A Dog's Life


Judul Buku : A Dog's Life
Penulis : Ann M. Martin
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2006
Tebal : 214 Halaman


Squirrel adalah anjing gelandangan kesepian yang malang. Hidup berpindah-pindah, merindukan kasih sayang manusia. Kadang dia melongok kedalam rumah-rumah yang hangat, namun tak pernah diundang masuk. Kadang dia harus tinggal di garasi, gudang, atau di bawah kereta sorong, lalu meneruskan perjalanannya.

Sesekali ada pula manusia yang berbaik hati memberinya makanan, namun ada juga yang memperlakukannya dengan kejam. Setelah berkali-kali dikecewakan manusia, Squirrel memutuskan untuk hidup sendiri saja. Tapi kemudian dia bertemu dengan Susan. Dan ternyata di hati Squirrel masih ada tempat untuk seorang manusia.

Novel bergenre anak-anak ini melintasi hati para pecinta binatang. Kisah yang mengangkat tema hewan peliharaan selalu saja menggugah hati, membuat haru, dan berujung dengan tissu yang basah terkena air mata. 

Lelaki Yang Berjalan Diatas Laut



Judul Buku : Lelaki yang Berjalan Diatas Laut
Penulis : Dino Umahuk
Penerbit : Lapena, Institute for Culture and Society, Aceh
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 138 Halaman


Laut : menawarkan keteduhan diantara riak-riak ombak. Kadangkala, terik dan semilir angin berbaur tanpa perlu merasa rikuh kepada siapa yang sedang duduk sembari berkesah dalam senyap.

Laut berkarib dengan pasir juga karang. Selalu menyertainya, kapal yang berlayar, lengkap dengan sauh, jala, atau pukat yang mengapung ditengahnya.

Laut : penuh dengan ilham, bagi siapa saja yang berkenan membuka hati untuk membacanya.

Seperti itulah kira-kira ”pengembaraan” Dino Umahuk dalam melukiskan cinta, perjalanan hidup, kerinduan akan tanah kelahiran, dan kematian. Dino yang berdarah Maluku mampu bercerita tentang Aceh, tanah perantauannya. Talenta Aceh nampak gamblang pada pencitraan alam bahari yang kaya akan imaji, kerinduan akan Sang Khalik, keterasingan dalam negeri sendiri karena konflik yang sengaja diciptakan, tentang hilangnya kasih sayang, serta musibah gelombang besar tsunami*.

Puisi memang tidak mudah dipahami. Membacanya bukan dengan jalan yang lempeng, tapi perlu sedikit pemahaman hati akan tiap kalimat yang dituliskan. Sebab, setiap kalimat yang tercantum, dimaknai sebagai ungkapan hati si penulis.

Inilah persembahan kedua Dino Umahuk, setelah antologi puisi sebelumnya, ”Dino Umahuk, Metafora Dari Laut” yang diluncurkan pada 27 Februari 2008 silam.

Tips Buat Bayi Kucing Tanpa Induk

Ini ada beberapa tips kecil buat Anda yang kebetulan punya bayi kucing tanpa induk (baca : nemu dijalan, induknya ngga mau netekin atau ditinggal mati induknya)

1. Usahain bayi kucing ditaruh di kotak atau wadah yang hangat yang sudah diberi alas handuk atau kain bekas.

2. Untuk menu makan, bisa dikasih susu dancow yang hangat atau bubur bayi yang dijual di pasaran. Sedikit tapi sesering mungkin. Atau bisa juga diberi roti telur Swiss yang dilumatkan dengan susu hangat.

3. Jika bayi kucing diberi makan yang cukup, tapi belum bisa buang air kecil sehingga perutnya buncit. Cukup ambil kapas yang diberi air hangat, tepuk-tepukkan ke anus bayi kucing. Ini karena pada kondisi normal, bayi kucing harus dibantu oleh induknya jika hendak pup (baca : dijilati). Jika bayi kucing belum juga buang air besar, bisa diberi sedikit pepaya matang yang dilumatkan.

4. Untuk tahap supaya bayi kucing bisa pup ditempat tertentu, Anda harus sabar melatihnya. Jika bayi kucing atau kucing dewasa Anda pup sembarangan. Segera bersihkan sebelum 2 x 24 jam sebelum spora virusnya menyebar dan menyebabkan toksoplasma. Bersihkan dengan air, kemudian beri pewangi atau cairan bayclin. Ini supaya kucing tidak kembali pup lagi disitu.

5. Melatih bayi kucing supaya pup di kamar mandi memang perlu sedikit ketelatenan. Kurung kucing Anda di kamar mandi sampai mau pup. Kemudian dekatkan hidung kucing Anda ke tempat kotorannya. Lakukan berulang kali.

ps : berdasarkan pengalaman pribadi mengurus (alm) Bunbun, kucing yang saya ambil dari got setelah dilempar sama tetangga.

Semoga Bermanfaat.

Saat Cinta Diwujudkan Dalam Sebuah Buku


Jendela Cinta (GIP,2005)

Yang Terhormat Aceh,
Setelah udara mesiu memburu paru-paru
Sehabis peluru menelikung rongga dada
Kini cuaca ikut bicara
Sempurnalah segala ujian
Yang menjelma malapetaka
Acehku dimana rencongmu?
Acehku jangan menangis
(Firman Venayaksa. Penulis, Penyair, & Pemusik)

Dalam sebuah kesempatan, saya singgah ke pameran buku di Gedung Wanita, Selasa (2/3) kemarin. Walaupun sudah menahan diri,tangan saya berasa gatal kalau datang ke pameran buku tapi tidak membawa pulang hasilnya.  Di salah satu stan Gema Insani Press, saya menemukan buku keluaran Forum Lingkar Pena (FLP). Sudah seperti jaminan umum, bahwa buku-buku keluaran FLP selalu membawa spirit positif bagi pembacanya. Makanya saya tidak ragu membeli Jendela Cinta (GIP, 2005) dan Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2005)

Jendela Cinta. Buku keroyokan 15 penulis ini didedikasikan bagi korban tsunami Aceh 2004 silam. Seluruh honor yang diterima oleh penulis disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan bantuan. Kendati untuk Aceh, buku ini tidak melulu menyajikan cerita yang kelabu. Sebagian besar cerita pendek dalam buku ini pernah dimuat di beberapa majalah atau buku lain. Seperti “DIA” karya Asma Nadia, saya pernah membaca sebelumnya, tetapi entah dimana, pun, “TUMIS DAN SAYUR ASEM” karya Sakti Wibowo.

Jalinan ceritanya memang sederhana, seperti cerita sebelumnya yang ditawarkan oleh penulis keluaran FLP lainnya. Tapi ada yang jauh lebih besar dibanding mementingkan kompleksitas alur cerita. Tulisan mereka seperti mempunyai ruh. Bukan ruh yang hampa. Semacam ajakan yang kuat untuk senantiasa terus menata diri menjadi lebih baik. Mengandung kekuatan moral yang tinggi dan didasarkan pada kejadian sehari-hari.

Semoga Hari Ini (Tidak) Hujan



Saya menikmati datangnya musim hujan. Apakah kamu juga? (^_^)

Diawali dengan do'a, "Allahumma Sayyiban Naafi'an" agar air yang turun membawa berkah bagi bumi seisinya. Walau hari ini Semarang galak banget, saya tetep keukeuh nyari lagu dengan kata *RAIN*. Saya dapet beberapa, diantaranya :
  1. James Morrison - Please Don't Stop The Rain
  2. Kim Tae Woo - Love Rain
  3. Enya - A Day Without Rain
  4. Phill Collins - Wish It Would Rain
  5. The Corrs - Rainy Day
  6. X-Japan - Endless Rain
  7. Mariah Carey - Trough The Rain
Jadi, sekarang waktunya dengerin satu-satu lagu diatas (^_^). Playlist terisi penuh oleh hujan..

Enjoy This.

ps : sedang bedmud akut. sindrom merasa kalah walopun belum maju perang.

the concept of family in my eyes

There is no special answer the simple question above. Family is the blood of people with us. Father, mother, sister, brother, and so on. For the scope of the absurd, the family is the people we love and love us. Having an intact family is a blessing that is often missing from our sense of gratitude. Perhaps I am including the one inside.

Saturday (20 / 2), I was watching Ceriwis Pagi Manis on Trans TV. Are not deliberately, I moved the channel. It was at 9.55, meaning the show would've done. There is another Panda rated birthday surprised by Pampam, Ruben, also Bekti. She was taken to the pound toddler who did not have a family. Panda celebrated with a box of birthday cake candles in the home also was. Panda was crying because she remembering her family. He was grateful still have a family, because he had seen those kids dont have that opportunity.

i felt .. Deggggggggg!

ALLAH! I still have mom, father, faisal. Intact. Was complete. Although sometimes, I had negative thinking and less grateful. I know maybe my parents loves me, girls only in a different way. I am grateful, ALLAH SWT reminds me by hands of others. I realized that so many people outside there wasn't lucky as me.

And so that day I feel like this heart felt relieved.

Semarang, End of February 2010.

Desa Mati di Morosari, Demak

Ada desa yang harus tenggelam dan seluruh penduduknya harus dipindahkan ke daerah lain karena terkena abrasi. Dengan waktu tempuh sekitar 1jam dari Semarang. Tepatnya di daerah Morosari, Tambaksari, kabupaten Demak, Jawa Tengah. Desa itu sudah ditinggalkan hampir seluruh penghuninya, dan hanya beberapa kepala keluarga (KK) yang masih bertahan.

Daerah Tambaksari kini dijadikan kawasan konservasi burung yang didominasi oleh Avicennia digarda depan. Dari kejauhan sudah terdengar keramaian kicauan burung berwarna dominan putih. berkepala kuning seperti kepodang, dan bertungkai jenjang mirip bangau.

Sayangnya, akses jalan menuju daerah Tambaksari cukup sulit. Dari lokasi parkir, kita harus berjalan kaki sekitar 1km melewati pematang ditengah lautan, walaupun sebenarnya menuju ”pulau” Tambaksari bisa ditempuh dengan roda dua, namun agaknya cukup ngeri karena jalannya sempit dan berbatu.

Memasuki ”pulau” Tambaksari seperti memasuki ”The Lost World”, dimana manusia menjadi marginal ditengah dominasi vegetasi Avicennia dan ekosistem burung berkepala kuning, berbulu putih. Nafas agak sedikit sesak karena aroma air laut yang menyengat bercampur dengan kotoran burung dimana-mana. Hanya ada jalan setapak disana, yang dikanan-kirinya rimbun oleh Avicennia. Dari sela-sela pepohonan, bisa terlihat sarang-sarang burung yang hilir mudik terbang dan bekas rumah-rumah tua yang setengah terendam air laut. Hanya tersisa rumah berpenghuni yang ditinggikan hingga menyerupai rumah panggung untuk menghindari air pasang.

Masih tersisa satu mushala disini. Memasuki mushala tua yang ditinggikan ini harus dengan merundukkan kepala. Disisi mushala kita bisa duduk santai dan melihat aktivitas burung dengan jelas. Oya, satu hal yang dilarang adalah menembak atau melukai burung-burung yang ada disana. Karena dari awalpun, Tambaksari adalah area konservasi burung yang digagas oleh salah satu LSM asal Jepang. Daerah ini sengaja direhabilitasi, selain untuk pencegahan keganasan abrasi juga sebagai area transit burung yang sedang bermigrasi.

Ujung daerah Tambaksari adalah area pemakaman ditengah lautan. Beberapa makam yang terselamatkan dari abrasi ini sengaja ditinggikan. Akses bagi peziarah hanya jembatan bambu dan jembatan kayu yang ditopang cor beton. Saat kami kesana, ada beberapa anak SMA yang sudah duduk dibawah Avicennia menghadap ke lautan lepas.

Sebenarnya daerah ini punya pemandangan yang indah, tapi saya nggak tega buat berkunjung lagi kesana. Saat hendak pulang, saya dan rombongan KeSEMaT shalat dhuhur dulu di mushala yang hampir rusak. Jamaahnya selain kami, ada beberapa pemuda dan lansia nelayan. Di bagian jamaah wanita, ada seorang nenek yang hendak shalat. Saya menyalaminya, dan beliau bertanya dalam bahasa Jawa halus yang kira-kira begini : Darimana,nduk?.
Saya menjawab sebisanya : Saya dari Semarang,Bu. Kesini sama teman-teman.

Yang membuat saya terbayang-bayang adalah sorot mata si Nenek yang kelihatannya senang melihat orang datang ke tempat tinggalnya. Mungkin karena dulunya, si Nenek juga sempat merasakan hidup bertetangga, tetapi karena abrasi, semuanya pun pindah. Sekarang, daerah Tambaksari lebih mirip pulau mati, menurut saya.