Kesadaran Berwawasan Lingkungan

Banjir dan rob menerjang kawasan Semarang dan sekitarnya, terutama kawasan pesisir, tentu bukan hal yang asing bagi kita. Sudah sedari jaman penjajahan Belanda usaha pengendalian terhadap banjir dan rob dilakukan. Mulai dari meninggikan badan jalan hingga pengerukan sungai. Namun berbilang tahun dan berganti pula tampuk kepemimpinan belum menjadikan adanya perubahan yang berarti terhadap kondisi mengenaskan tersebut.

Dituliskan oleh Moh.Anhar (dalam Suara Merdeka, 28 Desember 2009) bahwa, ”Banjir dan rob sepanjang tahun 2009 masih menjadi tema yang ”ngangkat” untuk dibicarakan dalam mengupas perkembangan Kota Semarang.” Memang Kota Semarang identik dengan kata banjir dan rob karena memang letaknya yang lebih rendah dari laut, sehingga derita akibat banjir dan rob menjadi makanan sehari-hari warga yang bermukim didaerah tersebut.

Penanggulangan sudah pernah dilakukan oleh Pemkot maupun lembaga yang peduli dengan kondisi ini. Untuk program pengendalian banjir, Pemkot sudah merealisasikan paket pembangunan Waduk Jatibarang, normalisasi Kaligarang-Banjirkanal Barat, normalisasi Kali Semarang-Kali Asin-Kali Baru yang menelan toal dana Rp 1,7 triliun. (dalam Suara Merdeka, 28 Januari 2010)

Pertanyaannya adalah sudah efektifkah dana sebesar itu menanggulangi bencana banjir juga rob di Kota Semarang? Mungkin tanpa perlu pemberitaan bombastis pun kita sudah dapat melihat keadaan dilapangan. Banjir bandang yang menerjang Kampung Tapak, Kelurahan tugurejo, Kecamatan Tugu, Rabu (27/1) lalu menjadi salah satu buktinya.

Akibatnya warga harus menanggung kerugian sekitar Rp 15 juta-Rp 20 juta lantaran budidaya tambaknya hanyut diterjang banjir. Belum lagi kerugian akibat rumah yang tak luput terendam air.Ditengarai banjir dadakan tersebut terjadi karena perubahan alur sungai akibat pendirian sebuah perusahaan. Dan hal tersebut menjadi satu dari sekian penyebab banjir dan rob.

Menggeliatnya iklim industri dan perekonomian mau tak mau memaksa berubahnya tatanan kota maupun desa. Modernisasi merangsek hingga ke pelosok. Menjamurnya pabrik di wilayah suburban menjadi hal jamak. Namun seringkali modernisasi tak dibarengi dengan pembangunan berwawasan lingkungan.

Proses pembangunan berwawasan lingkungan ini, harus pula mempertimbangkan kemungkinan kerusakan yang terjadi. Selanjutnya, mesti ditimbang dan dinilai pula, akan manfaat dan untung ruginya sebelum kemudian diputuskan dengan penuh tanggung jawab, kepada generasi mendatang. (http://www.kesemat.blogspot.com/)

Yang tidak kalah krusial adalah kesadaran masing-masing individu akan pentingnya lingkungan. Seringkali budaya yang mengakar pada kita kebanyakan adalah sungai itu tempat sampah raksasa. Tidak hanya sungai, got maupun gorong-gorong di Kota Semarang bisa dilihat penuh dengan sampah. Bila hujan turun, beberapa ruas jalan akan tergenang air. Sungguh tidak sedap dipandang!.

Serupa dengan banjir, rob yang menjadi bagian kehidupan masyarakat Semarang pesisir adalah akibat dari keserakahan tangan manusia sendiri. Pada tahun 90-an misalnya, di daerah Tugu, banyak terjadi pereklamasian lahan mangrove sebagai area pertambakan. Setelah tambak tidak produktif, lahannya kemudian ditinggalkan. Dan hasilnya bisa kita lihat satu dekade kemudian. Abrasi terjadi di kawasan pesisir utara Semarang. Rob pun menerjang dan mulai terasa dampak akibat peningkatan suhu.

Kondisi tersebut diperparah dengan pembangunan pabrik, restoran yang ingin menampilkan eksotisme pantai, namun harus mengorbankan alam ditambah dengan rendahnya kesadaran peduli lingkungan dari masyarakat itu sendiri. Lahan mangrove produktif ditebangi. Mangrove dapat bermanfaat sebagai sumber penghasil kayu bangunan, bahan baku pulp dan kertas, kayu bakar, bahan arang, alat tangkap ikan dan sumber bahan lain, seperti tanin dan pewarna.

Melihat kondisi seperti ini, beberapa institusi mencoba menggalakkan kesadaran akan pentingnya ekosistem mangrove. Penanaman ribuan bibit mangrove pun telah dilakukan berkali-kali.

Namun yang seringkali terjadi adalah bibit itu mati karena tidak adanya sinkronisasi pemahaman antar institusi dan ketidakpahaman masyarakat sekitar pesisir akan daya guna ekosistem mangrove. Membuang urugan sungai ke atas bibit-bibit mangrove, reklamasi pesisir sebagai lahan usaha, penebangan magrove telah menjadikan usaha rehabilitasi lingkungan menjadi sia-sia belaka.

Rob dan abrasi tidak hanya berdampak pada lingkungan hidup, namun juga pada sisi kesehatan masyarakat, hilangnya mata pencaharian warga sekitar, kerugian materiil, terganggunya sistem pendidikan, bertambahnya anggaran Pemkot untuk upaya penaggulangan bencana, dan sebagainya.

Maka alangkah arifnya bila Pemkot tidak hanya sekedar menggelontorkan uang namun lepas tangan pada langkah dasarnya. Perlu adanya regulasi dan tatanan yang jelas tentang pembangunan berwawasan lingkungan serta mendayagunakan masyarakat di daerah rawan banjir maupun rob.

Proses terpenting dalam pemberdayaan masyarakat adalah membangun pondasi sosial. Meningkatnya kemampuan masyarakat sebagai pelaku pengelolaan lingkungan dan peningkatan partisipasi masyarakat adalah salah satu hal yang sekiranya perlu dilirik oleh Pemkot Semarang untuk membangun Kota Semarang yang lebih baik lagi.

9 dari Nadira


Judul Buku : 9 dari Nadira
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta
Cetakan : I, Oktober 2009
Tebal : xi + 270 Halaman

Petualangan Jiwa Dalam Nadira
Pucuk dicinta ulam tiba. Kerinduan akan sesuatu yang segar terobati. Satu lagi karya sastra yang berbeda aliran muncul ditengah membanjirnya buku-buku yang sekilas nampak seragam, baik alur cerita, penokohan, desain sampul, sudut pandang, dan sebagainya. Di penghujung tahun 2009, Leila S.Chudori membawakan 9 Dari Nadira dengan sangat apik ke tengah para penggemar sastra yang merindukan bacaan sastra berbeda. Kenapa saya sebut berbeda, karena pembaca sastra tengah bosan dibuai keseragaman tema seperti yang saya ungkapkan diatas. Leila mengemas sembilan cerita dengan bahasa yang sederhana tanpa perlu sibuk bermetafora.

Dengan sudut pandang yang cergas mampu membawa pembaca menjelajahi New York, Pedder Bay, Tanjung Pandang, dan kota-kota bahkan negara yang menjadi latar belakang cerita. Mampu menghadirkan cerita kehadapan pembaca dengan jelas, seakan kita berada ditengah konflik yang dilukiskan Leila dalam bukunya. Latar belakang leila sebagai jurnalis tentu banyak membantu pematangan konsep cerita menjadi suatu karya yang berkualitas dan diperhitungkan. Keahliannya bertutur mampu memperlancar alur penceritaan dari awal hingga akhir yang pada akhirnya melibatkan pembaca secara psikologis maupun emosional.

** Nadira adalah tokoh utama dalam kesembilan cerita yang ada dalam buku ini. Nadira merupakan putri ketiga dari pasangan Bramantyo Suwandi, jurnalis senior dan mantan bartender sewaktu kuliah di Belanda, dengan Kemala Yunus, putri dari pengusaha kaya raya yang sekuler. Kedua kakaknya, Nina dan Arya merupakan tokoh yang turut berperan meski bukan sentral. Turut hadir pula tokoh Gilang Sukma, koreografer tari flamboyan yang sudah tiga kali menikah namun selalu diakhiri dengan perpisahan, yang menggoda Nadira, namun menikahi Nina, sang kakak. Pernikahannya dengan Niko Yuliar, mantan aktivis 70’an yang juga harus diakhiri. Relasinya dengan Utara Bayu, atasannya di majalah Tera yang diam-diam menyimpan hasrat pada Nadira dan menyerah dalam diam serta Marc Gillard, sahabat semasa kuliah di Kanada.

Semula saya mengira ini novel biasa yang hadir tanpa gambar atau ilustrasi, hanya murni merangkum kata. Keistimewaan saya temukan saat menjelajah bab demi bab, hadirnya ilustrasi semakin menegaskan cerita selanjutnya. Memasuki cerita pertama, ”Mencari Seikat Seruni”, tersaji gambar wanita tertelungkup, mungkin pembaca sedikit kebingungan dengan maksud gambar tersebut. Namun kebingungan itu lunas saat bab pertama dituntaskan. ”Mencari Seikat Seruni” menceritakan tentang ”Sebuah pagi yang murung, Nadira Suwandi menemukan Ibunya tewas bunuh diri di lantai rumahnya. Kematian sang ibu, Kemala Yunus-yang dikenal sangat ekspresif, berpikiran bebas, dan selalu bertarung mencari diri-sungguh mengejutkan.” Pembaca serasa disuguhi pagi yang murung juga kelabu. Dimana kematian tragis seorang ibu yang menjadi panutan ketiga anaknya begitu mengguncang dan masing-masing mencoba tegar. Kenapa diberi judul ”Mencari Seikat Seruni”? Karena Nadira mengingat kata-kata terakhir sang Ibu, ”Terakhir, yang paling penting-yang selalu disebut-sebut Ibu-aku pasti mengais-ngais bunga-bunga kesukaan Ibu yang sulit dicari di Indonesia: bunga seruni putih. Kenapa seruni? Dan kenapa harus putih?.” (Hal.3). Hal itu akan terjawab saat Nadira membaca buku harian sang Ibu saat menikah dengan sang Ayah.

Lazimnya romansa percintaan, Utara Bayu yang tak mampu menyatakan perasaan harus gigit jari saat Nadira menikah dengan Niko Yuliar, kemudian memilih menikah dengan wanita yang tidak dicintai. (Hal.231) Dan kisah teka-teki diakhiri pada ”At Pedder Bay”, setelah berpisah dari Niko Yuliar, Nadira menyadari perasaannya pada Utara Bayu. Pembacalah yang dapat memutuskan dalam imajinasi masing-masing akhir kisah Nadira.

Meski kesembilan cerita ini dibuat secara terpisah dengan rentang jeda yang cukup lama, pembaca tentu dapat melihat adanya keterkaitan antara masing-masing cerita. Seperti yang tertulis pada sampul belakang, ”Tewasnya Kemala kemudian mempengaruhi kehidupan Nadira sebagai seorang anaka (”Melukis langit”); seorang wartawan (”Tasbih”); seorang kekasih (”Ciuman Terpanjang”); seorang istri, hingga akhirnya membawa Nadira kepada sebuah penjelajahan ke dunia yang baru, dunia seksualitas yang tak pernah disentuhnya (”Kirana”).

Kisah dalam 9 dari Nadira mampu membangun sebuah kehidupan imajinatif bagi pembacanya, meski Leila, dalam pengantarnya, menyebutkan bahwa ini merupakan sembilan cerita pendek dan tertulis pada halaman akhir bahwa masing-masing cerita itu ditulis secara terpisah, tidak runtut, dan dalam jeda yang cukup panjang. Namun tidak lantas cerita yang sudah dirangkum alurnya ini kehilangan ruhnya.

ps : kado milad ke 22 dari seorang kawan berbagi buku. Makasih ya, Bang.. :-)

Cinta, Citacita, dan Takdir



Judul Buku : Perahu Kertas
Penulis : Dee
Penerbit : Bentang Pustaka, Jogjakarta
Cetakan : I, Agustus 2009
Tebal : xii + 444 Halaman

Karya Dewi Lestari atau karib dipanggil Dee lekat dengan bahasa yang rumit dengan alur cerita yang kompleks. Seperti Supernova, Filosofi Kopi, atau buku hybridnya, Rectoverso. Dee banyak menyisipkan kisah percintaan hampir di seluruh karyanya, cinta yang sederhana tapi tidak norak.

Perahu Kertas, adalah karya Dee yang paling anyar. Setelah didahului dengan versi digital, kini Dee mengemasnya menjadi buku konvensional. Tebal. Dengan kaver yang unik, menjadikan buku ini semakin menarik untuk ditelusuri. Pembaca tidak akan disuguhi dengan kerumitan. Dee menggunakan bahasa yang nge-pop dalam Perahu Kertas. Meski begitu, Dee mampu mengemas nilai-nilai filosofis tentang cinta, cita-cita, takdir, juga kehidupan dengan maksimal melalui tokoh-tokoh seperti Keenan dan Kugy, dua tokoh utama dalam novel ini.

Kugy Alisa Nugroho, namanya. Cukup dipanggil Kugy. Seorang remaja yang baru lulus SMA. Bertubuh mungil. Pengkhayal yang baik dan cukup berantakan. Melanjutkan pendidikannya di fakultas Sastra disalah satu universitas di Bandung. Dari benaknya, mengalir untaian dongeng yang indah. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis dongeng, namun setelah beranjak dewasa, menyadari bahwa menjadi penulis dongeng tidak bisa dijadikan sandaran. "Menjadi sesuatu yang bukan diri sendiri, hingga akhirnya menjadi diri yang asli, meski harus berputar-putar"

Keenan. Remaja Indo yang cerdas, artistik, dan penuh kejutan. Dari tangannya, lahir lukisan-lukisan magis. Terpaksa kuliah di jurusan manajemen, menyalahi takdirnya terhadap seni, karena ia harus mengikuti kehendak orangtuanya. Keberanian Keenan terlihat saat ia berontak terhadap peta yang telah ditetapkan orangtuanya : berhenti kuliah, dan menetap di Ubud, berprofesi sebagai pelukis dengan berguru kepada Pak Wayan, mantan kekasih Ibunya.

Sarat Adiktif
Pembaca akan menemukan renungan-renungan mendalam yang disuguhkan Dee dengan apik melalui tokoh-tokoh yang masih belia. Meski belia, tidak mengurangi kualitas pemahaman refleksivitas diri kita sebagai pembaca. Justru akan membawa kita untuk terus menuntaskan hingga lembar paling akhir novel ini.

Dua Kota Dua Cerita di Semarang

Aha, tempat ini rupanya berada disisi jalan sebelah barat parade plein Gereja Blenduk yang sering saya lewati. Semarang Contemporary Art Gallery, menarik perhatian saya dan beberapa teman untuk singgah sejenak dan menatap beberapa karya lukis maupun seni kontemporer yang dipamerkan hingga 10 Februari 2010 ini.

Sekilas Historis (dikutip dari pahatan sejarah SCAG pada lobi utama gedung ini)

Gedung tua yang berevolusi menjadi sebuah galery ini pertama kali dibangun pada tahun 1895 oleh Tuan Addler, seorang Belanda. Gaya bangunan sdikit terpengaruh gaya Spanish Colonial. Bangunan ini tidak mempunyai halaman dan posisinya tepat di tepi jalan raya Let. Jend. Soeprapto, yang merupakan jalan Anyer-Panarukan yang dibangun oleh Daendels pada tahun 1811. Da bangunan ini terletak disebelah barat parade plein Gereja Blenduk.

Perusahaan ”Winkel Maatschappij” H. Spiegel yang menempati bangunan ini adalah sebuah perusahaan yang berdagang berbagai macam barang keperluan rumah tangga dan keperluan kantor dengan model terbaru pada masanya. Beberapa barang yang disajikan antara lain tekstil dari kapas atau linen, mesin tik, furniture, keperluan olahraga, dan sebagainya. Tuan H. Spiegel adalah manajer perusahaan ini dan 5 tahun kemudian menjadi pemiliknya. Pada tahun 1905 perusahaan ini menjadi perseroan terbatas (PT). Pengusaha inlander terkemuka di Semarang, Tasripin, dicatat mengambil alih bangunan ini yang kemudian pernah disewakan dan dipakai sebagai gudang, dealer motor, dan perusahaan besar farmasi ”Tempo”. Pabrik limun ”Fresh” diketahui membeli bangunan ini dan digunakan sampai tahun 1990-an. Pada tahun 2008, Chris Darmawan melakukan konservasi dan digunakan sebagai Semarang Contemporary Art Gallery.

Ajang Perhelatan Seniman
Semenjak diambil alih dan dikonservasi pada tahun 2008, gedung ini menjadi lebih hidup dan lebih tertata. Dengan desain klasik minimalis, bangunan ini kini ditabalkan menjadi ajang kreativitas para seniman muda. Sejak (30/1) hingga (10/2) pekan ini, sedang dihelat pameran karya seniman Bandung, Jogjakarta, pun Jakarta dengan tajuk ”Dua Kota Dua Cerita”. Menampilkan beberapa karya kontemporer dari Tromarama (kelompok seniman asal Bandung yang memilih video sebagai medium utama dalam berkarya) berupa video ”Bandung Art Now” dan media lilin dengan tajuk ”Never Ending Resolutions”.

Kemudian juga ”Leichschlaf 01” karya Erik Pauhrizi. Seniman asal Bandung yang mengolah pertanyaan-pertanyaan yang muncul mengenai diri dalam kaitannya dengan identitas mereka, baik dalam ranah seni maupun yang berkait dengan praktik hidup sehari-hari. Erik melihat diri dalam konteks issu multikultur mengkaji bagaimana individu-individu merepresentasikan diri dalam pertanyaan eksistensialis. Tertarik pada imaji hitam putih, yang menurut Erik merujuk pada masa lalu, menautkan memori, dan menggali intimitas. (Berdasarkan indeks karya Erik Pauhrizi yang terpampang di lantai 1 gedung ini.)

Ngopi Yuk...

Anda penyuka KOPI?

Mari saya tunjukkan satu tempat bersantai sembari menikmati secangkir kopi hangat ditemani sepiring kudapan. Jika Anda berdomisili di Semarang, atau khususnya Semarang atas, pasti pernah melintas di Jl.Ngesrep, bukan? Jalan ini membujur ke arah timur setelah patung kuda dan gerbang utama kampus Universitas Diponegoro (UNDIP) Tembalang. Sekitar 1 km sebelah kanan atau sebelah persis bubur ayam pak Brewok, ada satu tempat minum kopi, I-Cos, namanya.

Tempat minum kopi sudah menjamur beberapa waktu belakangan ini. Salah satunya, I-Cos. Dengan desain ruangan yang tidak terlalu besar tapi nyaman, membuat siapapun yang datang akan merasa betah. Tidak ada gangguan asap rokok dan pencahayaan remang-remang. Untuk ketiga kalinya saya kesana, dan seperti biasa saya memesan kopi klasik Robusta, biasanya saya selalu memesan Kalosi Toraja. Dan mas Rofiq memesan secangkir cappuccino dengan kudapan spicy chicken. Untuk dinikmati sesekali harganya masih dibilang terjangkau. Secangkir Robusta dihargai Rp 7.500, secangkir Cappuccino Rp 8.000, dan sepiring kudapan spicy chicken Rp 19.125,-.

Beberapa meter dari I-Cos ke arah timur, ada Buket. Pelopor tempat ngopi di kawasan kampus Undip Tembalang. Tempatnya ada dilantai 2 sebuah bangunan. Terus terang saya belum pernah ngopi disini, karena saya tidak betah dengan kepulan asap rokok pengunjungnya. Hanya saya sering menerima undangan untuk singgah ke acara diskusi di Buket.

Ras Versus Domestik

Kucing. Makhluk karnivora ini sudah jadi klangenan manusia sejak berabad silam. Terdapat bermacam jenis kucing yang bisa kita pilih sebagai hewan peliharaan dirumah. Sifatnya yang manja dan senang bermain dengan manusia menjadi salah satu alasan mengapa orang suka pada hewan berbulu ini.

Lazimnya orang memilih kucing jenis persia atau anggora sebagai peliharaan. Kucing jenis ini biasanya silsilahnya terjaga karena diharuskan memiliki sertifikat keturunan. Bulunya yang lebat dan bentuk muka yang bulat juga berhidung agak melesak kedalam membuat kucing ini berharga diatas rata-rata. Untuk anakan saja bisa dihargai ratusan ribu. Perawatannya pun tidak bisa main-main karena harus cermat dan teliti. Makanan juga minumannya harus bersih dan berkualitas agar kesehatan si kucing terjaga. Harus rutin dimandikan juga berkunjung ke dokter hewan untuk memantau keadaan si Pus.

Namun, ada juga sebagian orang yang lebih memilih memelihara kucing domestik atau kucing kampung. Kadang, nasib kucing kampung tidak seberuntung kucing ras yang mendapat keistimewaan lebih karena silsilahnya yang tidak jelas juga hidup dijalanan yang notabene kotor. Kucing kampung biasa ditemukan di pasar, di rumah sakit, di penampungan sampah, di dekat tempat makan, atau dimana saja. Kucing kampung sering mendapatkan perlakuan kasar dari orang yang tidak punyai nurani.

Kenapa Harus Kucing Domestik?
Sedari saya balita, orangtua saya sudah memelihara kucing. Bahkan, konon beberapa generasi terdahulu keluarga saya sudah menjadikan kucing sebagai sahabat keluarga. Kucing kampung menjadi pilihan kami karena dalam beberapa hal mereka dinilai lebih unggul ketimbang kucing ras. Mereka mempunyai daya tahan yang lebih untuk hidup dijalan, tidak memerlukan makanan khusus yang bernilai mahal, juga tidak memerlukan perawatan yang rumit. Namun yang perlu diingat adalah tidak boleh memberi makan kucing ikan asin, karena ikan asin bisa membuat bulu kucing rontok.

Bila dipelihara dengan cermat pun, kucing kampung bisa nampak sehat melebihi kucing ras. Pertambahan berat badan pada kucing kampung akan lebih terlihat jelas ketimbang pada kucing ras karena bulu kucing kampung tidak selebat bulu kucing ras.

Kadang, saya miris melihat beberapa kucing ras peliharaan tetangga yang nampak besar badannya tapi setelah saya gendong ternyata ringan, bahkan tulang punggungnya menonjol. Dan bila dimandikan akan nampak bangun tubuhnya yang asli. Malah lebih besar dan sehat kucing kampung peliharaan saya..hihi

Makanya saya memutuskan bersimpati pada hewan-hewan dijalan. Yang tidak bertuan dan harus mengais sampah untuk bertahan hidup. Pernah ada kawan yang bertanya, ”Mengapa kamu memilih bersimpati pada hewan dan bukan manusia?”, saya menjawab bahwa tiap orang memiliki rasa simpati yang tidak bisa dipaksakan. Bersimpati dengan hewan, bukan berarti kehilangan rasa kemanusiaan bukan?

Kisah
Sudah banyak kisah saya dengan kucing kampung tidak bertuan. Beberapa kali saya dan mamah mengadopsi anak kucing di pasar atau anak kucing yang dibuang orang di got depan rumah. Kadang harus perang batin atau adu mulut dengan Ayah karena tidak tega mendengar suara anak kucing yang mengiau. Untuk anak kucing yang masih merah, saya menyuapinya dengan susu dancow hangat dicampur dengan bubur bayi. Dan menidurkannya didalam kardus yang dialasi handuk bekas. Jika anak kucingnya sudah mulai sehat dan lincah, saya harus rela kasur saya dinodai kotoran kucing..hehe

Setiap kali ke pasar, mamah, saya, atau Faisal menyempatkan diri tengok kanan kiri atau bawah mencari siapa tahu ada anak kucing yang kelaparan. Membeli sekeranjang ikan pindang kemudian memberikannya pada mereka. Rasanya lega bisa berbagi kebahagiaan. Walau kemarin, saat saya dan mamah ke pasar, seorang pedagang kudapan langganan berkata beberapa hari yang lalu banyak kucing yang mati karena kelaparan dan kedinginan.

Yang Ngangeni dari Semarang

Salah satu kekayaan budaya Indonesia adalah kulinernya yang khas. Di Semarang ada banyak sekali kuliner yang menggugah selera, dan dari sekian itu ada yang namanya tahu gimbal juga wingko babat. Tahu gimbal ini makanan yang ngangeni kata beberapa kawan saya yang sudah lama merantau kekota lain. Mereka ngga bisa makan tahu gimbal dikota tempat mereka kerja. Makanya kalau pas kebetulan pulang yang dicari ya tahu gimbal ini.

Tahu gimbal adalah makanan yang terdiri dari campuran rajangan kol, tahu goreng, telur dadar, bumbu kacang yang diuleg halus, tauge, lontong, gimbal (udang yang digoreng tepung), dan diberi topping remasan kerupuk. Nyaris sepiring tumpah. Biasanya pedagang tahu gimbal ini juga menjual minuman es campur dan es teler sebagai “kawan akrab” menu tahu gimbal.

Tahu gimbal lebih banyak dijajakan di kawasan sekitar Taman Menteri Supeno (depan SMAN 1 Semarang), didepan Masjid Raya Baiturrahman, Jl.Pahlawan, dan seputaran Simpanglima. Ngga melulu malam hari, kini makan tahu gimbal juga bisa dilakukan siang hari. Harga satu porsi berkisar Rp.9000,-. Cukup murah kalau buat dimakan sesekali. Tapi kabar yang pernah saya dengar, pengunjung dari luar kota harus lebih berhati-hati karena beberapa penjual makanan ini sering menaikkan harga dengan tiba-tiba.

Selain tahu gimbal, yang lekat dengan Semarang adalah wingko babat. Wingko babat terbuat dari kombinasi adonan kelapa dengan gula juga bahan lainnya dan kemudian dipanggang hingga sedikit gosong ditepiannya. Bentuknya ada yang bulat besar, ada juga yang bulat kecil. Sejarahnya, wingko ini bukan kuliner asli Semarangan. Memang wingko yang paling terkenal dibuat di Semarang. Ini pula menyebabkan banyak orang yang mengira bahwa wingko juga berasal dari kota ini. Meskipun demikian, wingko babat sebenarnya berasal dari Babat. Ini adalah daerah kecil di Lamongan, Jawa Timur. Babat terletak di dekat Bojonegoro, Jawa Timur. (http://id.wikipedia.org/wiki/Wingko)


Wingko babat bisa dibeli di kawasan oleh-oleh Pandanaran, di stasiun kereta api atau terminal bus. Salah satu home industri wingko babat yang saya tahu ada di tengah pemukiman padat penduduk di perumnas Banyumanik, Semarang. Kalau kebetulan ada kerabat dari luar Jawa Tengah yang berkunjung ke Semarang, maka saya selalu merekomendasikan tempat ini. Dipabrik ini dalam beberapa jam saja bisa menghabiskan 5 ember raksasa adonan. Disini pembeli bisa melihat langsung proses pembuatan wingko dan mencicipinya selagi hangat. Cocok untuk dijadikan buah tangan karena harganya cukup ramah dikantong. Satu kantung plastik yang berisi 20 bungkus wingko dihargai Rp.16.000,- saja.

Adonan wingko lagi diproses.. Ini adonan keberapa yang dibuat ya??

Wingko yang selagi hangat ini boleh dicicipi oleh pembeli.. *Gratis*