau tajam yang mengiris leher ‘tidaklah menyentuh’ saraf rasa sakit. Sehingga reaksi menggelepar, meregang otot dan lainnya hanyalah ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (saat darah mengalir keluar dengan deras). Dan bukan ekspresi rasa sakit! (Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P).

Berbeda dengan apa yang orang-orang kafir lakukan dimana mereka mematikan hewan dengan cara dipukul terlebih dahulu dengan alat pemingsan (Captive Bolt Pistols) baru kemudian disembelih. Alasan mereka adalah agar hewan tersebut tidak kesakitan ketika disembelih dan daging tetap bagus karena hewan jatuh dengan pelan. Apalah artinya logika manusia dibandingkan dengan Allah yang Maha Mengetahui. Ternyata dari hasil penelitian tersebut, hewan yang dimatikan dengan cara tersebut segera merasakan rasa sakit setelah dipingsankan bahkan hasil dagingnya tidak sehat untuk konsumen.

Demikianlah syari’at menjelaskan tentang makanan yang berasal dari binatang ternak. Janganlah tertipu dengan akal kita yang menilai sesuatu hanya berdasarkan penglihatan lahir dan perasaan semata. Sudah kehilangan kenikmatan dunia berupa makanan lezat, merugi pula di akhirat karena berbuat dosa. Na’udzu billah min dzalik.

*Hmm.. jadi veggy juga harus ada dasar hukumnya apa. Karena Allah sungguh telah mengatur semuanya dengan Maha Sempurna.

Warak Ngendok Khas Semarangan

Ini juga termasuk budaya khas Semarangan. Warak Ngendok namanya. Saya baru pertama kali ikutan nonton kirabnya menjelang Ramadhan tahun 2009 ini, itupun karena penasaran. (^_^)*

Warak Ngendok merupakan mainan berwujud makhluk berkaki empat menyerupai singa atau macan dengan ukuran badan lebih kecil. Tubuhnya dihiasi kertas warna-warni, dikakinya diberi roda supaya mudah ditarik, dan dibawahnya juga ditaruh bola-bola yang menyerupai telur.

Warak ngendok juga selalu dikaitkan dengan perayaan dugderan, yaitu suatu festival keramaian di Semarang yang diadakan untuk memeriahkan awal bulan Ramadhan, sekaligus sebagai upaya dakwah karena selalu diadakan didekat masjid, namun karena bertambah padatnya lalu-lintas, maka sekarang lokasi dugderan tidak selalu didekat masjid lagi.

Tahun ini kirab warak ngendok dimulai dari balai kota di Jl.Pemuda dan berakhir di masjid agung Jawa Tengah (MAJT). Kesan saya terhadap kirab ini tidak ada yang istimewa kecuali usaha pelestarian budaya khas Semarangan saja. Karena kita, selaku penonton hanya disuguhi lambaian tangan para pejabat kemudian menyusul mobil-mobil yang mengangkut warak ngendok dengan berbagai macam hiasan. Sayang sekali yah? Hiburan budaya macam ini cuma kayak gitu, udah gitu jarang pula diadain. Fiuuuhh..

Padahal Semarang itu kota yang lumayan tenang buat ngehabisin waktu. Kalau nggak mau keramaian, kemacetan lalu-lintas, bingung liat mall yang bertebaran. Semarang-lah kotanya. Sepi dari hiburan dan aktivitas. hehe.. tapi itu bukan masalah koq? Buat yang udah pernah hidup di Semarang terus pergi merantau pasti pengen pulang lagi :-)


Kata Siapa Budaya Kita Milik Bersama?


Berulang kali media menayangkan berita mengenai pengklaiman budaya asli Indonesia oleh Malaysia. Sebut saja lagu rasa sayange, angklung Sunda, batik, tari pendhet, bunga rafflesia, keris, dan sebagainya. Sebagian budaya yang diklaim itu malah digunakan oleh Malaysia sebagai iklan pariwisata untuk ditayangkan ke seluruh dunia melalui saluran Discovery Channel. Siapa yang tidak marah budaya yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu tiba-tiba diklaim negara tetangga sebagai miliknya?

Singkat saja. Ini bukan murni kesalahan Malaysia. Kita mengaku salah. Kesalahan besar juga dibuat oleh pihak Indonesia. Karena menurut salah satu sumber berita di TVOne, Indonesia cenderung lamban dalam mengurusi budaya-budayanya. Hanya dua warisan budaya kita yang baru tercatat di UNESCO, yaitu keris dan wayang. Pemerintah telah menghimbau tiap provinsi melalui gubernur supaya melaporkan kebudayaannya masing-masing untuk diinventaris dan diurus hak patennya. Namun hingga saat ini baru tiga provinsi saja yang melaporkan, yaitu Bali, D.I. Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Barat.

Coba kalau kita lebih TEGAS mengurus budaya kita? Apakah akan seperti ini hasilnya?

* Tulisan ini hanya opini singkat setelah menyaksikan acara Bang One di TVOne (6/9) petang.

Heee.. saya boong tau!

Mana mungkin saya bisa berhenti nulis. Bisa gilaa kali..!!
Tiap hari saya harus nulis apa aja, mau itu tulisan serius, beralinea-alinea tugas dari Mbak Nurul, atau mau tulisan yang santai kayak gini. Ngga tau hal ihwalnya kecanduan nulis yang pasti awalnya dari jaman SD. Waktu itu sih belum ngerti apa-apa, belum jamannya komputer wong PC aja masih segede-gede gaban..
:scream:Hahaha...

Kalo saya bilang mau rehat nulis dulu sementara waktu itu mah cuma emosi sesaat aja. Habisnya gimana ngga emosi sesaat kalo jatah waktu yang awalnya buat ngerjain Tugas Akhir ternyata kesita buat nulis apa aja (baca : puisi). Korupsi banget deh pokoknya. >.< Tapi saya sekarang udah ngga bisa lagi nulis lama-lama pake pena. Udah kaku tangannya, tugas si Pena diambil alih oleh keyboard Lappy tercinta :-) lebih asyik tanpa harus ngehapus pake setipan atau tipex. Praktis juga bisa dimana aja.

Parahnya kalo ide-ide udah mulai bertebaran, saya kesulitan kalo pake lappy soalnya harus barengan sama adik cowok saya yang jam pemakaian lappynya udah tinggi soalnya dia anak jurusan jaringan komputer, jadinya sebagai kakak yang baik saya harus ngalah T.T Nah, kalo udah gitu ngga ada Lappy maka tissu atau kertas nota pun jadi, saya selalu sedia pena minimal satu ditas kemanapun saya pergi. Atau kalo udah paling kepepet ya pake HP :-) yang penting kosa kata yang udah lahir tadi ngga hilang gitu aja, maklum kan munculnya dadakan.

:puppyeyes:(Hiks..kenapa ide lahirnya dimana aja yah?)

Julukan penulis puisi yang sering disandangkan beberapa teman pun rasanya belumpantas saya sandang, saya ini masih kacangan, karbitan kemarin lusa. Ikut lomba berkali-kali belum juga lolos, belum pernah ikut antologi, belum pernah dimuat di media massa (cetak atau elektronik, kecuali blog saya..hehe). Tapi semua itu saya syukuri karena saya belum patah semangat buat terus berkarya, mau itu bagus atau setengah bagus , saya menghargainya sebagai sebuah karya pemikiran. Dikumpulkan jadi satu supaya dikemudian hari nanti bisa berguna. Amin

Jurnalis Sospol Undip


" Kamu pasti bisa, kembangkan tulisanmu mulai dari hal yang kamu kuasai, misalkan CSR (Corporate Social Responsibility)"

Mimpi itu dimulai dari bawah. Bersama kawan satu tim dengan bimbingan Mbak Nurul, kita sama-sama ngembangin website FISIP UNDIP supaya lebih berisi. Website ini awalnya hanya dikelola beberapa dosen, seiring bertambahnya pekerjaan, maka website inipun mulai sedikit terabaikan dan beritanya pun kurang update. Sedangkan prinsip jurnalisme online selalu memungkinkan setiap saat untuk selalu siap update dimana saja asalkan ada koneksi internet. Maka dibawah Surat Keputusan dari Dekan FISIP UNDIP, dibentuklah tim website yang terdiri dari Nida Fauzia (DIII Ilmu Komunikasi), Gendis Ayu (S1 Ilmu Pemerintahan), dan Dewanto Samodro (S1 Ilmu Komunikasi).

Berita
Setiap hari harus selalu ada yang baru. Apapun yang menyangkut embel-embel FISIP UNDIP bisa diberitakan. Redaksi juga menerima artikel ataupun release dari kegiatan kemahasiswaan. Namun hal tersebut masih satu arah, artinya mahasiswa FISIP belum "ngeh" dengan keberadaan kami sebagai media, sehingga kami-lah yang harus proaktif mencari berita kesana kemari. Sedikit berat namun ini keberuntungan pengalaman yang tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama, hingga harus digunakan sebaik mungkin sebagai bekal jika dikemudian hari nanti berkesempatan menjadi jurnalis yang sebenarnya. Glekkk..??!

Menyenangkan
Bisa menulis setiap hari dan belajar hal yang baru setiap kali harus meliput. Karena saya masih junior, maka saya harus menyiapkan bahan-bahan yang akan saya tulis menjadi berita. Membacanya terlebih dahulu agar tidak mati gaya,,hehe :p dan ternyata banyak hal yang menarik, teori-teori komunikasi yang belum pernah saya pelajari sebelumnya. Semuanya menarik, namun nampaknya saya harus menambah kada keberanian saya untuk menginterview dosen-dosen saya deh.. ^_^

Hmmm... kalo kata Mbak Nurul saya bisa, pasti saya bisa. Semanggaaattt... ^o^/

Long Distance Love, Not Relationship


REVIEW BUKU :

Long Distance Love. Imazahra, dkk. Penerbit : PT. Lingkar Pena Kreativa, Jakarta. Cetakan pertama Maret 2009.

Untuk apa menikah juga harus berpisah, bukan hanya antar kota, antar provinsi, tapi juga antar benua. Tidak sehari, seminggu, atau sebulan, tapi bertahun-tahun. Bahkan ada yang mencapai 22 tahun hidup terpisah.

Kisah-kisah serupa yang diwartakan Imazahra, dkk dengan apik. Semua cerita jadi favorit saya karena tiap cerita punya kekuatan tersendiri, yang seakan memaksa saya juga agar dapat bersikap sama seperti mereka, yang beda hanya saya belum menikah. Bagaimana mereka harus hidup dalam himpitan jarak yang merentang begitu jauh, namun harus tetap berkomunikasi lewat cara apapun demi menetas rindu (yang katanya hingga ke ubun-ubun..entahlah?saya belum pernah merasakannya :p). Hubungan yang tak murah karena membengkaknya biaya telepon dan internet, atau kadang "dibelain" terbang juga ke negara atau kota tempat suami berada. Hmm..apakah seperti itu?

Sekilas, buku ini mungkin agak cengeng. Judulnya saja LOVE. Termehek-mehek sekalii.. tapi cobalah membacanya. Bukan hanya bagi yang sedang mengalami kisah serupa, tapi juga yang ingin belajar bagaimana mempertahankan idealisme, cita-cita, keluarga, cinta, pendidikan, harga diri, agama, prinsip, dan banyak lagi macamnya dalam waktu yang hampir bersamaan. Beberapa penulis mengisahkan pengalamannya antara menikah dan menerima beasiswa ke Belanda, Inggris, Jerman, Jepang. Toh mereka tidak bermasalah dengan itu semua. Mungkin membutuhkan waktu yang agak lama, tapi dengan izin Allah semuanya dapat teratasi, tentunya dengan dasar pengertian, kepercayaan, kesetiaan, hormat yang tinggi.

ps : dari buku ini saya belajar untuk menerima, memberi, menghormati DIA yang ada di ibu kota. Untuk kedatangannya tiap dua bulan :-) Maaf kalo saya rada bawel.. :p